Andaikan Agama dengan Akal Semata
Posisi Akal di Dalam Syariat
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Akal Kita Harus Tunduk Kepada Dalil – Ustadz Dahrul Falihin, Lc.22Mb
https://app.box.com/s/aktgbqqzk9qnbm8lt3l2wtw0udyyvwff


Kedudukan Akal Dalam Islam-Ust.Abu Salman


Kenalilah Agamamu Wahai Muslim – Ustadz Ahmad Bazher 32mb
https://app.box.com/s/8afb2eyvr0z4qjelu6bcxbwl35e0buqk
Banggalah Wahai Muslim – Ust. Ahmad Bazher35mb
https://app.box.com/s/yk9iwa5o615aiausbzxgravu9k2bnswz
Jangan Salah Pilih Metode Beragama Ust Mizan Qudsiyah 10Mb
https://drive.google.com/file/d/1xSDBZY72eO3Rz1Y3NdCyurKmpWa7MNlZ/view?usp=drivesdk
Agama Bukan Dengan Logika – Ustadz Mizan Qudsiyah
https://app.box.com/s/eeefklwa4jjpc8qrdfqxicukx9swvpte
Antara Dalil dan Logika – Ust.Zainal Abidin Syamsudin mp3
https://drive.google.com/file/d/1K7IWev7HAMsKyP7F30G4VahBF2h402sa/view?usp=drivesdk
Selektif Dalam Mengambil Ilmu Agama – Ust.Mizan Qudsiyah.mp3
https://drive.google.com/file/d/1AShwTwb79-XaEo7G_nsE7v7NUgbye457/view?usp=drivesdk
.


Bagaimana Cara Beragama Yang Benar? UstadzAnas Burhanudin, Lc.MA-Hafizhahullah ,
4 Kaidah Penting Dalam Beragama-Ust.Dzulqarnain


Beragama Dengan Ilmu Ustadz Abdul Hakim Bin Amir Abdat


Cara Beragama Generasi Terbaik Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc, M. HI


Teladan Ulama Salaf Dalam Beragama-Ustadz Farhan


Cara Beragama yg Benar-Ustadz Farhan


Armen Halim Naro – Menuju Cara BeragamaYang Benar


Cara Beragama Yang Benar Ustadz Badrusalam, Lc.


=…
Ebook
4 Kaidah Dasar Memahami Agama –57Halaman
https://drive.google.com/file/d/15DrO7XG7ocuK9mrum6Fw-bXu04SvwxNW/view?usp=drivesdk
AGAMA YANG BENAR [Menguak Kebenaran Agama Islam Secara Konseptual dan Rasional]

Klik untuk mengakses Agama%20Haq.pdf


Kiat Berpegang Teguh Dengan Agama Allah-Syaikh Muhammad Shaleh al-Munajjid 66Hlm

Klik untuk mengakses indonesian-12.pdf


Agama Ini Telah Sempurna
https://www.box.com/s/a5b9b52b1fcdbaf9bb26
Memahami Agama Garda Pelindung Dari Fitnah
Penulis: Syaikh Shalih Fauzan al-Fauzan

Klik untuk mengakses memahami-agama-pelindung-dari-fitnah.pdf


Mu’tazilah, Penyembah Akal
https://www.box.com/s/8382a6efeb396a5d2995
Sinkretisme Agama
https://www.box.com/s/cb20daaf361a22e6a7db
==…
Andaikan Agama dengan Akal Semata
Posisi Akal di Dalam Syariat

.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==

➡ Andaikan Agama dengan Akal Semata
.

