Fitnah Ghuluw Terhadap Orang Shalih dan Darimana Kamu Mengambil Ilmu Agama

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Fitnah Ghuluw-Ust.Mizan Qudsiyah
https://app.box.com/s/6jpu6mco26qfp17i0f8229aqs6j2i4rv
Ghuluw Terhadap Orang Shalih Oleh Ust Hanif Muslim
https://radiomuslim.com/download/8224/
Ustadz Arifin Ridin – Mengapa Aku Bangga Bermanhaj Salaf 27Mb
https://app.box.com/s/k8ka3g6cu4cqdku14a451hfw60o1kxpr
Ustadz Arifin Ridin – Berpegang Teguh Kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan Pemahaman Salafusshalih50Mb
https://drive.google.com/file/d/1-Uyw3LQSOlN8lCzUxDqXWEgiOQGSmgTK/view?usp=drivesdk
Prinsip-Prinsip Manhaj Salaf – Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi 41Mb
https://drive.google.com/file/d/1f6SLlB9WqTPR4vtSuxniRGzfZQB4znzW/view?usp=drivesdk
Jangan Menuhankan Guru-Ustadz Sofyan Chalid Idham Ruray
https://app.box.com/s/cbd9a3lbwscvuibdav9o3rddiwuldf2l
LIHAT KEPADA SIAPA MENGAMBIL ILMU USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS
https://app.box.com/s/heq2fv8z0wxr9g7oqb6e6hvw0xn9pw2z
Darimana Kamu Mengambil Ilmu Ustadz MizanQudsyiah,Lc,MA.webm
https://app.box.com/s/cdh3qh6y2xviqvqqbc0z27vfpfs57ou8
=…


Bahaya.Sikap Berlebihan [Ustadz Hasan al-Jaizy]


Melampaui Batas dalam Menyikapi Para Ulma dan Orang Sholeh – Ustadz Thantawi Abu Muhammad 21Mb
https://app.box.com/s/jr6blmcw00ygvl30kw987lqe4y2ssygy
Ghuluw Terhadap Orang Shalih
https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_sounds/single/id_algolo_fi_alsaleheen.mp3


Bahaya Ghuluw dan Mengkultuskan Individu-Ust.Abu Haidar.As Sundawy


Penyebab Utama Kekafiran Adalah GhuluwTerhadap Orang Shaleh-Ustadz Abu Haidar As- SundawyBag1: Bag2Bag3  Bag4


Diantara Sebab Kekufuran Bani Adam Dan Meninggalkan Agama Adalah Ghuluw Terhadap Orang Shalih – Ustadz Usamah Faishol Mahri


Sebab-Sebab.Kekufuran bani adam adalah Ghuluw Terhadap Orang-orang Sholeh-Ust.Abul Hasan


Bahayanya Sifat Ghuluw dalam.Beragama-Ust.Fauzi Athar


==
Hukum Ghuluw Terhadap Orang Shalih
https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_rule_of_exaggeration_in_the_righteous.pdf
Ghuluw (Melampaui Batas)
https://www.box.com/s/10009e03b4bfd0866a1d
Taklid Buta
https://www.box.com/s/e89997c97f9092f5f9ea
Prinsip-Prinsip Mengkaji Ilmu Syar’i
https://www.box.com/s/66d0df41b03435d50c62
Mengikuti Ulama’
https://www.box.com/s/e56c8eea5b0f7612c690
Menuntut Ilmu Syar’i
https://www.box.com/s/a9ef1724d376f0b28b22
=.

Ghuluw (Melampaui Batas)
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==
Berikut ini adalah syarah (penjelasan) atas tanya jawab dalam sebuah kajian Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-. Dan penjelasan ini banyak mengambil faedah dari buku-buku karya beliau -hafizhahullaah-.
.
➡ [1]- USTADZ YAZID -hafizhahullaah- BERKATA:
.
Ini ada pertanyaan -pertanyaannya ghuluw- tapi saya harus jawab. Antum dengarkan:
Ustadz, mohon nasehat: siapa yang harus kita ikuti setelah antum dan Ustadz ‘Abdul Hakim?”

Ini pertanyaan ghuluw, berlebih-lebihan. Banyak da’i. Antum tidak perlu kepada saya atau Ustadz ‘Abdul Hakim. Kita manusia biasa; kadang benar kadang salah. Yang diikuti siapa? Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam
-.
.

