Keutamaan Orang-Orang yang Senantiasa Menjaga dirinya dari Segala Dosa
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Syukur Ibadah yang Agung-Ust.Firanda Andirja.webm
https://app.box.com/s/etem8f9720sgwfc2rh652yfna6upb96y
MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGA BAGIAN 3 | USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS (24Mb)
https://app.box.com/s/ndenms4oo8eoc5m9vwev6hp7l2rbv5hj
7 Akibat Memakan Harta yang Haram-Ust.Sufyan Bafin Zen (24Mb)
https://app.box.com/s/bise18mumx8dqs8ilum8h6p23ie7avkz
Nasehat Untuk Penuntut Ilmu – Ustadz Dr. Fauzi Basulthona, Lc.,(29Mb)
https://app.box.com/s/mdfghk5enuckul3y6g6akxbxyd44rnc7
MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGA BAGIAN 2 | USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS (17Mb)
https://app.box.com/s/ot85f6swi7eoo5gq8xo7zbf4dmv3yr09
Harus Ingat Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA (28Mb)
https://app.box.com/s/5kmb4zmdkcgp2song7e8ufvn4ozbw2gf
Pembendaharaan Allah Yang sangat Mahal Adalah Surga-Nya – Ustadz Farhan Abu Furaihan (23Mb)
https://app.box.com/s/f02wn5qij36imabswz279q7b2vuln43z
Pentingnya Menjaga Amanah-Ustadz Bambang Abu Ubaidillah hafizhahullah
https://drive.google.com/file/d/18KRhqSSbBGjhpa4e255vUyi-I8zZcrBF/view?usp=drivesdk


Melepas Jeratan dari Dosa Tersembunyi(Ustadz Fariq Gasim Anuz)


Ya Allah, Lepaskan Aku dari Dosa (UstadzAhmad Zainuddin, Lc.)


Prioritas Meninggalkan Dosa, dan PengaruhMeninggalkan Kemaksiatan – Kitab Fawaidul Fawaid (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)


Senantiasa Kembali Kepada Allah dan Mengosongkan Hati dari Segala Kotoran…Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr


Melawan Hawa Nafsu dan Meninggalkan Sebab- Sebabnya Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr


Sebab Sebab Kelembutan Hati UstadzDzulqarnain Bag1: Bag2Bag3


Tanda Sempurnanya Iman-Ust.Abdullah Taslim

=…
➡ Keutamaan orang-orang yang senantiasa menjaga dirinya dari segala dosa
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==
➡ Keutamaan orang-orang yang senantiasa menjaga dirinya dari segala dosa
.
✅ Hal ini berangkat dari pertanyaan: “Mana yang utama: orang yang mengerjakan seluruh kewajiban plus banyak amalan naafilah, tapi mencampurnya dengan kemaksiatan? Ataukah orang yang mengamalkan seluruh kewajiban (dengan hanya sedikit amalan naafilah), tapi menjauhi seluruh dosa?”
.

‼ Dijawab: “Yang paling utama dari mereka adalah yang paling jauh dari maksiat (meskipun mereka hanya melakukan ketaatan yang wajib-wajib saja). Karena mereka menjaga diri mereka dari kotoran-kotoran hati. Maka ketika mereka mengerjakan hal-hal yang waajib, pahala mereka berlipat ganda karena dilaksanakan dengan kebersihan hati. Amalan mereka sederhana, tapi pahala mereka melampaui orang-orang yang bersemangat dalam naafilah (tapi mencampurkan amalannya dengan berbagai maksiat)
.
✅ Adapun orang-orang yang mengerjakan banyak amalan naafilah disamping amalan waajib; tapi masih mencampurkan amalannya dengan maksiat… Maka ada beberapa kekhawatiran:
.
➡ (1) Maksiatnya ini mempengaruhi kualitas ketaatannya, sehingga meskipun kuantitasnya banyak, tapi pahalanya sedikit karena kotornya hati ketika mengerjakan ketaatan tersebut (tidak ada khusyu didalamnya)
.
➡ (2) Bahkan… Bisa jadi maksiatnya ini (apabila telah akut)[1] malah mengantarkannya kepada peninggalan ketaatan, bahkan meninggalkan yang wajib-wajib! Atau bahkan yang paling dikhawatirkan bisa jadi ini menjadi langkah awal keluarnya dia dari agama ini! (Na’uudzubillaah)
.
➡ (3) Kekhawatiran lainnya adalah penunaian ketaatannya tersebut hanya kamuflase semata… Itu semua dikerjakannya bukan untuk Allaah; tapi untuk berhias dihadapan manusia. Mengapa bisa begitu? Kalaulah ketaatannya tersebut adalah karenaNya, maka tentulah di kala sendiri pun ia akan menghiasi dirinya dengan ketaatan dan tidak memaksiatiNya.

