Nista Karena Rasa Malu Tiada
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.••

Agungnya Rasa Malu-Ust.Abu Haidar

Rasa Malu Kepada Allah-Ust.Dzulqarnain

Pengertian Malu dalam Islam dan Sifat Malu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam-Ust.Abu Yala Kurnaedi

Sifat Malu Dalam Islam-Ust.Abu Yala Kurnaedi

Malu Sebagian Dari Iman-Ust.Badrusalam

Akhlak Malu-Ust.Khairullah Anwar

Rasa Malu-Ust.Ahmad

=…
Rasa Malu

Klik untuk mengakses id_rasa_malu.pdf


=…
Nista Karena Rasa Malu Tiada
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
.==

  • NISTA KARENA MALU TIADA

.
✅ Puji syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin kita ucapkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

‼ Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya rabbal alamin.
.
Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.
.
‼ Miris dan mengelus dada saat kita melihat dan mendengar fenomena di sekitar kita. Bagaimana kaum wanita berbangga mempertontonkan auratnya. Bagaimana orang-orang sengaja mengumbar auratnya dengan bangganya. Bagaimana tega orang-orang membongkar aib dan rahasianya di layar kaca, hanya semata-mata meramaikan sebuah acara TV swasta.
.
✅ Yang lain lagi berbangga dengan maksiat yang dilakukannya. Mereka pamerkan dosanya dengan topeng kejujuran. Seperti kata-kata, “saya tidak munafik, memang shalat saya masih bolong-bolong…!Tidak malu-malu lagi pasangan muda-mudi yang berstatus pacar, mengumbar kemesraan di publik. Baik di dunia nyata, maupun di media maya. Dan lebih ngeri lagi banyaknya fenomena anak muda yang sengaja merekam adegan zina, lalu disebarkan ke media masa, wal ‘iyadzu bilah.
.
‼ Begitulah efek ketika tercabut urat malu pada diri manusia, buah yang muncul hanyalah perbuatan dosa dan nista. Padahal rasa malu adalah unsur yang menyuburkan hati hingga bersemi kebaikan. Tanpanya, keburukanlah yang akan dikomando oleh hati kepada jasadnya.
.
✅ Sebagian ulama mengatakan bahwa kata haya’ yang berarti (sifat) malu adalah pecahan dari kata hayatun yang berarti kehidupan, hujan juga disebut haya’ karena di dalamnya ada unsur kehidupan bagi bumi, tumbuhan dan binatang. Barang siapa yang tidak memiliki sifat malu, maka ia mati (hatinya) di dunia dan sengsara di akhirat.
.
‼ Ibnul Qayyim al-Jauziyah bahkan berkata dalam kitabnya Miftah Daaris Sa’adah, “Malu adalah akhlak yang paling utama, paling tinggi, paling agung, dan paling banyak manfaatnya. Malu adalah karakter khusus manusia. Maka barangsiapa tidak memiliki sifat malu, maka orang tersebut tidak lain hanyalah memiliki sisi kemanusiaan seperti daging, darah dan badan kasarnya. Tak ada kebaikan sedikitpun padanya. .
✅ Kalau bukan karena akhlak ini, tidak ada tamu yang dimuliakan, tidak ada janji yang ditempati, tidak ada amanah yang ditunaikan, tidak ada kebutuhan orang lain yang dipenuhi. Juga tidak ada orang yang berusaha mencari yang baik lalu merngedepankannya, tak ada orang yang mewaspadai yang buruk lalu menjauhinya, tak ada yang menutup aurat, dan tidak ada yang mencegah diri dari perbuatan nista. Banyak orang yang tidak melakukan kewajiban-kewajibannya, tidak mempedulikan hak sesama, tidak menjalin silaturahmi dan tidak berbakti kepada orangtua.”

.
✅ Ringkasnya, jika rasa malu tiada, maka perbuatan nista menjadi niscaya. Karena telah hilanglah penghalang antara dirinya dengan tindakan amoran maupun maksiat. Karena itulah nabi bersabda,
.
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
.
Di antara yang diperoleh manusia dari perkataan (yang disepakati) para nabi adalah, jika kamu tidak memiliki rasa malu maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
.

✅ Meski ungkapan hadits tersebut menggunakan fi’il amr (kata perintah), akan tetapi maknanya adalah tahdid atau kalimat untuk menakut-nakuti dan mengancam. Maksudnya, jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah apa saja sesukamu. Tapi ingat, sesungguhnya engkau akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatanmu itu, baik di dunia maupun di akhirat atau kedua-duanya.
.
✅ Seperti firman Allah Ta’ala,

.
اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖإِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿٤٠﴾
.
Berbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”(Fushilat/41:40)
.

‼ Hadits tersebut juga bermakna khabar ataupun penjelasan. Yakni, barangsiapa yang tidak tidak memiliki rasa malu, maka sudah pasti ia akan berbuat sesukanya. Karena di antara sebab paling dominan yang menghalangi seseorang untuk berbuat dosa maupun nista adalah rasa malu.
.
Tatkala seseorang tidak malu lagi kepada Allah yang menciptakan dirinya, maka dengan santainya dia menikmati rejeki Rabbnya dengan cara yang dimurkai oleh-Nya. Padahal Allah senantiasa mengawasinya.
.

‼ Tanpa malu seseorang menelantarkan ‘undangan’ Allah untuk shalat begitupun dengan kewajiban lainnya. Padahal ia tahu bahwa diciptakannya ia di dunia adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya.
.

