Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••
Nama Allah yang indah – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A. 19Mb
https://app.box.com/s/i9ktbdbsiem44mpq41rid8yyoh89iffj
Perusak Nama dan Sifat Allah _ Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc 4Mb28Mnit
https://app.box.com/s/oblvvoojtucg49pjqx7x7vlk539mgcug
Mengenal Sifat Berkehendak Allah – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc..webm
https://app.box.com/s/zr8p0zj42i7ukz24drel5e8rlfr85fwv
Sifat Mata dan Wajah Bagi Allah | Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA 18Mb
https://app.box.com/s/bgedst9nmzwgj8we8bhi76vjnfyqyq4q
Bahaya Jangan Pahami Sifat Allah Dengan 4 Cara Ini-Ust.Mizan Qudsiyah.mp3
https://app.box.com/s/v69rzombevdep6wz4gbrab5ewy59ljxe
Ahlussunnah mengimani sifat-sifat Allah – Ustadz Harits Abu Naufal 23Mb
https://app.box.com/s/trx4v9qi7c6gfn2a8dxs6afwxbtkai35
TAUHID ASMA WA SIFAT-Ustadz Umar Baladraf, M.Pd.I
https://bit.ly/2YqcGXe (17 mb
Sifat-sifat Allah Ta’ala dalam Beberapa Hadits-Ust.Sofyan Chalid Ruray 21Mb
https://app.box.com/s/7itbgebdnvir65s5o9e1mzkktlcx6mzb
Sifat Allah Tidak Sama Dengan Mahluknya | Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc, MA 17Mb
https://app.box.com/s/o1bxegakt1qppgns353sws77l1rrm6od

Fiqh Asma’ Husna-Ust Muhammad Romelan

Ust. Firanda Andirja – Pengenalan Tauhid Asma’ wa SifatBag1: Bag2

Ust.Firanda Andirja – Penjelasan Tauhid Al-Asma’ was Sifat

Silsilah Fiqh Asmaul Husna; Asy Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al ‘Abbad Al Badr Hafidzohullohuta’ala

Rekaman Kajian Fikih Asmaul HusnaKitab Fiqih Asmaul Husna Karya: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad_Bersama *Ustadz Afifi Abdul Wadud, BA*

Ustadz Afifi Abdul Wadud – Fiqh Asmaul Husna

Ustadz Abdullah Taslim – Fiqh Asmaul Husna

Fiqih Asmaul Husna Ustadz Wira Mandiri Bachrun

Memahami Nama Nama Dan Sifat Allah ( Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri MA)

Nama dan Sifat Allah-Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.
https://www.radiorodja.com/tag/nama-dan-sifat-allah/

Pondasi Tauhid Asma Wa Sifat-Ust.MizanQudsyiah

Ust.Firanda Andirja · Syubhat dalam Tauhid Asma’ wa Shifat dan Bantahannya

Tauhid Asma’ wa Shifat-Ust.Abdurrahman Thayyib

Kitab Shahih Bukhari (Bab Tauhid) Mengenal Sifat Sifat Allah-Ustadz Mizan Qudsiyah
https://eshaardhie.blogspot.com/2017/11/download-kumpulan-kajian-kitab-shahih-bukhari-bab-tauhid-ustadz-mizan-qudsiyah.html?m=1
=…
Ebook
Syarhus Sunnah: AKIDAH AL-MUZANI (Murid al-Imam asy-Syafii)-Abu Utsman Kharisman 362Hlm
https://pustakahudaya.files.wordpress.com/2015/03/buku-penjelasan-syarhus-sunnah-lil-muzani-ed-1-0.pdf

Kitab Fiqih Asmaul Husna Karya: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad

Mengenal Asma dan Shifat Allah-Syaikh Shalih bin ‘Abdil ‘Aziz as-Sindi hafizhahullahu
https://ibnumajjah.files.wordpress.com/2017/04/asma-wa-shifat.pdf

Al-Asmâ-Ul-Husnâ Dan Penyimpangan Terhadapnya

Kaidah-kaidah Utama tentang Asma` dan Sifat Allah
https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/id_fundamentals_assama_wassifat.pdf
=…

➡ Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==
➡ 17. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat Dan Manhaj Salaf Di Dalamnya

  • ➡ A. Makna Tauhid Asma’ Wa Sifat


.
✅ Yaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah RasulNya Shallallaahu alaihi wa Salam menurut apa yang pantas bagi Allah Subhannahu wa Ta’ala, tanpa ta’wil dan ta’thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syura: 11)
.
Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupaiNya, dan Dia menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat.
.
Maka Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya. Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui Allah daripada RasulNya.
.
Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.
.
✅ Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)
.

  • ➡ B. Manhaj salaf (para sahabat, tabi’in dan ulama pada kurun waktu yang diutamakan) dalam hal asma’ dan sifat allah.

.
✅ Yaitu mengimani dan menetapkannya sebagaimana ia datang tanpa tahrif (mengubah), ta’thil (menafikan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan), dan hal itu termasuk pengertian beriman kepada Allah.
.