✅ Terkadang dalam cuaca dingin yang ekstrem atau suasana perjalanan jauh, kita merasa berat untuk melepas khuf (sepatu tipis terbuat dari kulit sebagai pelapis sepatu/kaos kaki atau semisalnya). Islam sebagai ajaran yang luhur lantas memberikan kemudahan. Cukup diusap bagian atasnya sebagai penggaknti cuci kaki ketika berwudhu. Mudah sekali, bukan?
.
Akan tetapi, kenapa bagian atasnya yang diusap? Kenapa bukan bagian bawah khuf yang diusap? Bukankah bagian bawah adalah bagian yang kotor, bukan bagian atas?
.
✅ Pertanyaan seperti di atas pernah juga muncul di masa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Al Imam Abu Dawud (no 162) meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai hal ini. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan:
.
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ، وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْه
.
Andai agama dengan akal ,tentu bagian bawah khuf lebih pantas untuk diusap dibanding bagian atasnya .Akan tetapi ,sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap bagian atas kedua khuf beliau.”
.
✅ Andai agama dengan akal? Namun Islam membimbing kita untuk tidak menjadikan akal sebagai sumber hukum. Tidak memosisikan akal sebagai alat penentu baik buruk, benar atau salah. Islam mengharuskan kita untuk menjadikan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai sumber hukum.
.
‼ Lihat dan resapilah kata-kata Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu di atas! Akal mesti dipinggirkan dan dibuang jauh-jauh jika telah berada di hadapan dalil. Bagaimana mungkin akal didahulukan, sementara Rasulullah melakukan sesuatu yang berbeda dengan akal? Salahkah dalil? Bukan! Akal lah yang salah! Mengapa akal yang patut disalahkan? Karena tidak semua hal dapat dijangkau oleh akal.
.
✅ Asy Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullah (Syarah Sunan Abi Dawud) menyatakan, “Ucapan ini adalah atsar (ucapan shahabat) yang agung. Atsar yang menunjukkan sikap ittiba’ (mengikuti Sunnah Nabi). Atsar ini membimbing kita untuk mengikuti Sunnah dan tidak menjadikan akal sebagai sumber hukum.”
.
‼ “Seorang muslim tidak boleh memberi celah kepada akal untuk menentang hukum-hukum syar’i. Akan tetapi, kewajiban seorang muslim adalah mencurigai akalnya dan mengikuti dalil naqli. Bukan sebaliknya, menjadikan akal sebagai sumber hukum dan mencurigai dalil naqli.” lanjut Syaikh Al Abbad.
.
✅ Apakah masih tersisa keraguan? Apakah masih ingin mempertanyakan hukum-hukum syari’at? Apakah masih belum yakin bila hukum-hukum Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah mutlak bersifat benar?
.
‼ Curigailah akal kalian, bukannya mencurigai agama!

Umar bin Khaththab dan Hajar Aswad
.
✅ Pembaca Tashfiyah, sebagai salah satu bentuk manasik haji, mencium Hajar Aswad dianjurkan bagi yang mampu melakukannya tanpa harus berdesak-desakan. Nah, ketika itu Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkesempatan untuk mencium Hajar Aswad.
.
‼ Apa yang beliau ucapkan saat itu?
.
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُك
.
Sesungguhnya ,aku mengetahui jika engkau hanyalah sebongkah batu ,tidak dapat memberikan madharat atau manfaat .Kalau bukan karena aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, tidak akan aku menciummu.” [H.R. Al Bukhari dan Muslim]
.

✅ Cerita dari Umar ini menunjukkan akan kesempurnaan sikap tunduk dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hikmah di balik itu semua jelas atau tidak, yang terpenting adalah mengikuti Sunnah Rasulullah. Pelaksanaan ibadah tidak hanya terbatas pada ibadah yang dipahami hikmahnya. Sebab ilmu dan akal manusia sangatlah terbatas.
.
✅ Al Imam An Nawawi (Syarah Shahih Muslim) menjelaskan bahwa Umar mncium hajar aswad lalu mengucapkan kata-kata di atas sebagai bentuk motivasi kepada umat agar mengikuti dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam .
.
‼ Al Imam At Thabari berkata, ”Tujuan Umar mengucapkan kata-kata tersebut karena saat itu ada orang-orang yang baru saja meninggalkan peribadatan patung, maka Umar khawatir jika ada orang jahil yang menyangka amalan mengusap Hajar Aswad termasuk bentuk mengagungkan batu, sebagaimana orang-orang arab melakukannya di masa jahiliyah.”
.
✅ Beliau melanjutkan, “Umar ingin mengajarkan kepada umat bahwa mengusap Hajar Aswad adalah sikap mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bukan karena Hajar Aswad dapat memberikan madharat atau manfaat secara dzatnya, seperti orang-orang jahiliyah meyakininya terhadap berhala.”
.

‼ Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, ”Pernyataan Umar ini menunjukkan sikap tasliim (menerima sepenuh hati) kepada penetap syari’at dalam masalah agama dan mengikuti dengan baik di dalam hal yang tidak diketahui maknanya. Kaidah ini adalah kaidah penting di dalam meneladani perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun hikmahnya tidak diketahui.”
.

✅ Sikap Umar yang amat mengagungkan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sikap seluruh sahabat tanpa terkecuali. Tidak ada seorang pun di antara shahabat yang mempertanyakan perintah Nabi atau wahyu dari langit. Tanpa ragu tanpa maju mundur, mereka bersegera menyambut seruan dari Allah dan Rasul-Nya.
.

