Dapat Rukuk, Dapat Rakaat
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Makmum mendapati imam sedang ruku’ – Ust.Askari

(Dalil mendapatkan satu raka’at, tata cararuku’, tata cara sujud, tata cara duduk di antaradua sujud Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ) -Ust.Abu IlyasBag1Bag2


Kitab Minhajus Saalikiin ( ﺩﺭﺱ ﻣﻨﻬﺞﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ) oleh Ustadz Abu Ilyas Hafidzahullah
https://archive.org/details/MinhajusSaalikiin
Bulughul Maram – Ust. Askari
https://archive.org/details/ilmoe.com-bulughul-maram
Tata Cara Sholat yang Benar Sesuai Sunnah LENGKAP-Bacaan Ketika Rukuk.mp4 7.5Mb
https://app.box.com/s/o1qcoygsqtw6j68zwh8m9jo7nf4w4k0p
Tata Cara Makmum Masbuq
https://app.box.com/s/l7xds0dm37kj5zgf2phztaglaa46v5jq
Tata Cara Sholat yang Benar Sesuai Sunnah LENGKAP- Rukuk Seperti Rasulullah.mp4
https://app.box.com/s/chat8k2bt332my4zuruqnml3xthnnvor
Baca_an Ruku dan Sujud Lengkap Beserta
Dalilnya-Ust Darul Palihin 9Mb
https://app.box.com/s/0ga8wm6gmb5rf06w00eb2zzujvgrv5vh
=…
Ebook
Tata Cara Shalat Nabi – Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (34Hlm)
https://archive.org/download/indun/indu47.pdf
Fiqih Shalat Lengkap-Ust.Abu Hafizhah Irfan.503Hlm
https://app.box.com/s/cpdtob3vkzinegmgerbb86lgzmm743th


Sudah Benarkah Shalat Kita (Bimbingan Praktis Shalat Wajib dan Sunnah)-Ust.Arif Fathul Ulum167Halaman


Tuntunan Thaharah dan Shalat-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah Bin Baaz dan Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin45 Hlm
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-19.pdf
Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat-Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin 42 Hlm
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-23.pdf
Petunjuk Lengkap Tentang Shalat-DR.Said bin Ali Al-Aqahthani 240Hlm
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-03.pdf
Buku Fiqh Bersuci dan Sholat SesuaiTuntunan Nabi-Abu Utsman Kharisman 515Hl
https://pustakahudaya.files.wordpress.com/2015/03/fiqh-bersuci-dan-sholat-sesuai-tuntunan-nabi-ed-1-0.pdf
MEMAHAMI MAKNA BACAAN SHOLAT (SEBUAH UPAYA MENIKMATI INDAHNYA DIALOG SUCI DENGAN ILAHI) Abu Utsman
Kharisman 348Hlm
https://pustakahudaya.files.wordpress.com/2015/03/buku-memahami-makna-bacaan-sholat-ed-1-0.pdf


Qaulul Mubin Fi Akhta ‘il Mushollin (Koreksi Atas Kekeliruan Praktek Ibadah Shalat – Syaikh Abu Ubaidah Masyhur 615 Halaman


Penjelasan Bergambar Sifat Shalat Nabi


Fathul Bari “Fath Al-Bari bi Syarh.Shahih Al-Bukhari” Kitab Tentang Shalat – Ibnu Hajar Al ‘Asqalani 320Halaman


Mencontohi Shalat Rasulullah – Ustadz Rasul bin Dahri 85Halaman


Sifat Shalat Nabi Edisi Lengkap Jilid 1 – Muhammad Nashirudin Al Albani 514Hlm


Sifat Shalat Nabi Edisi Lengkap Jilid 2 – Muhammad Nashirudin Al Albani 528Hlm


Sifat Shalat Nabi Edisi Lengkap Jilid 3 – Muhammad Nashirudin Al Albani 296Hlm


Sudah Benarkah Shalatku? Panduan Gerakan dan Bacaan Shalat Dari Al-Qur’an dan Hadits Shahih-Dr. H. Aam Amiruddin (290Hlm)
https://archive.org/download/indun/indu44.pdf

=…
➡ Dapat Rukuk, Dapat Rakaat
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==

  • Dapat Rukuk, Dapat Rakaat

.
Penulis :
.
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
_hafizhahullah_
.
✅ Diantara perkara fiqih kontemporer yang sering muncul kepermukaan adalah perkara dapat tidaknya seseorang satu rakaat, ketika ia menjumpai imam sholat dalam keadaan rukuk?!
.
‼ Dalam beberapa kesempatan ketika kami bertemu dengan sebagian ikhwah (saudara seiman), baik dalam majelis ilmu, maupun di luar, sebagian mereka bertanya tentang hal tersebut. Perkara ini semakin menguatkan kami untuk menurunkan tulisan ini.
.
Karenanya, kami katakan, bahwa barangsiapa yang mendapati imamnya dalam keadaan ruku’, maka ia telah mendapatkan raka’at tersebut, walau ia tak sempat baca Al-Fatihah.
.
Adapun apabila ia hanya mendapati imamnya telah bangkit dari ruku’-nya, maka ia tak mendapatkan raka’at itu.
.

