Fenomena Pengucapan Salam Lintas Agama Dalam Sambutan di Acara Resmi
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Kitabul Jami’ Ust.Abdullah ZaenMakna Salam

Hukum dan Etika Mengucapkan Salam Bagian 1

Hukum dan Etika Mengucapkan Salam Bagian 2

Hukum Mengucap Salam Pada Non Muslim

Adab Mengucapkan Salam

Salam Kepada Ahli Maksiat dan Ahli Bidah

Salam Kepada yang Bukan Mahrom

Mengucapkan Salam dan Memperkenalkan Identitas Diri.mp3

Biasakan Anak Mengucapkan Salam.mp3

Mengajarkan Anak Untuk Mengucapkan Salam.mp3

Mengucapkan Salam Bagian Dari Islam-Ust.Abu Fairuz

=…
Ebook

Adab Mengucap Salam

=…
➡ Salam Islam Sudah Cukup bagi Muslim, Tidak Perlu Ucapkan Salam Agama Lain, ataupun Salam Netral dan sebagainya
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==

  • .
  • ➡ Salam Sejahtera Mengandung Syubhat?

.
✅ MUI Jawa Timur telah mengelurkan imbauan agar pejabat Muslim (beragama Islam) – dan juga umat Islam pada umumnya– tidak menggunakan salam agama lain. Cukup salam Islam, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
.
‼ Lalu ada yang usul, pakai salam yang netral saja. Misalnya salam sejahtera.
Tapi usulan itu perlu dikaji dulu.

.
Pertama, Islam itu sudah sempurna. Sedang salam itu termasuk doa, sedangkan doa itu ibadah. Maka ya cukup yang telah dituntunkan dalam Islam saja. Jadi Umat Islam cukup mengikuti aturan Islam, karena Islam itu agama haq (benar), dan sudah sempurna. Maka tidak perlu cari alternatif lain lagi.
.
Kedua, salam dalam Islam itu sudah baku, ada ajarannya, ada tatacaranya, Umat Islam tinggal mengikutinya. Dan meninggalkan apa2 yang tidak dituntunkan dalam Islam.
.
Ketiga, salam sejahtera, tampaknya netral. Namun, bagaimana kalau akan ada yang menduga-duga bahwa itu adalah terjemahan belaka dari salam Katolik, yakni “Shalom” yang berarti salam sejahtera.
.
‼ Bagi umat Islam, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Silakan simak berikut ini.
***
✅ Sangat dianjurkan untuk membaca salam secara sempurna, yaitu dengan mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuhu.” Hal ini berdasarkan hadits ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, ia berkata:
.
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ، فَرَدَّ عَلَيْهِ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَشْرٌ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ: عِشْرُوْنَ، ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ ( ثَلاَثُوْنَ ).
.
Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucapkan, ‘Assalaamu’alaikum.’ Maka dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sepuluh.’ Kemudian datang pula orang lain (yang kedua) memberi salam, ‘Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah.’ Setelah dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ia pun duduk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Dua puluh.’ Kemudian datang orang yang lain lagi (ketiga) dan mengucapkan salam: ‘Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakaatuh.’ Maka, dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian ia pun duduk dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tiga puluh.’” [HR. Al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no. 986, Abu Dawud no. 5195 dan at-Tirmidzi no. 2689 dan beliau menghasankannya]
.
Tidak dibenarkan mencukupkan salam hanya dengan isyarat (lambaian tangan) semata tanpa menyertainya dengan lafazh as-salaamu ‘alaikum, hal ini berdasarkan hadits dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
لاَ تُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَ الْيَهُوْدِ، فَإِنَّ تَسْلِيْمَهُمْ بِالرُّؤُوْسِ وَاْلأَكْفِ وَاْلإِشَارَةِ.
.
Janganlah kalian memberikan salam sebagaimana salamnya orang-orang Yahudi, karena sesungguhnya cara Yahudi memberi salam adalah dengan (anggukan) kepala dan lambaian tangan atau dengan isyarat (tertentu).”[HR. At-Tirmidzi no. 2695, dengan sanad hasan. Lihat Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah no. 2194
.
‼ Larangan tersebut dikhususkan bagi orang yang masih sanggup untuk mengucapkan lafazh salam dengan lisannya baik secara hissi maupun syar’i. Namun dibolehkan bagi mereka yang mempunyai kesibukan, sehingga mereka susah atau tercegah untuk menjawab salam, misalnya orang yang sedang shalat, atau orang yang terlihat jauh, atau orang bisu dan begitu pula bentuk salam bagi orang yang tuli.
.
✅ Tidak selayaknya memulai memberikan salam kepada orang kafir. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
.
لاَ تَبْدَؤُوا الْيَهُوْدَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ…
.
Janganlah kalian memulai memberikan salam kepada orang Yahudi dan Nasrani,…” [HR. Muslim no. 2167, at-Tirmidzi no. 2701 dan Abu Dawud no. 5205]
.