Tidak cukup dengan meninggalkan kewajiban dan melanggar larangan, bahkan ia tidak merasa bersalah dan tetap merasa tidak malu setelah tercebur dalam kubangan maksiat. Kenapa ia tidak mengikuti nenek moyang manusia; Adam alaihis salam yang sangat malu kepada Allah saat terlanjur berbuat maksiat kepada Penciptanya.
.
✅ Ka’ab meriwayatkan satu hadits, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,
.
‼ “Sesungguhnya Adam alaihissalam adalah seorang yang tinggi seperti pohon kurma yang buahnya tidak terjangkau oleh orang yang memetik buahnya dan berambut lebat. Setelah terjadi kejadian itu (yakni ketika keduanya mendekati pohon yang dilarang oleh Allah), auratnya terlihat. Dia tidak pernah melihatnya sebelumnya. Adam pun berlari dan tiba-tiba kepalanya disambar oleh sebatang pohon surga. “Lepaskan aku!” pintanya. ‘Aku tidak akan melepaskanmu!” kata pohon itu. Allah bertanya, “Apakah kamu lari dari-Ku?” Adam menjawab, “Duhai Rabbku, tidakkah aku malu kepada-Mu?” Kemudian Allah berfirman, “Seseorang yang beriman akan malu kepada Rabbnya atas dosa yang dilakukannya.” Setelah itu Adam mengetahui segala puji bagi Allah jalan keluarnya. Adam tahu bahwa jalan keluarnya adalah istighfar dan taubat kepada Allah.” (HR al-Hakim, beliau mengatakan, “isnadnya shahih tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
.

✅ Adapun efek ketika seseorang tidak malu kepada sesama manusia, maka ia bisa melakukan tindakan nista dalam pandangan manusia, begitupun untuk melakukan dosa dalam pandangan syariat. Seperti orang yang mengumbar dusta dan janji palsu tanpa beban dan tanpa malu.
.
‼ Padahal, dahulu, orang-orang Jahiliyyah, sangat merasa berat untuk melakukan hal-hal yang nista dalam pandangan manusia karena dicegah oleh rasa malunya. Seperti  yang dialami oleh Abu Sufyan sebelum keislamannya. .
✅ Ketika bersama Heraklius ia ditanya tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Sufyan berkata,
.
فَوَ اللهِ ، لَوْ لاَ الْـحَيَاءُ مِنْ أَنْ يَأْثِرُوْا عَلَيَّ كَذِبًا لَكَذَبْتُ عَلَيْهِ
.
Demi Allah Azza wa Jalla, kalau bukan karena rasa malu yang menjadikan aku khawatir dituduh oleh mereka sebagai pendusta, niscaya aku akan berbohong tentangnya.” (HR. Bukhari)
.

✅ Rasa malu telah menghalanginya untuk membuat kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ia malu jika dituduh sebagai pendusta. Rasanya, sifat ksatria seperti ini pun sudah mulai langka, lantas apakah berarti orang-orang sekarang lebih jahiliyah dari musyrikin Arab terdahulu, na’udzubillah
=….
Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah M.A

  • NIKMAT BATASAN

.
✅ Di dunia, Allah senantiasa meletakkan batasan-batasan bagi manusia, yang jika kita renungi batasan tersebut, terdapat nikmat besar dan bukti kecintaan Allah kepada hamba-Nya.
.
Lihatlah batasan mata yang hanya bisa melihat alam dunia, sungguh ini merupakaan nikmat yang besar yang membuat kita tenang.
.
Bayangkan kalau seandainya kita bisa melihat alam ghaib. Maka kita akan ketakutan bahkan untuk sekedar keluar rumah di malam hari.
.
Allah membatasi mata dengan hanya dapat melihat apa yang di hadapannya saja, sedang jika terhalang oleh dinding mata tidak memiliki kemampuan untuk menembusnya. Ini juga merupakan nikmat yang harus kita renungi.
.

Kalaulah seandainya mata bisa menembus dinding tentunya kita akan sangat kewalahan menjaga aurat dan aib yang kita miliki. Ini merupakan bentuk pemeliharaan Allah terhadap Hamba-Nya, maka jika dosa yang kita kerjakan telah Allah tutup sedemikian rupa dari mata manusia, seharusnya kita juga menjaga aib yang kita miliki. Dengan tidak menceritakan dosa-dosa yang pernah kita kerjakan kepada orang lain.
.
Karena semua Hamba Allah akan Allah ampuni dosa-Nya, kecuali mereka yang setelah berbuat maksiat, Allah tutupi dosanya, kemudian dia berlagak dengan memamerkan kembali dosa yang yang telah diperbuat.
.
✅ Sebagaimana dalam Hadis Nabi beliau bersabda :
Seluruh umatku diampuni kecuali “Mujahirin”, yaitu yang pada malam harinya berbuat dosa, kemudian bangun dipagi hari dan Allah telah menutupi aib dari dosa-dosa nya akan tetapi dia malah berkata : “Wahai Fulan, semalam aku melakukan ini dan itu”, padahal semalam Allah telah tutup aib nya namun dia malah membuka apa yang telah Allah tutupi” [HR. Bukhari dan Muslim].
| Disusun & Dipublikasi oleh Tim Ilmiah Elfadis
Tanggal : 10 Rabi’ul Akhir 1441 H
=…

“••“•• Lanjut ke Halaman 2 “••“••