‼ Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: “Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.
.
✅ Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur’an dan Al-Hadits.
.
‼ Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta’thil, takyif dan tamtsil. Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.
.
Maknanya sudah dimengerti, sebagaimana maksud orang yang berbicara juga dimengerti dari pembicaraannya. Apalagi jika yang berbicara itu adalah Rasulullah, manusia yang paling mengerti dengan apa yang dia katakan, yang paling fasih dalam menjelaskan ilmu, dan yang paling baik serta mengerti dalam menjelaskan atau memberi petunjuk. Dan sekali pun demikian tidaklah ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak dalam Diri (Dzat)Nya Yang Mahasuci yang disebut dalam asma’ dan sifatNya, juga tidak dalam perbuatanNya.
.
Sebagaimana yang kita yakini bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala mempunyai Dzat, juga af’al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar mempunyai sifat-sifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamaiNya, juga tidak dalam perbuatanNya. Setiap yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts maka Allah Subhannahu wa Ta’ala benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut.
.
Sesungguhnya Allah adalah yang memiliki kesempurnaan yang paripurna, tidak ada batas di atasNya. Dan mustahil baginya mengalami huduts, karena mustahil bagiNya sifat ‘adam (tidak ada); sebab huduts mengharuskan adanya sifat ‘adam sebelumnya, dan karena sesuatu yang baru pasti memerlukan muhdits (yang mengadakan), juga karena Allah bersifat wajibul wujud binafsihi (wajib ada dengan sendiriNya).
.
Madzhab salaf adalah antara ta’thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya.
.
Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disifatkan oleh RasulNya. .
‼ Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma’ husna dan sifat-sifatNya yang ‘ulya (luhur), dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma’ Allah dan ayat-ayatNya.

.

  • Keempat: Pendapat-Pendapat Golongan Sesat Tentang Sifat-Sifat Ini Beserta Bantahannya

.
✅ Golongan-golongan sesat seperti Jahmiyah, Mu’tazilah dan Asy’ariyah menyalahi AhlusSunnah wal Jama’ah dalam hal sifat-sifat Allah.
.
Mereka menafikan sifat-sifat Allah atau menafikan banyak sekali dari sifat-sifat itu atau men-ta’wil-kan nash-nash yang menetapkannya dengan ta’wil yang batil.
.
Syubhat (keraguan, kerancuan) mereka dalam hal ini adalah mereka mengira bahwa penetapan dalam sifat-sifat ini menimbulkan adanya tasybih (penyerupaan Allah dengan lainNya).
.
Oleh karena sifat-sifat ini juga terdapat pada makhluk maka penetapannya untuk Allah pun menimbulkan penyerupaanNya dengan makhluk. Karena itu harus dinafikan -menurut mereka- atau harus di-ta’wil-kan dari zhahir-nya, atau tafwidh (menyerahkan) makna-makna-nya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala. Demikianlah madzhab mereka dalam sifat-sifat Allah, dan inilah syubhat dan sikap mereka terhadap nash-nash yang ada.
.

  • Bantahan Terhadap Mereka

.
➡ 1. Sifat-sifat ini datang dan ditetapkan oleh nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mutawatir. Sedangkan kita diperintahkan mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu …” (Al-A’raf: 3)

.


✅ Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Ikutilah sunnahku dan sunnah para Khulafa’ Rasyidin se-sudahku.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih)

.
Dan Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; …” (Al-Hasyr: 7)
.

✅ Maka barangsiapa yang menafikannya berarti dia telah menafikan apa yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya, dan berarti pula dia telah menentang Allah dan RasulNya.
.
Sesungguhnya kaum salaf dari sahabat, tabi’in dan ulama pada masa-masa yang dimuliakan, semuanya menetapkan sifat-sifat ini dan mereka tidak berselisih sedikit pun di dalamnya..
.

✅ Imam Ibnul Qayyim berkata: “Manusia banyak berselisih pendapat dalam banyak hal tentang hukum, tetapi mereka tidak berselisih dalam memahami ayat-ayat sifat dan juga hadits-haditsnya, sekali pun itu hanya sekali. Bahkan para sahabat dan tabi’in telah bersepakat untuk iqrar (menetapkannya) dan imrar (membiarkan apa adanya) disertai dengan pemahaman makna-makna lafazh-nya bahwa hal tersebut telah dijelaskan dengan tuntas, dan bahwa menjelaskannya adalah hal yang teramat penting, karena ia termasuk penyempurnaan bagi perwujudan dua kalimah syahadah, dan penetapannya merupakan konsekuensi tauhid. Maka Allah dan RasulNya menjelaskan dengan jelas dan gamblang tanpa kesamaran dan keraguan yang bisa menimpa ahlul ilmi.
Sedangkan Rasulullah telah bersabda, “Kewajiban kalian adalah mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin.” Sedangkan penetapan sifat adalah termasuk hal tersebut.
.
➡ 2. Seandainya zhahir nash-nash tentang sifat-sifat itu bukan yang dimaksud, dan dia wajib di-ta’wil-nya (penyerahan makna kepada Allah), tentu Allah dan RasulNya telah berbicara kepada kita dengan khitab dan ucapan yang kita tidak paham maknanya. Dan tentu nash ini bersifat teka-teki atau kode-kode (sandi) yang tidak bisa kita pahami. Ini adalah mustahil bagi Allah, Allah Mahasuci dari yang demikian.
.
✅ Karena kalam Allah dan kalam RasulNya adalah ucapan yang sangat jelas, gamblang dan berisi petunjuk.
.
➡ 3. Menafikan sifat berarti menafikan wujud Allah, karena tidak ada dzat tanpa sifat, dan setiap yang wujud pasti mempunyai sifat. Mustahil dibayangkan ada wujud yang tidak mempunyai sifat. Sesungguhnya yang tidak mempunyai sifat hanyalah ma’dum (sesuatu yang tidak ada).
.