‼ Disana terdapat beberapa hadits, dan atsar yang menguatkan apa yang kami nyatakan. Kami ambilkan dari kitab Al-Irwa’ di bawah (no.496), dan Ash-Shohihah (229).
.
Diantaranya :

  • Hadits Pertama


.

✅ Dari Al-Hasan -rahimahullah-,
.
عَنِ الْحَسَنِ: أَنَّ أَبَا بَكْرَةَ جَاءَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاكِعٌ , فَرَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ , فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ قَالَ: أَيُّكُمُ الَّذِيْ رَكَعَ دُوْنَ الصَّفِّ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّفِّ ؟ , فَقَالَ أَبُوْ بَكْرَةَ: أَنَا , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : زَادَكَ اللهُ حِرْصًا وَلاَ تَعُدْ
.
Bahwa Abu Bakroh pernah datang, sedang Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ruku’. Maka Abu Bakroh ruku’ sebelum (masuk) shaff. Kemudian beliau berjalan menuju shaff. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyelesaikan sholatnya, maka beliau bersabda, “Siapakah diantara kalian yang ruku’ sebelum shaff, lalu ia berjalan menuju shaff”. Abu Bakroh menjawab, “Saya“. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Semoga Allah memberimu tambahan semangat, jangan ulangi”.[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (683 & 684), Ahmad dalam Al-Musnad (20421, 20452, 20475, 20476, 20488, 20528), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2415, 4997, 4998, & 4999), dan selainnya. Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (230)]
.
✅ Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seorang yang datang terlambat, lalu ia menemui imam sedang ruku’, maka ia disunnahkan untuk ruku’ sambil berjalan di belakang shaff menuju shaff dalam keadaan tenang, tanpa terburu-buru. Dengan ini, ia dianggap telah mendapatkan satu raka’at, tanpa harus menambah.
.
‼ Perhatikan hadits ini, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bertanya, lalu dijawab oleh Abu Bakroh. Ini menunjukkan bahwa Abu Bakroh bukan masbuq yang harus menambah satu raka’at, sebab Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bertanya, dan langsung dijawab oleh Abu Bakroh.
.
Andai ia ketinggalan satu raka’at, maka ia tak akan menjawab pertanyaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  secara langsung, bahkan akan dijelaskan oleh rawi hadits bahwa Abu Bakroh menyelesaikan sholatnya dulu, lalu ia berkata demikian dan demikian dalam menjawab pertanyaan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
.
✅ Namun hal itu tak disebutkan dalam hadits ini sehingga kita tahu bahwa Abu Bakroh bukan masbuq yang ketinggalan satu raka’at. Alhamdulillah ala minnatih.
.

  • Hadits Kedua

.
✅ Atho’ -rahimahullah- mengatakan bahwa,
.
عن عَطَاءٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُوْلُ: إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوْعٌ فَلْيَرْكَعْ حِيْنَ يَدْخُلُ ثُمَّ يَدُبُّ رَاكِعًا حَتَّى يَدْخُلَ فِي الصَّفِّ فَإِنَّ ذَلِكَ السُّنَّةُ , قَالَ عَطَاءٌ : وَقَدْ رَأَيْتُهُ يَصْنَعُ ذَلِكَ , قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ : وَقَدْ رَأَيْتُ عَطَاءً يَصْنَعُ ذَلِكَ
.
Dia telah mendengar Abdullah bin Zubair berkata di atas mimbar, “Jika seorang di antara kalian masuk ke dalam masjid, sedang orang-orang ruku’, maka hendaknya ia ruku’ saat ia masuk, lalu berjalan dalam posisi ruku’ sampai ia masuk dalam shaff, karena sesungguhnya hal itu ternasuk sunnah“. Atho’ berkata, “Sungguh aku telah melihat dia (Abdullah bin Zubair) melakukan hal itu”. Ibnu Juraij berkata, “Sungguh aku telah melihat Atho’ melakukan hal itu”. [HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya (1571), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (7016), Al-Hakim Al-Mustadrok (777), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (5001)]
.