  • PENJELASAN:

.
* Ghuluw artinya melampaui batas.
Dikatakan:
غَلَا يَغْلُوْ غُلُوًّا
‼ Jika ia melampaui bata
s.
.
✅ Allah berfirman:
.
{…لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ…}
.
“…Janganlah kamu ghuluw (melampaui batas) dalam agamamu…” (QS. An-Nisaa’: 171)
.
Ghuluw tidak diperbolehkan baik dalam: ‘aqidah, ibadah, amalan, maupun pujian. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sendiri pernah melarang dari berlebih-lebihan dalam memuji beliau. Beliau bersabda:
.
لَا تُطْرُوْنِيْ كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَـمَ، فَإِنَّـمَا أَنَا عَبْدٌ؛ فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ
.
Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku; sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan dalam memuji (‘Isa) bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba; maka katakanlah: ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya (Utusan Allah).” [HR. Al-Bukhari (no. 3445), dan lainnya]
Lihat: “SYARAH ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH” (hlm. 267-271 -cet. XV) dan “MULIA DENGAN MANHAJ SALAF” (hlm. 241-242- cet. XII), keduanya karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-.
.

✅ * Dalam teks pertanyaan terdapat bentuk ghuluw, yaitu menempatkan Ustadz Yazid dan Ustadz ‘Abdul Hakim -hafizhahumallaah- sebagai orang yang harus diikuti. Maka ini tidak benar. Karena yang harus diikuti hanyalah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i -rahimahullaah-:
.
لِأَنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ لِآدَمِيٍّ بَعْدَهُ مَا جَعَلَ لَهُ، بَلْ فَرَضَ عَلَى خَلْقِهِ اتِّبَاعَهُ، فَأَلْزَمَهُمْ أَمْرَهُ، فَالْخَلْقُ كُلُّهُمْ لَهُ تَبَعٌ
.
Karena Allah tidak menjadikan bagi seorang manusia pun setelah beliau (Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) kekhususan yang Dia berikan atas beliau. Bahkan Allah wajibkan atas seluruh makhluk-Nya untuk ittibaa’ (mengikuti) beliau. Maka Allah haruskan atas mereka untuk menta’ati perintah beliau, dan seluruh makhluk adalah pengikut beliau.” [“Ar-Risaalah” (no. 326)]
.

‼ Sebagaimana kaum muslimin juga bisa bersikap ghuluw terhadap Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- jika menganggap bahwa beliau memiliki sifat “ilaahiyyah” (hak untuk disembah), seperti yang diyakini oleh orang-orang Nasrani terhadap Nabi ‘Isa -‘alaihis salaam-.
.
✅ * Jadi, sekali lagi: kewajiban kita adalah mengikuti dalil. Adapun ulama -setinggi apa pun tingkat keilmuannya- maka bisa benar dan bisa juga salah. Imam Malik bin Anas -rahimahullaah- berkata:
.
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوْا فِيْ رَأْيِيْ، فَكُلَّمَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْا بِهِ، وَكُلَّمَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْرُكُوهُ
.
Sesungguhnya aku hanya seorang manusia biasa, terkadang aku benar dan terkadang salah. Maka lihatlah pendapatku, setiap pendapatku yang sesaui dengan Al-Kitab dan As-Sunnah; maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah; maka tinggalkanlah.” [“Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadhlihi” (I/775, no. 1435 & 1436), karya Imam Ibnu ‘Abdil Barr -rahimahullaah-]
Lihat perkataan yang semisal ini dari para ulama lain: di buku “SIFAT WUDHU & SHALAT NABI -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-“ (hlm. 14-15 -cet. V), karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-.
.
➡ [2]- USTADZ YAZID -hafizhahullaah- BERKATA:
.
Ustadz-ustadz yang lain banyak yang antum bisa belajar, selama mereka berpegang kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah ‘Alaa Fahmis Salaf.
.
PENJELASAN:
.
✅ * Beliau ditanya tentang “SIAPA” yang harus diambil ilmunya, tapi beliau jawab dengan “APA”; yakni: sifat-sifat dari da’i yang bisa diambil ilmunya, yaitu yang berpegang kepada Al-Qur-an dan As-Sunnah dengan mengikuti pemahaman Salaf.
.
‼ Ini seperti jawaban Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam hadits “Iftiraaqul Ummah” (Perpecahan Umat Islam) ketika ditanya tentang “SIAPA” golongan yang selamat? Tapi beliau menjawab dengan “APA”; yakni: sifat dari golongan yang selamat. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Asy-Syathibi -rahimahullaah-:
”(Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) mengisyaratkan tentang ”Al-Firqah An-Naajiyah” (Golongan Yang Selamat) ketika beliau ditanya tentangnya,…maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan dengan sabda beliau:
.
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ
.
“Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.”