‼ Inilah sikap seorang muslim.

Tunduklah Kepada Wahyu!
.

✅ Kira-kira enam belas atau tujuh belas bulan lamanya Rasulullah dan para shahabat shalat dengan menghadap Baitul Maqdis sebagai kiblat. Selama itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering menghadapkan wajah ke arah langit, berharap arah kiblat diubah. Beliau menginginkan Ka’bah sebagai kiblat kaum muslimin.
.
‼ Lalu Allah menurunkan firman-Nya, “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Rabb-nya; dan Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” [Q.S. Al Baqarah :144]
.
✅ Sejak ayat ini diturunkan, kiblat kaum muslimin telah resmi diubah ke arah Ka’bah. Apakah perubahan semacam ini bisa diterima oleh masyarakat Madinah secara umum ketika itu? Saat itu kaum muslimin masih hidup bersama dengan kaum kafir dan munafikin di kota Madinah? Bagaimana sikap mereka?
.
‼ Kaum musyrikin mengira, ”Muhammad sudah kembali menghadap ke kiblat kita. Mungkin sebentar lagi ia akan kembali ke agama kita.”
.

✅ Sementara kaum Yahudi menyatakan, “Muhammad telah menyelisihi kiblat para Nabi sebelumnya. Kalaulah benar Muhammad seorang Nabi, pasti ia akan menghadap ke kiblatnya para Nabi.
.
‼ Adapun kaum munafikin dengan nada ejekan menyebarkan isu, “Muhammad bingung harus menghadap ke mana. Kalau kiblat pertama benar, maka ia telah meninggalkan kebenaran. Jika kiblat kedua yang benar, berarti sebelumnya ia berada di atas kebatilan.”

.
✅ Kaum muslimin? Kaum beriman yang berkeyakinan bahwa semua aturan itu datangnya dari Allah. Dialah yang berhak menentukan aturan, mereka dengan tegas menyatakan sikap, “Sami’naa wa atha’naa.” Akidah kaum muslim tersebut di dalam firman Allah, “Kami beriman dengannya, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” [Q.S. Ali Imran :7]

Apakah Mereka Meragukan Hal Ini?
.
✅ Banyak hal telah diragukan bahkan didustakan oleh para pemuja akal. Peristiwa-peristiwa gaib adalah yang paling sering menjadi obyek mereka. Adzab kubur atau nikmatnya. Peristiwa-peristiwa besar di hari kiamat kelak pun dipertanyakan oleh mereka.
.
‼ Bagaimana mungkin kubur seorang mukmin dibuat lapang sejauh mata memandang? Bagaimana bisa kulit, tangan, kaki dan anggota tubuh manusia bisa berbicara? Apa manfaatnya surga dan neraka yang telah diciptakan saat ini, sementara manusia belum dibangkitka
n?
.
✅ Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering menggelayuti benak seorang muslim yang belum mencapai derajat istislam kaamil (menerima sepenuh diri). Akal kita tidak dapat menjangkau yang seperti itu. Apalagi jika berbicara tentang takdir atau sifat-sifat Allah, sekian banyak orang tersesat karenanya.
.
‼ Kenapa? Ia mendahulukan akalnya daripada menerima sepenuh diri. Bukankah Allah maha berbuat sesuai kehendak-Nya? Bukankah Allah yang berhak mengatur dan menentukan? Bukankah Allah Maha Mampu untuk melakukan apa saja? Innahu ‘ala kulli syai’in qadir.
.

Suatu ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Katanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa orang kafir kelak pada hari kiamat dibangkitkan dengan kepala berada di bawah (posisi terbalik)?”
.
‼ Dan inilah jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (hadits Anas bin Malik riwayat Al Bukhari dan Muslim)
.
أَلَيْسَ الَّذِي أَمْشَاهُ عَلَى رِجْلَيْهِ فِي الدُّنْيَا، قَادِرًا عَلَى أَنْ يُمْشِيَهُ عَلَى وَجْهِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟
.
Bukankah Dzat yang telah membuatnya berjalan dengan dua kaki saat di dunia juga mampu membuatnya berjalan dengan kepala pada hari kiamat kelak”?
.
✅ Subhanallah!
.

‼ Sabda Rasulullah di atas adalah penawar segala tanya. Benar !Allah maha mampu untuk melakukan apa saja yang Dia kehendaki .Tidak ada yang sulit bagi-Nya .Maka akidah dan keyakinan kita, sebagai umat Islam ,seperti yang dikatakan oleh Al Imam Qatadah (seorang perawi hadits di atas):
.
بَلَى، وَعِزَّةِ رَبِّنَا
.
Benar !Allah maha mampu, demi kemuliaan Rabb kita”!

