Menyikapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.

Ust.Muflih Safitra – Perbedaan Pendapat
Dalam Islam
https://app.box.com/s/8n5so7k5ro5cnhmdc8il0gqyr53ok7k0
Menyikapi Perbedaan Pendapat Diantara Ahlussunnah – Ustadz Harits Abu Naufal 36.3Mb
https://drive.google.com/file/d/1-89d7EFMSuy7E6GdF5RpPVMBDSGHWBeZ/view?usp=drivesdk
34 Audio Kitab Ilmu-Ust.Abu Haidar As Sundawy
https://archive.org/details/UstadzAbuHaidarAs-sundawy-KitabulIlmi


Adab Belajar & Mengajar, Karakterisktik Ulama Akhirat & Ulama Suu'(JAHAT)


Ulama Akhirat & Ulama Suu’ (JAHAT)


Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama


bag1bag2bag3:


Bagaimana Menghadapi Perbedaan Pendapat Para Ulama


Ustadz Abu Qatadah-Sikap Dalam Menghadapi Ikhtilaf


Fiqih Ikhtilaf-Ust Abu Hamzah


Kaidah Penting Menyikapi Perselisihan-Ust.Abu Karimah


Lerai Perselisihan-Ust.Firanda Abdirja


Sikap Seorang muslim dalam Menghadapi Ikhtilaf Ulama-Ust.Abu Yala Kurnaedi


ETIKA IKHTILAF DAN MENASIHATI – USTADZ LUTHFI ABDUL JABBAR ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
https://drive.google.com/file/d/1tAWUjVRHSSRYoOhQzsyRehYLPpqLKcBo/view?usp=drivesdk
MANHAJ SALAF DALAM MENYIKAPI IKHTILAF Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawie Hafizhahullah- 36,4 MB 2jam 3mnit
Link download : http://bit.ly/2qkA1ra
https://drive.google.com/file/d/1NHp4mCMa6spmDdDu2vOEden8g-bUqwdy/view
=…
Ebook
Ikhtilaf Ulama

Klik untuk mengakses id_ikhtilaf_ulama.pdf


Adab Khilaf Diantara Para Da’i

Klik untuk mengakses id_Adab_Khilaf_Di_antara_Para_Dai.pdf


Perselisihan Ulama

Klik untuk mengakses menyikapi-perselisihan-ulama.pdf


Sebab Para Ulama Berbeda Pendapat

Klik untuk mengakses sebab-para-ulama-berbeda-pendapat.pdf


Menyikapi Perbedaan Pendapat [Ulama] Dengan Benar, karya Syaikh Muhammad bin ShalihAl-‘Utsaimin
https://drive.google.com/file/d/0B3FT6ui1GzNVcmJZT2ROUVF5aEU/view
Menyikapi Perbedaan Pendapat Dalam Penafsiran Al-Qur’an

Klik untuk mengakses 137-menyikapi-perbedaan-pdf.pdf


=…

➡ Menyikapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
.
بسم الله الرحمن الرحيم
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
GABUNG GRUP WA DAKWAH SUNNAH DAN BIMBINGAN ISLAM
IKHWAN
https://chat.whatsapp.com/IjMAdVcal3SBEZyFUOgN9l
AKHWAT
https://chat.whatsapp.com/JHqH7FbZoQeJAKJtgqsRv0
=..

  • Menyikapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

.
✅ Para ulama ahli ushul fiqh berbeda pandangan tentang bagaimana penyikapan seorang awam terhadap perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan bahwa awam mengambil pendapat ulama yang ia pandang paling berilmu dan paling wara‘. Ini adalah satu riwayat yang ternukil dari Ahmad bin Hanbal, Ibnus-Suraij dari kalangan Syaafi’iyyah, dan mayoritas ulama ushul rahimahumullah. Ada yang mengatakan bahwa orang awam bebas memilih ulama siapa saja yang ia pandang pendapatnya sesuai dengan kebenaran; dan ini adalah pendapat sebagian Syaafi’iyyah dan Hanaabilah. Ada yang mengatakan hendaknya mengambil pendapat yang paling berat; ini adalah pendapat yang dihikayatkan dari Dhaahiriyyah. Sebaliknya, ada yang berpendapat agar mengambil pendapat paling mudah dan ringan. Dan ada pula yang berpendapat orang awam bertanya kepada setiap mujtahid/ulama dalil yang mereka pakai, lalu ia berusaha/berijtihad darinya dan beramal dengan pendapat yang rajih menurut penilaiannya. Ini adalah pendapat Ibnul-Qayyim dalam I’laamul-Muwaqqi’iin.
.
‼ Maka,
.
Pertama, wajib bagi setiap orang berusaha mencari kebenaran, memohon petunjuk (kepada Allah ﷻ) agar dapat menerima, memahaminya, dan mengikutinya darimanapun kebenaran tersebut datang.
.
✅ Diriwayatkan dari Mu’aadz bin Jabal radliyallaahu ‘anhu, ia berkata:
.
اِقْبَلُوا الْحَقَّ مِنْ كُلِّ مَنْ جَاءَ بِهِ; وَإِنْ كَانَ كَافِرًا -أَوْ قَالَ فَاجِرًا- وَاحْذَرُوا زَيْغَةَ اَلْحَكِيمِ، قَالُوا: كَيْفَ نَعْلَمُ أَنَّ اَلْكَافِرَ يَقُولُ كَلِمَةَ الْحَقِّ؟ قَالَ: إِنَّ عَلَى اَلْحَقِّ نُورًا
.
‼ “Terimalah kebenaran dari siapapun yang membawanya, meskipun dirinya orang kafir atau faajir. Dan waspadalah penyimpangan/kesalahan seorang yang bijak”. Orang-orang bertanya : “Bagaimana kami bisa mengetahui orang kafir mengucapkan kalimat kebenaran?”. Mu’aadz berkata : “Sesungguhnya di atas kebenaran itu ada cahaya” [Dibawakan oleh Ibnu Taimiyyah[1] dalam Majmuu’ Al-Fataawaa 5/102].
.