.
✅ Hal itu sebagai jawaban atas pertanyaan para Shahabat ketika bertanya kepada beliau: “SIAPA golongan (yang selamat) tersebut wahai Rasulullah?”. Maka beliau menjawab bahwa ”Al-Firqah An-Naajiyah” (Golongan Yang Selamat) adalah yang BERSIFAT dengan sifat beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan sifat para Shahabat beliau...” [”Al-I’tishaam” (III/275-276 -tahqiiq Syaikh Masyhur)]
.
* Dan di dalam bukunya ”MULIA DENGAN MANHAJ SALAF” (hlm. 255-264- cet. IX); Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah- telah mengisyaratkan: siapakah Ustadz-Ustadz yang Salafi (yang berjalan di atas Manhaj Salaf) yang bisa diambil ilmunya. Beliau berkata:
.
✅ “Sifat-Sifat Yang Dengannya Seorang Muslim Berhak Dikatakan Sebagai Salafi:
.

✅ 1. Berhukum dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah dalam semua sisi kehidupannya…
.
✅ 2. Berpegang pada penjelasan dari para Shahabat tentang setiap permasalahan agama secara umum, dan lebih khusus lagi mengambil penjelasan mereka dalam masalah ‘Aqidah dan Manhaj…
.
✅ 3. Tidak memperdalam masalah yang tidak dapat dinalar oleh akal…
.
✅ 4. Memperhatikan Tauhid Uluhiyyah…
.
✅ 5. Tidak berdebat dan tidak bermajlis dengan Ahlul Bid’ah, tidak mendengarkan perkataan mereka, dan tidak menyampaikan syubhat-syubhat mereka. Ini adalah jalan para Salafush Shalih…
.
✅ 6. Bersemangat dan bersungguh-sungguh menyatu-kan jama’ah dan kalimat kaum muslimin di atas Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf…
.
✅ 7. Menghidupkan Sunnah-Sunnah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam ibadah, akhlak, dan semua sisi kehidupan; sehingga mereka menjadi orang-orang yang terasing di tengah-tengah kaumnya…
.
✅ 8. Tidak fanatik melainkan kepada firman Allah dan sabda Rasul-Nya -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang tidak berkata dari hawa nafsunya…
.
✅ 9. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar…
.
✅ 10. Membantah setiap orang yang menyelisihi Manhaj Salaf: baik Muslim maupun kafir, setinggi dan serendah apa pun kedudukannya, baik menyelisihinya dengan sengaja maupun karena kesalahan, dan hal itu tidak termasuk menjelekkan dan menganggap rendah; tetapi termasuk nasihat dan kasih sayang terhadap orang yang dibantah…
.
✅ 11. Membedakan antara kesalahan yang berasal dari ulama-ulama Islam yang mendasari dakwahnya yang dimulai di atas Manhaj Ahlus Sunnah; sehingga kesalahannya itu termasuk dalam ijtihad -yang diberikan satu ganjaran, sedang kesalahannya ditolak-, dengan kesalahan-kesalahan para da’i penyeru Bid’ah; dari orang-orang yang mendasari dakwah mereka yang tidak dimulai dari Manhaj Ahlus Sunnah; sehingga kesalahan mereka terhitung Bid’ah.
.
✅ 12. “Taqarrub” (mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara mentaati orang yang yang telah dijadikan Allah -Ta’aalaa- sebagai ulil amri (pemimpin) bagi kita, tidak memberontak kepada mereka, mendo’akan mereka dengan kebaikan dan keselamatan, dengan tetap menasihatinya secara jujur.
.
✅ 13. Hikmah dalam berdakwah mengajak kepada Allah…
.
✅ 14. Memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu yang bersumber dari Al-Qur-an, As-Sunnah, dan atsar Salaful Ummah, serta mengamalkannya, dan meyakini bahwa umat ini tidak akan menjadi baik kecuali jika mereka memperhatikan ilmu dan amal shalih.
.
✅ 15. Bersemangat melakukan Tashfiyah (pemurnian) dalam setiap bidang agama dan Tarbiyah (mendidik) generasi di atas ajaran yang telah dibersihkan tersebut
.”
.
➡ [3]- USTADZ YAZID -hafizhahullaah- BERKATA:
.