.
Seperti Inilah Menghadapi Kaum Pemuja Akal
.
✅ Pembaca Tashfiyah, barakallahu fik. Barangkali pembaca pernah menemui atau akan menemui orang-orang semacam itu. Lantas bagaimanakah cara menghadapinya? Adakah langkah singkat dan “menggigit” untuk menaklukkan para pemuja akal?
.
‼ Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, seribu tahun lebih yang lalu telah menerangkan kepada kita tentang cara menghadapi mereka. Inilah jurus ampuh dari Umar bin Khaththab!
.
إِيَّاكُمْ وَأَصْحَابَ الرَّأْيِ؛ فَإِنَّهُمْ أَعْدَاءُ السُّنَنِ أَعْيَتْهُمُ الْأَحَادِيثُ أَنْ يَحْفَظُوهَا فَقَالُوا بِالرَّأْيِ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
.
Waspadalah kalian dari para pemuja akal! Sungguh, mereka adalah musuh-musuh Sunnah. Mereka dibuat tidak mampu oleh hadits-hadits Nabi sehingga tidak mampu menghafalnya. Akhirnya mereka pun berpendapat berdasarkan akal. Sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.”
.

✅ Jelas sekali, bukan? Untuk menghadapi para pemuja akal, cukup bacakan saja hadits-hadits Rasulullah. Sabda-sabda beliau yang telah termaktub di dalam karya-karya hadits adalah jurus jitu untuk menaklukkan mereka.
.
‼ Kalau begitu apa kesimpulannya? Belajar dan belajar. Pelajari hadits-hadits Nabi Muhammad dan hafalkan. Barangkali hari ini manfaatnya belum terasa. Namun yakinlah, suatu saat nanti hasil dari belajar Islam berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah akan pembaca Tashfiyah rasakan manisnya.
.

✅ Semangat belajar! Semangat thalabul ilmi! Agar tidak termakan oleh akal rancu atau menjadi korban para pemuja akal. Ya Allah curahkanlah istiqamah untuk kami hingga akhir hayat. Allahumma amin
.
[Al Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai]
=…
Posisi Akal di Dalam Syariat
.

✅ Sempat dahulu ada yang bertanya sebuah sabda Nabi tentang hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang pernah menggakmbarkan keadaan manusia kelak di hari berbangkit. Masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Ketika matahari didekatkan, ada yang tenggelam oleh keringatnya. Ada yang keringatnya sampai di lutut, di paha, di pinggang dan ada yang tidak terpengaruh.
.
‼ “Kok bisa, ya? Bukankah semuanya berada pada satu tempat?” begitu tanya orang tersebut..
✅ Sebenarnya, tanya-tanya semacam itu sering terlintas di benak mereka yang belum memahami syari’at Islam secara mendalam. Akal adalah alasan terbesar. Tidak masuk akal, katanya. Bagaimana bisa seperti itu, tambahnya.

.
‼ Saya sangat terkesan dengan kata-kata seorang ulama besar pada zaman tabi’in. Seorang murid kaum sahabat yang terkenal dengan gelarnya Az Zuhri mengatakan ;
.
مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ البَلاَغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
.
Risalah datang dari Allah.Rasulullah yang menyampaikan sementara tugas kita adalah menerimanya.”
.

✅ Kata-kata Az Zuhri di atas disebutkan oleh Al Imam Al Bukhari di dalam Shahihnya tanpa sanad. Di dalam Fathul Baari, Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kata-kata di atas diucapkan oleh Az Zuhri sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan sebuah sabda Nabi Muhammad. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Al Imam Al Humaidi dan yang lain.
.
‼ Meresapi kata-kata Az Zuhri di atas, seolah menegaskan tentang akidah seorang muslim yang amat kokoh. Az Zuhri menjelaskan, di manakah posisi seorang hamba di hadapan syariat Islam. Tunduk, taat, patuh dan menerima !Bukannya bertanya namun hambalah yang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah di hari kiamat kelak. Apa yang telah ia lakukan di dunia?
.

✅ Kata-kata Az Zuhri di atas adalah cambuk menggelegar untuk menyadarkan kita, yang mungkin bertanya tentang aturan-aturan Allah berdasarkan akal.
.~~__~~__ Lanjut ke Halaman 2 ~~__~~__