  • Hadits Ketiga

.
✅ Utsman bin Al-Aswad berkata,
.
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ اْلأَسْوَدِ قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَعَمْرُو بْنُ تَمِيْمٍ الْمَسْجِدَ, فَرَكَعَ اْلإِمَامُ فَرَكَعْتُ أَنَا وَهُوَ وَمَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى دَخَلْنَا الصَّفَّ, فَلَمَّا دَخَلْنَا الصَّفَّ قَالَ لِيْ عَمْرٌو : الَّذِيْ صَنَعْتَ آنِفًا مِمَّنْ سَمِعْتَهُ, قُلْتُ: مِنْ مُجَاهِدٍ , قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ فَعَلَهُ
.
Aku pernah masuk bersama Amr bin Tamim ke dalam masjid. Tiba-tiba imam ruku’. Maka aku pun dan dia ruku’, dan kami berjalan dalam keadaan berjalan ruku’ sehingga masuk ke shaff. Amer berkata kepadaku, “”Yang kamu lakukan tadi dari mana engkau dengar. Aku katakan, “Dari Mujahid”. Dia (Amer bin Tamim) berkata, “Aku sungguh telah melihat Abdullah bin Zubair pernah melakukannya”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2631)]
..

  • Hadits Keempat

.
✅ Katsir bin Abdil Muththolib dari Abdullah bin Zubair,
.
عَنِ ابْنِ الزُّبَيْرِ: أَنَّهُ عَلَّمَ النَّاسَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُوْلُ: لِيَرْكَعْ ثُمَّ لْيَمْشِ رَاكِعًا, وَإِنَّهُ رَأَى ابْنَ الزُّبَيْرِ يَفْعَلُهُ
.
Bahwa beliau mengajari manusia di atas mimbar seraya berkata, “Hendaknya seorang ruku’, lalu ia berjalan ruku'”.
Dia (Katsir) melihat beliau melakukannya”. [HR. Abdur Razzaq dalam Al-Mushonnaf (3383)]
.

  • Hadits Kelima

.
✅ Az-Zuhriy -rahimahullah- berkata,
.
عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ : كَانَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَالنَّاسُ رُكُوْعٌ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ, فَكَبَّرَ ثُمَّ رَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ
.
Dahulu Zaid bin Tsabit jika masuk masjid , sedang manusia ruku’, maka beliau menghadap kiblat, lalu bertakbir, ruku’, dan berjalan (menuju shaff), sedang beliau ruku’ sehingga beliau tiba ke shaff“. [HR. Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (3/91/no.2420)]
.

  • Hadits Keenam

.
✅ Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata,
.
أَنَّهُ رَأَى زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَاْلإِمَامُ رَاكِعٌ , فَمَشَى حَتَّى أَمْكَنَهُ أَنْ يَصِلَ الصَّفَّ وَهُوَ رَاكِعٌ , كَبَّرَ فَرَكَعَ ثُمَّ دَبَّ وَهُوَ رَاكِعٌ حَتَّى وَصَلَ الصَّفَّ
.
Bahwa ia pernah melihat Zaid bin Tsabit masuk ke dalam masjid , sedang imam ruku’. Maka beliau berjalan sehingga memungkinkan dirinya sampai ke shaff, sedang ia ruku’. Kemudian beliau ruku’ lalu berjalan, sedang beliau ruku’ sehingga beliau sampai ke shaff”. [HR. Al-Baihaqiy  dalam As-Sunan Al-Kubro (2586)]
.

✅ Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy Asy-Syafi’iy -rahimahullah- berkata saat mengomentari hadits di atas, dan hadits Abu Bakroh yang telah lewat di awal pembahasan,
.
“وَفِي ذَلِكَ دَلِيلٌ عَلَى إِدْرَاكِ الرَّكْعَةِ وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمَا تَكَلَّفُوهُ.” اهـ من السنن الكبرى للبيهقي (2/ 129)
.
Dalam hal itu terdapat dalil tentang didapatkannya satu raka’at (dengan mendapatkan ruku’nya imam, pen.). Andaikan tidak demikian, maka mereka tak mungkin akan memaksakan diri melakukan hal itu”. [Lihat Al-Baihaqiy dalam As-Sunan Al-Kubro (2/129)]
.

  • Hadits Ketujuh

.
Seorang yang tak mendapatkan imamnya ruku’, maka ia tak mendapatkan 1 raka’at. Tapi jika ia dapati imamnya dalam posisi ruku, lalu ia ruku’ bersama imam, maka ia akan mendapatkan  raka’at tersebut.
.
✅ Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
.
عَنْ عَبْدِ اللهِ يَعْنِيْ ابْنَ مَسْعُوْدٍ قَالَ : مَنْ لَمْ يُدْرِكِ اْلإِمَامَ رَاكِعًا لَمْ يُدْرِكْ تِلْكَ الرَّكْعَةَ
.
Barangsiapa yang tak mendapatkan imam sedang ruku’, maka ia tidak mendapatkan raka’at tersebut”. [HR. Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no.2411)]
.