.
✅ Maka hendaknya kita khawatir dengan penunaian maksiat-maksiat kita… Jangan sampai kita memandang remeh untuk memaksiati Allaah, karena silau dengan banyaknya ketaatan kita…
.
‼ Sungguh Allaah tidak butuh dengan ketaatan kita… Kitalah yang butuh rahmatNya! Dan rahmat Allaah itu dekat bagi mereka yang menahan hawa nafsunya dihadapan Rabb yang tidak dilihatnya…
.
※ Semoga Allaah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang jujur dalam ketaatan… Yang tidak malah berlaku khianat ketika malah bersendirian denganNya[2]… Aamiin
.
Catatan Kaki
.
➡ [1] Jangan anggap remeh penyakit akut akan ketagihan bermaksiat. Karena Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
.
أَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: الضَّعِيفُ الذي لا زَبْرَ لَهُ
.
Penghuni neraka ada 5 macam, yang pertama adalah orang lemah yang tidak memiliki zubraa (keinginan keras untuk taat pada agama)… ” (HR. Muslim 2865).
.

✅ Ali Al Qari menjelaskan:
.
※ “ maksudnya orang yang tidak punya pikiran dan akal untuk berpikir yang bisa mencegahnya untuk melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan”
(Mirqatul Mafatih, 7/3107; sumber petikan)
.

✅ Beliau juga menjelaskan:
.
“At Turibisyti berkata: ‘maksudnya yaitu ia tidak bisa istiqamah, karena jika maknanya adalah tidak punya akal, maka artinya tidak ada taklif baginya. Lalu bagaimana mungkin ia dihukumi sebagai penghuni neraka’. Dan aku melihat bisa juga ditafsirkan dengan: tidak tamaasuk (berpegang teguh pada ajaran agama). Karena para ahli bahasa mengatakan bahwa ‘laa zubra‘ artinya tidak ber-tamaasuk; dan ini sesuai dengan kata asalnya. Sehingga kesimpulan maknanya: ‘laa zubra‘ artinya tidak berpegang teguh pada ajaran agama ketika datang godaan syahwat sehingga ia tidak menolak melakukan keburukan dan enggan wara’ terhadap perkara yang haram”
(Mirqatul Mafatih, 7/3107; sumber petikan)
.
➡ [2] Sebentar lagi kita akan mendapati kata-kata ‘amanah’ begitu mudahnya diucapkan dan dijadikan barang dagangan.
.
✅ Adakah orang-orang yang melariskan hal ini mengetahui betapa beratnya kalimat tersebut?
.
Tidaklah mungkin seorang dapat menjadi amanah, kecuali sebelumnya didahului dengan kekonsistenannya dalam jujur (dalam perkataan dan perbuatan) ! Bagaimanakah kita dapat mengharapkan seseorang untuk menjadi ‘amanah’, sedangkan dia adalah seorang yang kita dapati senantiasa berdusta (dalam perkataan dan perbuatannya) serta senantiasa mengingkari janji ?!
.
Bahkan bagaimanakah seseorang dapat mengharapkan dirinya amanah terhadap orang lain? Sedangkan terhadap Tuhannya sendiri dia berlaku sering berlaku dusta lagi khianat?
.
Ditampakkan kebaikan hanya ketika berada dihadapan manusia…tapi ketika ia tidak dilihat manusia; dia tidak segan-segan memaksiati Allaah Yang Maha Melihat lagi Maha Mengawasi perbuatannya.
.
‼ Bagaimanakah manusia hendak meng’amanah’kan sesuatu pada orang yang terhadap Tuhannya sendiri khianat? Demi Allaah… Apabila terhadap Tuhannya sendiri dia tidak jujur dan tidak amanah, maka kepada manusia dia lebih-lebih lagi tidak akan jujur dan tidak akan am
anah.
.
※ Maka tidak heran betapa banyaknya kita dapati manusia yang mengobral janji, tapi setelahnya ia malah menyalahi. Tidak heran pula kita mendapati seseorang yang mengobral kata ‘amanah’, tapi setelahnya ia malah berkhianat.
.
Jadikanlah hal diatas sebagai RENUNGAN DIRI (sebelum hati kita mengarahkan hal ini kepada orang lain)… Maka hendaknya kita berusaha untuk senantiasa berlaku jujur dihadapan Allaah, agar semoga kita dapat termasuk orang-orang yang amanah akan tanggung jawab yang dibebankanNya pada kita…
.
‼ Denngan ini pula hendaknya kita berwaspada terhadap para pendusta, pengingkar janji dan para pengkhianat… Hendaknya kita memohon kepada Allaah agar jangan sampai kita dikuasakan orang-orang yang suka berdusta, menyalahi janji, lagi berkhianat. Semoga Allaah memperbaiki diri-diri kita dan orang-orang sekitar kita. Aamiin.