Adab-Adab Mengucapkan Salam


***
‼ Demikianlah. Islam sudah sempurna, dan terperinci aturan-aturannya. Oleh karena itu tidak memerlukan salam netral atau salam-salam lain. Cukup salam yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
.***
✅ Berikut ini sekadar untuk mengetahui jenis-jenis salam dari berbagai agama, yang masing-masing mengandung keyakinan berkaitan dengan ketuhanan sendiri-sendiri. Islam jelas aqidah (keyakinan)nya Tauhid, meng-Esakan Allah Ta’ala. Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Allah. Sedang agama lain, ketuhanannya jelas berbeda dengan Islam yang Tauhid itu.
Silakan simak.
***
Salam Umat Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, dan Konghucu.
.
➡ 1. Salam Umat Hindu

.
Salam yang diucapkan umat Hindu adalah “Om Swastyastu” yang berarti “Semoga anda dalam keadaan baik atas karunia Sang Hyang Widhi”.
.
‼ Salam ini bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hind
u .
.
➡ 2. Salam Umat Budha
.

Salam yang diucapkan umat Budha adalah “Sotthi hotu” yang berarti semoga kesejahteraan ada pada Anda sekalian .
.
➡ 3. Salam Umat Islam
.
Salam yang diucapkan oleh umat Islam adalah “Assalamualaikum” yang berarti semoga keselamatan terlimpah untukmu. Salam ini diucapkan ketika bertemu saudara muslim, atau berkunjung kerumah saudara muslim.
.
‼ Salam ini merupakan sebuah do’a dan menjadi Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘laihi wa sallam, Ketika kita saling memberi salam artinya kita saling mendo’akan sesama umat muslim dengan kebaikan berupa keselamatan dunia akhirat. rahmat dan juga segala bentuk keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
.

➡ 4. Salam Umat Kristen
.
Salam yang diucapkan umat Kristen adalah “Shalom Aleichem b’Shem Ha Mashiach” yang berarti Salam Sejahtera bagimu dalam nama Kristus.
.
➡ 5. Salam Umat Katholik
.

Salam yang diucapkan umat katholik adalah “Shalom” yang berarti salam sejahtera .

.
➡ 6. Salam Umat Konghucu
.
Salam yang diucapkan umat Konghucu adalah “Wei De Dong Tian” yang berarti “Hanya kebajikan Tuhan berkenan “.
***
‼ Demikianlah, semoga umat Islam memurnikan aqidah Tauhidnya, dan jangan sampai tercampur sama sekali dengan kesyirikan ataupun kekafiran. Maka imbauan MUI Jatim agar Umat Islam tidak menggunakan salam selain salam Islam itu sudah tepat. Sesuai dengan ayat:
.
لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ [ الـكافرون:6]
.

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. [Al Kafirun:6]
.
✅ Tafsirnya:
.
{لَكُمْ دِينُكُمْ} لكم شرككم {وَلِيَ دِينِ} ولي توحيدي.
أوضح التفاسير (1/ 764)
.
Untuk kalian agama kalian, artinya bagi kalian kemusyrikan kalian, dan untukkulah agamaku, yakni untukkulah tauhidku. (Audhahut Tafasir 1/764/ Maktabah Syamilah)

.
Kerena imbauan MUI Jatim itu memang sudah tepat sesuai dengan ayat Al-Qur’an, maka ternyata imbauan agar Umat Islam tidak pakai salam agama-agama lain itu juga didukung oleh Tokoh MUI Pusat serta lembaga-lembaga Islam lainnya. Semoga itu bermanfaat bagi Umat Islam yang memang wajib menjaga kemurian aqidah Tauhidnya dari berbagai kotoran aqidah.
.
➡ Ini Imbauan MUI Jatim Soal Pejabat Tak Gunakan Salam Pembuka Semua Agama

TAUSHIYAH MUI PROVINSI JAWA TIMUR TERKAIT DENGAN FENOMENA PENGUCAPAN SALAM LINTAS AGAMA DALAM SAMBUTAN-SAMBUTAN DI ACARA RESMI