✅ Allah ﷻ berfirman:
.
فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
.
‼ “Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” [QS. Al-Baqarah : 213].
.

Dalam doa istiftah shalat malam, kita dianjurkan membaca doa agar diberikan petunjuk dan ditetapkan di atas kebenaran:
.
اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
.
‼ “Ya Allah, Rabb bagi Jibriil, Mikaaiil dan Israafiil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui hal yang ghaib dan yang nampak. Engkaulah yang menetapkan keputusan diantara para hamba dalam berbagai hal yang mereka perselisihkan. Berilah aku petunjuk akan kebenaran dalam hal-hal yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau itu memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki untuk menuju jalan yang lurus” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 770].
.

Maksud perkataan ‘Berilah aku petunjuk akan kebenaran dalam hal-hal yang diperselisihkan dengan izin-Mu’ adalah tetapkanlah aku di atas kebenaran sebagaimana firman Allah ﷻ:
.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
.
‼ “Berilah kami petunjuk pada jalan yang lurus” [QS. Al-Faatihah : 6].
.

Kedua, tidak ada seorang pun setelah Nabi ﷺ yang kebenaran selalu ikut bersamanya dalam semua perkataan (fatwa) dan perbuatannya.
.

✅ Nabi ﷺ bersabda:
.
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
.
‼ “Semua anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak berbuat kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertaubat” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2499, Ahmad 3/198, Ibnu Abi Syaibah 13/187, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 2/604].
.
Dalam permasalahan tawanan perang Badr, kebenaran ada pada perkataan ‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu ‘anhu yang memberikan saran untuk membunuh mereka.
.
‼ Berbeda dengan saran Abu Bakr radliyallaahu ‘anhumaa untuk menerima tebusan. Allah ﷻ membenarkan perkataan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu dengan menurunkan Surat Al-Anfaal ayat 67-69.[2] Di lain waktu, kebenaran berada pada perkataan Abu Bakr daripada ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa dalam permasalahan memerangi orang yang tidak menunaikan zakat. ‘Umar sendiri mengakui dengan perkataannya:

.
فَوَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ قَدْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَعَرَفْتُ، أَنَّهُ الْحَقّ
.
‼ “Maka demi Allah, tidaklah hal itu dikatakannya kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu, lalu aku pun mengetahuinya bahwa apa yang dikatakannya itu adalah kebenaran” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1400].
.
Apabila Abu Bakr dan ‘Umar radliyallaahu ‘anhu yang dikatakan sebagai manusia terbaik[3] sepeninggal beliau ﷺ tidak memegang otoritas kebenaran dalam seluruh ijtihad mereka, tentu manusia setelahnya lebih layak dikatakan demikian[4]. Mujaahid rahimahullah berkata :
.
لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَّبِيِّ ﷺ إِلا يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ، وَيُتْرَكُ إِلا النَّبِيَّ ﷺ
.
‼ “Tidak ada seorang pun setelah Nabi ﷺ dimana perkataannya dapat diambil dan ditinggalkan, kecuali Nabi ﷺ” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy dalam Juz’u Raf’il-Yadain, hal. 153 no. 179; shahih].
.
✅ Oleh karena itu, Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:
.
فالذي عليه الأئمة الأربعة وسائر أئمة العلم أنه ليس على أحد ولا شرع له التزام قول شخص معين في كل ما يوجبه ويحرمه ويبيحه إلا رسول الله ﷺ
.
‼ “Dan pendapat/manhaj yang dipegang para imam yang empat dan seluruh ulama (yang diakui) bahwa tidak wajib dan tidak pula disyari’atkan bagi seseorang untuk menetapi pendapat ulama tertentu dalam semua yang diwajibkan, diharamkan, dan dibolehkannya; selain daripada Rasulullah ﷺ…” [Al-Fataawaa Al-Kubraa, 3/328].
..
فإن أهل الحق والسنة لا يكون متبوعهم إلا رسول الله ﷺ الذي لا ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى فهو الذي يجب تصديقه في كل ما أخبر وطاعته في كل ما أمر وليست هذه المنزلة لغيره من الأئمة بل كل أحد من الناس يؤخذ من قوله ويترك إلا رسول الله فمن جعل شخصا من الأشخاص غير رسول الله من أحبه ووافقه كان من أهل السنة والجماعة ومن خالفه كان من أهل البدعة والفرقة كما يوجد ذلك في الطوائف من اتباع أئمة في الكلام في الدين وغير ذلك كان من أهل البدع والضلال والتفرق
.
‼ “Sesungguhnya para pembela kebenaran dan sunnah (ahlul-haq was-sunnah) tidak mengikuti seseorang kecuali Rasulullah ﷺ yang : ‘beliau tidak berkata-kata dengan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)’ (QS. An-Najm : 3-4). Beliau ﷺ adalah orang yang wajib dibenarkan setiap perkataannya dan wajib ditaati setiap perintahnya. Kedudukan ini tidaklah dimiliki oleh orang selain beliau dari kalangan para imam. Bahkan setiap orang dapat diambil dan dibuang perkataannya kecuali Rasulullah ﷺ. Barangsiapa yang menjadikan seseorang selain Rasulullah ﷺ dari kalangan orang yang mencintainya dan menyepakatinya sebagai Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, dan orang-orang yang menyelisihinya sebagai Ahlul-Bida’ wal-Furqah sebagaimana  fenomena itu ditemui pada sebagian kelompok yang yang mengikuti para imam dalam fatwa-fatwa agama dan selainnya; maka ia lah yang justru termasuk Ahlul-Bida’ wadl-Dlalaal wal-Furqah (penyeru kebid’ahan, kesesatan, dan perpecahan)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 3/346-347].
.
Ketiga, hendaknya seseorang berusaha mengikuti pendapat ulama dengan mengetahui dalil dan pendalilannya semampunya.
.
✅ Allah ﷻ berfirman:
.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
.
‼ “Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” [QS. An-Nisaa’ : 59].
.
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
.
‼ “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” [QS. At-Taghaabun : 16].
.
Sikap mengikuti pendapat ulama dengan dalilnya merupakan ittibaa’ sebagaimana didefinisikan oleh sebagian ulama. Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:
.
وقد فرق أحمد بين التقليد والاتباع، فقال أبو داود: سمعته يقول: الاتباع أن يتبع الرجلُ ما جاء عن النبي ﷺ وعن أصحابه، ثم هو مِن بعدُ في التابعين مخيَّر
.
‼ “Ahmad (bin Hanbal) membedakan antara taqlid dan ittibaa’. Abu Daawud berkata : ‘Ittibaa’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Kemudian pendapat setelahnya dari kalangan taabi’iin boleh dipilih” [I’laamul-Muwaqqi’iin, 3/469. Lihat juga Masaailu Abi Daawud, hal. 276].
.
Ittibaa’ menjadi tingkatan kedua antara taqliid dan ijtihaad[5]. Adapun taqlid didefinisikan mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalilnya [Mudzakkirah fii Ushuulil-Fiqh oleh Asy-Syinqiithiy].
.
Seandainya kita bukan tergolong ulama – dan memang demikianlah keadaannya – , maka jadilah awam berkualitas yang senantiasa mengedepankan prinsip ittibaa’, mengikuti pendapat ulama dengan dalilnya.
.
✅ Ibnu ‘Aun rahimahullah berkata:
.
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلا لَزِمَ هَذَا الأَثَرَ، وَرَضِيَ بِهِ، وَإِنِ اسْتَثْقَلَهُ وَاسْتَبْطَأَهُ
.
‼ “Semoga Allah memberikan rahmat kepada seseorang yang tetap berpegang/berkomitmen pada atsar ini dan ridla terhadapnya, meskipun terasa berat dan menghambatnya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 291; sanadnya shahih sesuai syarat syaikhain].
.
✅ Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:
.
وقد نهى الأئمة الأربعة عن تقليدهم ، وذموا من أخذ أقوالهم بغير حجة
.
“Dan sungguh para imam empat melarang taqlid kepada mereka[6] dan mencela orang yang mengambil pendapat mereka tanpa hujjah” [I’laamul-Muwaqqi’iin, 1/79].
.
✅ Sehingga dikatakan para ulama,
.
 أقوال العلماء يُستدل لها ولا يستدل بها
.
‼ “Perkataan ulama dipakai untuk penyokong dalil, bukan untuk berdalil itu sendiri”[7].

.

______ Lanjut ke Halaman 2 _______