=…

  • Tanda teresapnya iman dalam hati

.
‼ Tanda seorang yg imannya teresap dalam hatinya:
.
✅ (1) dia menjadikan imannya sebagai penyaring terhadap apa yang hendak masuk ke dalam hatinya…
.
✅ (2) dia jadikan imannya sebagai pemfilter atas apa yang diperintahkan hatinya…

.
‼ Sebaliknya, tanda seorang yang keimanan belum teresap dalam hatinya:
.
✅ (1) Dibiarkannya hatinya terbuka lebar; tanpa mempedulikan apapun yg masuk kedalamnya
.
✅ (2) Diekspresikannya apapun yang terlintas dalam hatinya, tanpa mempedulikan efek dari ekspresinya tersebut

.
✅ Allah berfirman:
.
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
.
[[Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS al-Hujurat: 14)]]
.
✅ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى هَهُنَا [[taqwa itu disini, taqwa itu disini, taqwa itu disini]] sembari beliau mengisyaratkan pada dadanya…
.
‼ Pupuk ketaqwaan dalam hati kita dengan ilmu… Karena ilmu-lah satu-satunya pintu yang membawa pada ketaqwaan… Rajin-rajinlah mendatangi majelis ilmu… Mendengar nasehat bermanfaat… Melihat (membaca) kitabullah, serta kitab-kitab para ulama… Disinilah kita menanamkan serta menguatkan keimanan dan ketaqwaan dalam hati kita…
.
Dan tanda adanya ketaqwaan, adalah baiknya lisan kita, serta baiknya perbuatan kita… Dalam menunaikan hak-hak Allah, maupun hak-hak sesama makhluk…
.
Adapun jika kita biarkan hati kita mendengar, melihat dan menyaksikan berbagai kemungkaran, seruan kesyirikan, kekufuran, kemaksiatan dan penyimpangan; maka keimanan itu tidak akan masuk kedalamnya, kalaupun tadinya pernah ada maka ia akan luntur dan rusak, yang dikhawatirkan lagi malah akan tercabut, hilang sama sekali dalam hati kita…
.
Dan tanda kurangnya atau bahkan tidak adanya keimanan dan ketaqwaan dalam hati, adalah apa yang diucapkan​ lisannya, dan diperbuat anggota badannya… Tercermin bagaimana ia menunaikan hak-hak Allah, dan hak-hak makhluk
.
✅ Oleh karenanya Rasuullaah shallalaahu ‘alayhi wa sallam bersabda: 
.
أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً،
.
“…Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging
.
إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
.
apabila ia (segumpal daging) tersebut baik, baiklah seluruh jasadnya
.
وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
.
dan apabila ia (segumpal daging) tersebut rusak (buruk), maka rusaklah (buruklah) seluruh jasadnya.
.
أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ
.
Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati”
[HR al Bukhaariy]
.

✅ Jika ada yang berkata: “iman itu di hati”, maka kita katakan: “benar, dan apa yang engkau ekspresikan dalam perkataan dan perbuatanmu itulah cerminan keimanan/ketaqwaan yg ada dalam hatimu”
.
‼ Mari kita perbaiki HATI dan PERBUATAN kita… Semoga Allah menunjuki hati kita pada ketaqwaan, dan menjadikan ketaqwaan itu nampak dalam segala perkataan dan perbuatan kita… Aamiin…
=…

~~××~~×× Lanjut ke Halaman 2 ~~××~~×÷