.
Bahwa akhir-akhir ini berkembang kebiasaan, seseorang dalam membuka sambutan atau pidato di acara-acara resmi sering kali menyampaikan salam atau kalimat pembuka dari semua agama. Hal ini muncul dilandasi motivasi untuk meningkatkan kerukunan hidup antar umat beragama agar terjalin lebih harmonis sehingga dapat memperkokoh kesatuan bangsa dan keutuhan NKRI. Namun demikian, mengingat bahwa ucapan salam mempunyai keterkaitan dengan ajaran yang bersifat ibadah, maka Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur merujuk pada rekomendasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI 11-13 Oktober 2019 di Nusa Tenggara Barat, perlu menyampaikan taushiyah dan pokok-pokok pikiran sebagai berikut:
.

➡ 1. Bahwa agama adalah sistem keyakinan yang didalamnya mengandung ajaran yang berkaitan dengan masalah aqidah dan sistem peribadatan yang bersifat eksklusif bagi pemeluknya, sehingga meniscayakan adanya perbedaan-perebedaan antara agama satu dengan agama yang lain.
.
➡ 2. Dalam kehidupan bersama di suatu masyarakat majemuk, lebih-lebih Indonesia yang mempunyai semboyan Bhinneka tunggal ika, adanya perbedaan-perbedaan menuntut adanya toleransi dalam menyikapi perbedaan.
.
➡ 3 . Dalam mengimplementasikan toleransi antar umat beragama, perlu ada kriteria dan batasannya agar tidak merusak kemurnian ajaran agama. Prinsip tolerasi pada dasarnya bukan menggabungkan, menyeragamkan atau menyamakan yang berbeda, tetapi toleransi adalah kesiapan menerima adanya perbedaan dengan cara bersedia untuk hidup bersama di masyarakat dengan prinsip menghormati masing-masing fihak yang berbeda.
.

➡ 4. Islam pada dasarnya sangat menjunjung tinggi prinsip toleransi, yang antara lain diwujudkan dalam ajaran tidak ada paksaan dalam agama (QS. al-Baqarah [2]: 256); prinsip tidak mencampur aduk ajaran agama
dalam konsep “Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku sendiri” (QS. al-Kafirun [109]: 6), prinsip kebolehan berinteraksi dan berbuat baik dalam lingkup muamalah (QS. al-Mumtahanah [60]: 8), dan prinsip berlaku adil kepada siapap un (QS. al-Ma’idah [8]: 8)
.
➡ 5. Jika dicermati, salam adalah ungkapan do’a yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu. Sebagai contoh, salam umat Islam, “Assalaamu’alaikum” yang artinya “semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian”. Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Ta’ala, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia.
.
✅ Salam umat Budha, “Namo buddaya artinya terpujilah Sang Budha, satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama.
.
Ungkapan pembuka dari agama Hindu, “Om swasti astu” Om, adalah panggilan umat Hindu khususnya di Bali kepada Tuhan yang mereka yakini yaitu “Sang Yang Widhi”. Om”seruan ini untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan yang tidak lain dalam keyakinan Hindu adalah Sang Yang Widhi tersebut. Lalu kata swasti, dari kata su yang artinya baik, dan asti artinya bahagia. Sedangkan Astu artinya semoga. Dengan demikian ungkapan Om swasti astu kurang lebih artinya, “semoga Sang Yang Widhi mencurahkan kebaikan dan kebahagiaan”.
.
➡ 6. Bahwa doa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bahkan di dalam Islam doa adalah inti dari ibadah. Pengucapan salam pembuka menurut Islam bukan sekedar basa basi tetapi do’a.
.
➡ 7. Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bid’ah yang tidak pernah ada di masa yang lalu, minimal mengandung nilai syubhat yang patut dihindari..
➡ 8. Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur menyerukan kepada umat Islam khususnya dan kepada pemangku kebijakan agar dalam persoalan salam pembuka dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Untuk umat Islam cukup mengucapkan kalimat, “Assalaamu’alaikum. Warahmatullahi Wabarakatuh.” Dengan demikian bagi umat Islam akan dapat terhindar dari perbuatan syubhat yang dapat merusak kemurnian dari agama yang dianutnya.
Demikian taushiyah atau pokok-pokok pikiran dari MUI Provinsi Jawa Timur.

=…

••__••__ Lanjut ke Halaman 2 ••__••__