Maka barangsiapa yang menafikan sifat-sifat bagi Allah yang telah Dia tetapkan untuk diriNya, berarti ia telah mencampakkan sifat-sifat Allah, telah membangkang kepada Allah dan telah menyerupakan Allah dengan benda-benda yang tidak ada wujudnya, dan itu berarti pula dia telah mengingkari wujud Allah; sebagai keha-rusan dan konsekuensi dari ucapannya itu.
.
➡ 4. Kesamaan nama-nama Allah dan sifat-sifatNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya dalam bahasa tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan dalam hakikat atau kaifiyat. Allah memiliki sifat-sifat yang khusus dan sesuai dengan keagungan-Nya.
.

Makhluk mempunyai sifat-sifat khusus dan sesuai dengan kepantasannya pula. Ini tidak mengharuskan kesamaan atau penyerupaan.
.
✅ Bahkan antar makhluk pun tidak harus sama.Jika dikatakan, “Sesungguhnya ‘Arsy itu adalah sesuatu yang wujud” dan “sesungguhnya nyamuk itu sesuatu yang wujud”, ini tidak mengharuskan keduanya sama dalam “sesuatu dan wujud”, juga dalam hakikat dan kaifiyat. Jika hal ini terjadi antara makhluk dengan makhluk, maka antara Allah Al-Khaliq dengan makhlukNya adalah lebih utama untuk tidak sama.
.
➡ 5. Sebagaimana Allah mempunyai Dzat yang tidak diserupai oleh dzat makhluk, maka Dia juga mempunyai sifat-sifat yang tidak diserupai oleh sifat-sifat makhluk.
.
➡ 6. Sesungguhnya menetapkan sifat-sifat yang ada adalah kesempurnaan dan menafikannya adalah kekurangan. Sedangkan Allah Mahasuci dari sifat kekurangan. Maka wajiblah penetapan sifat-sifat itu.
.
➡ 7. Sesungguhnya dengan nama-nama dan sifat-sifat ini, para hamba dapat mengetahui Tuhannya dan mereka memohon kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dengan nama-nama itu. Mereka takut kepadaNya dan mengharap dariNya sesuai dengan kandungan nama-nama itu. Jika dinafikan dari Allah maka hilanglah makna-makna yang agung itu. Lalu dengan apa Dia dimintai dan dengan apa pula ber-tawassul kepadaNya?

.
➡ 8. Sesungguhnya hukum asal dalam nash-nash sifat adalah zhahir dan makna aslinya. Tidak boleh menyelewengkan dari zhahir-nya kecuali jika terpenuhi keempat syarat berikut ini:
.
✅ a. Menetapkan kemungkinan lafazh mengandung makna yang akan di-ta’wil-kan kepadanya.
.
✅ b. Menegakkan dalil yang memalingkan lafazh dari zhahir-nya kepada makna yang mungkin dikandungnya yakni makna yang menyalahi zhahir-nya.
.
✅ c. Menjawab dalil-dalil yang bertentangan dengan dalilnya tadi. Karena orang yang mengaku benar harus mempunyai bukti atas dakwaannya. Dia harus mempunyai jawaban yang benar terhadap dalil-dalil yang berlawanan dengannya. Dan tidaklah disebut memiliki dalil orang yang hanya mendakwakan ta’wil.
.
✅ d. Bahwasanya manakala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam berbicara dengan suatu pembicaraan jika beliau menginginkan arti yang bukan zhahir-nya, pasti beliau menjelaskan kepada umat bahwasanya beliau menginginkan majaz (arti kiasan) bukan hakikat atau arti sebenarnya. Ternyata ini tidak pernah terjadi pada nash-nash sifat ters
ebut
.

  • ➡ 19. Buah Tarbiyah Tauhid Asma’ Wa Sifat Pada Diri Individu Dan Masyarakat

.
✅ Sesungguhnya iman dengan asma’ dan sifat Allah sangatlah berpengaruh baik bagi perilaku individu maupun jamaah dalam mu’amalah-nya dengan Allah dan dengan makhluk.
.

××°°°×× Lanjut ke Halaman 2 ××°°°××