  • Hadits Kedelapan

.
✅ Zaid bin Wahb -rahimahullah- berkata,
.
عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عَبْدِ اللهِ مِنْ دَارِهِ إِلَى الْمَسْجِدِ , فَلَمَّا تَوَسَّطْنَا الْمَسْجِدَ رَكَعَ اْلإِمَامُ, فَكَبَّرَ عَبْدُ اللهِ ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْتُ مَعَهُ ثُمَّ مَشَيْنَا رَاكِعَيْنِ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى الصَّفِّ حَتَّى رَفَعَ الْقَوْمُ رُؤُوْسَهُمْ, قَالَ: فَلَمَّا قَضَى اْلإِمَامُ الصَّلاَةَ قُمْتُ أَنَا, وَأَنَا أَرَى لَمْ أُدْرِكْ, فَأَخَذَ بِيَدِيْ عَبْدُ اللهِ, فَأَجْلَسَنِيْ وَقَالَ: إِنَّكَ قَدْ أَدْرَكْتَ
.
Aku pernah keluar bersama Abdullah (yakni, Ibnu Mas’ud) dari rumahnya menuju ke masjid. Tatkala kami berada di tengah masjid, maka imam ruku’. Abdullah bin Mas’ud pun bertakbir lalu ruku’. Aku juga ruku’ bersamanya, lalu kami berjalan sampai tiba ke shaff saat kaum (jama’ah sholat) mengangkat kepala mereka. Dia (Zaid bin Wahb) berkata, “Tatkala imam menyelesaikan sholatnya, maka aku berdiri –sedang saya memandang bahwa aku tak mendapatkan shalat (secara sempurna)-, maka Andullah bin Mas’ud menarik tanganku, lalu mendudukkan aku, seraya berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendapatkan sholat (secara sempurna)”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2622), Ath-Thohawiy (1/231-232), Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (9/271/no.9353), dan Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no.2418)]
.

  • Hadits Kesembilan

.
✅ Abdullah bin Umar -radhiyallahu ‘anhu- berkata,
.
أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ أَدْرَكَ اْلإِمَامَ رَاكِعًا فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ اْلإِمَامَ رَأْسَهُ, فَقَدْ أَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ
.
Barangsiapa yang mendapati imam dalam keadaan ruku’, lalu ia ruku’ sebelum imam mengangkat kepalanya, maka sungguh ia telah mendapatkan raka’at tersebut“. [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushonnaf (2520), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/90/no. 2413)]
.
✅ Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- berkata seusai membawakan beberapa hadits, dan atsar di atas,
.
“وهذه الآثار تدل على شيء آخر غير ما دل الحديث عليه، وهو أن من أدرك الركوع مع الإمام فقد أدرك الركعة.”
.
Atsar-atsar ini menunjukkan tentang perkara lain, selain yang ditunjukkan oleh hadits ini (Hadits Abdullah bin Az-Zubair) bahwa barangsiapa yang mendapati ruku’nya imam, maka sungguh ia telah mendapatkan raka’at”. [Lihat Ash-Shohihah (1/1/456)]
.
‼ Apa yang dinyatakan oleh Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- adalah pendapat yang terkuat berdasarkan atsar yang amat gamblang berikut ini:
.

  • Hadits Kesepuluh

.
✅ Dari Abdul Aziz bin Rofi’ dari seorang laki-laki (yakni, Abdullah bin Mughoffal Al-Muzaniy) -radhiyallahu ‘anhu- berkata, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda,
.
إِذَا وَجَدْتُمُوْهُ قَائِمًا أَوْ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا أَوْ جَالِسًا, فَافْعَلُوْا كَمَا تَجِدُوْنَهُ, وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسَّجْدَةِ إِذَا لَمْ تُدْرِكُوْا الرَّكْعَةَ
.
Jika kalian mendapati imam dalam keadaan berdiri atau ruku’, atau sujud, atau duduk, maka lakukanlah sebagaimana engkau mendapatinya. Janganlah engkau memperhitungkan sujudnya, jika engkau tak mendapati ruku’nya”.
[HR. Abdur Rozzaq dalam Al-Mushonnaf (2/281/no.3373), Al-Baihaqiy dalam Al-Kubro (2/296/no. 3434), dan Al-Marwaziy dalam Masa’il Ahmad wa Ishaq (1/127/1) sebagaimana dalam Ash-Shohihah (11
88)]
.

••__••__•• Lanjut ke Halaman 2 ••__••__••