Tadi saya bawakan perkatan Muhammad bin Sirin:
.
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
.
[“Ilmu ini adalah agama; maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”]

.
PENJELASAN:
.
✅ Di antara yang Ustadz Yazid -hafizhahullaah- tekankan dalam adab mencari guru adalah: kejelasan Manhaj dan ‘Aqidah-nya. Seperti yang beliau katakan dalam kajian “Panduan Menuntut Ilmu”:
.
‼ “Sehingga bagi kita: kalau ada ustadz yang jelas -‘aqidah & manhajnya- dan jelas pula kitab yang dikajinya; maka jangan lihat jauhnya jarak perjalanan untuk menuntut ilmu darinya. Yang penting jelas (ustadz & kitabnya), karena menuntut ilmu harus jelas.
.
✅ Tidak seperti sekarang: lihat di Youtube ada yang bagus; langsung dipanggil (untuk ceramah). Semestinya harus tahu dulu: manhaj dan ‘aqidahnya. Kalau tidak demikian; maka tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu.
Walaupaun jauh, kalau jelas; maka datangi. Para ulama dulu: punya istri dan banyak anak; maka mereka tinggalkan untuk menuntut ilmu -sampai berbulan-bulan-.”
.

➡ [4]- USTADZ YAZID -hafizhahullaah- BERKATA:

✅ Antum jangan ghuluw.
Ini makanya ada sebagian orang menuduh antum yang ngaji sama saya, sama Ustadz [‘Abdul] Hakim: “ta’asshub”, fanatik, tidak mau terima dari yang lain. Padahal saya tidak pernah mengajarkan demikian, tidak. Yang saya bawakan dalil Qur-an – Sunnah, Qur-an – Sunnah, itu yang saya bawakan. Yang antum bisa ngaji kepada orang lain selama yang disampaikan itu juga dalil Qur-an Sunnah.
Tapi antum nggak boleh: kalau nggak dari Ustadz Yazid, Ustadz [‘Abdul] Hakim: nggak mau terima. Nggak boleh. Antum kembali lagi kepada Ahlul Bid’ah lagi, kepada Hizbi lagi. Terima dari siapa aja, selama itu dalil dari Qur-an dan Sun
nah.
.
PENJELASAN:
.
‼ * Di antara perkara yang disyari’atkan adalah: menghindari “Syamaatatul A’daa’” (musuh merasa senangdengan musibah yang menimpa kita).
Di antara dalilnya:

.
✅ (1)- Dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata:
.
كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ سُوءِ الْقَضَاءِ، وَمِنْ دَرَكِ الشَّقَاءِ، وَمِنْ شَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ، وَمِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ
.

Rasulullaah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- biasa berlindung dari: … “Syamaatatul A’daa’.
” [Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 6347) & Muslim (no. 2707)]

.

Imam Ibnul Atsir -rahimahullaah- berkata:
““Syamaatatul A’daa’” yaitu: kesenangan musuh dengan musibah yang menimpa (kita).” [“An-Nihaayah Fii Ghariibil Hadiits Wal Atsar” (hlm. 491- cet. Daar Ibnil Jauz
i)]

.
✅ (2)- Firman Allah tentang perkataan Nabi Harun kepada Nabi Musa -‘alaihimas salaam-, ketika Musa marah kepadanya sambil menarik kepalanya-:
.
{…فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ…}
.
“…janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku…” (QS. Al-A’raaf: 150
)
.
Imam Al-Qurthubi -rahimahullaah- berkata
“Yakni: Jangan membuat mereka (musuh) senang.
Syamaatah” maknanya: senang dengan musibah yang menimpa saudaramu, baik musibah dalam urusan agama maupun dunia.” [“Al-Jaami’ Li Ahkaamil Qur-aan” (IX/343- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah)]
.

✅ * Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah- mengingatkan jama’ah kajian beliau agar jangan sampai membuat musuh-musuh dakwah senang dengan ketergelinciran sebagian ikhwan dalam lafazh perkataan yang mengarah kepada fanatik dan seolah-olah tidak menerima dari ustadz yang lain. Maka beliau melakukan Saddu Dzarii’ah (menutup jalan yang bisa mengantarkan kepada kejelekan), menutup jalan yang bisa mengantarkan kepada “Syamaatatul A’daa’”.

.

••×ו•×× Lanjut ke Halaman 2 •••×ו•××