Menyikapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama (Bag.2)
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.

34 Audio Kitab Ilmu-Ust.Abu Haidar As Sundawy
https://archive.org/details/UstadzAbuHaidarAs-sundawy-KitabulIlmi


Adab Belajar & Mengajar, Karakterisktik Ulama Akhirat & Ulama Suu'(JAHAT)


Ulama Akhirat & Ulama Suu’ (JAHAT)


Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulamabag1:Bag2bag3


Bagaimana Menghadapi Perbedaan Pendapat Para Ulama


Ustadz Abu Qatadah-Sikap Dalam Menghadapi Ikhtilaf


Fiqih Ikhtilaf-Ust Abu Hamzah


Kaidah Penting Menyikapi Perselisihan-Ust.Abu Karimah


Lerai Perselisihan-Ust.Firanda Abdirja


Sikap Seorang muslim dalam Menghadapi Ikhtilaf Ulama-Ust.Abu Yala Kurnaedi


ETIKA IKHTILAF DAN MENASIHATI – USTADZ LUTHFI ABDUL JABBAR ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
https://drive.google.com/file/d/1tAWUjVRHSSRYoOhQzsyRehYLPpqLKcBo/view?usp=drivesdk
MANHAJ SALAF DALAM MENYIKAPI IKHTILAF
: Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawie Hafizhahullah- 36,4 MB 2jam 3mnit
Link download : http://bit.ly/2qkA1ra
https://drive.google.com/file/d/1NHp4mCMa6spmDdDu2vOEden8g-bUqwdy/view
=…
Ikhtilaf Ulama

Klik untuk mengakses id_ikhtilaf_ulama.pdf


Adab Khilaf Diantara Para Da’i

Klik untuk mengakses id_Adab_Khilaf_Di_antara_Para_Dai.pdf


Perselisihan Ulama

Klik untuk mengakses menyikapi-perselisihan-ulama.pdf


Sebab Para Ulama Berbeda Pendapat

Klik untuk mengakses sebab-para-ulama-berbeda-pendapat.pdf


Menyikapi Perbedaan Pendapat [Ulama] Dengan BenarPerselisihan Ulama, karya Syaikh Muhammad bin ShalihAl-‘Utsaimin
https://drive.google.com/file/d/0B3FT6ui1GzNVcmJZT2ROUVF5aEU/v
iew
=..=…
➡ Menyikapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama (Bag.2)
.
بسم الله الرحمن الرحيم
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
GABUNG GRUP WA DAKWAH SUNNAH DAN BIMBINGAN ISLAM
IKHWAN
https://chat.whatsapp.com/IjMAdVcal3SBEZyFUOgN9l
AKHWAT
https://chat.whatsapp.com/JHqH7FbZoQeJAKJtgqsRv0
=..=…
Menyikapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama
.
✅ Para ulama ahli ushul fiqh berbeda pandangan tentang bagaimana penyikapan seorang awam terhadap perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang mengatakan bahwa awam mengambil pendapat ulama yang ia pandang paling berilmu dan paling wara’. Ini adalah satu riwayat yang ternukil dari Ahmad bin Hanbal, Ibnus-Suraij dari kalangan Syaafi’iyyah, dan mayoritas ulama ushul rahimahumullah.
.
‼ Ada yang mengatakan bahwa orang awam bebas memilih ulama siapa saja yang ia pandang pendapatnya sesuai dengan kebenaran; dan ini adalah pendapat sebagian Syaafi’iyyah dan Hanaabilah. Ada yang mengatakan hendaknya mengambil pendapat yang paling berat; ini adalah pendapat yang dihikayatkan dari Dhaahiriyyah.
.
‼ Sebaliknya, ada yang berpendapat agar mengambil pendapat paling mudah dan ringan. Dan ada pula yang berpendapat orang awam bertanya kepada setiap mujtahid/ulama dalil yang mereka pakai, lalu ia berusaha/berijtihad darinya dan beramal dengan pendapat yang rajih menurut penilaiannya. Ini adalah pendapat Ibnul-Qayyim dalam I’laamul-Muwaqqi’iin.
.

‼ Maka,
.
Keempat, setelah melihat dalil dan pendalilan perkataan ulama, maka ia berusaha untuk mentarjihnya sesuai dengan kemampuannya, manakah yang lebih kuat menurutnya dan lebih menentramkan hatinya untuk diikuti. Dalam hal ini, seorang muslim dengan ilmu[8] yang ia miliki (berapapun kadarnya), harus ia pergunakan untuk mengetahui kebenaran semampunya.
.
Atau jika tidak mampu, ia mentarjihnya dengan cara memilih ulama yang menurutnya paling berilmu, paling bertaqwa, dan paling wara’ dalam agamanya – dan kemudian mengambil pendapatnya untuk diamalkan/diikuti. Dan dalam permasalahan agama secara umum, ia boleh mencukupkan diri untuk bertanya/meminta fatwa kepada orang tersebut (yang paling ia percayai keilmuannya, amanahnya, taqwanya, dan kewaraannya) dan kemudian beramal dengan fatwanya; sebagai pengamalan firman Allah ﷻ :
.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
.
‼ “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” [QS. An-Nahl : 43].
.
✅ Asy-Syaathibiy rahimahullah mengatakan:
.
أما اختلافُ العلماء بالنسبة إلى المقلِّدين، فكذلك أيضًا، لا فرق بين مصادفة المجتهدِ الدليلَ، ومصادفة العاميِّ المفتيَ؛ فتعارُضُ الفتويَيْنِ عليه كتعارض الدليلينِ على المجتهد، فكما أن المجتهد لا يجوز في حقه اتباعُ الدليلين معًا، ولا اتباع أحدهما من غير اجتهاد ولا ترجيح، كذلك لا يجوز للعاميِّ اتباع المفتيَيْنِ معًا ولا أحدهما مِن غيرِ اجتهادٍ ولا ترجيح
.
‼ “Adapun ikhtilaaf ulama yang dinisbatkan kepada para muqallid, maka demikian juga, tidak ada perbedaan antara pertemuan mujtahid dengan dalil dan pertemuan orang awam dengan mufti. Pertentangan dua fatwa bagi orang awam seperti halnya pertentangan dua dalil bagi seorang mujtahid. Sebagaimana seorang mujtahid tidak boleh mengikuti dua dalil (yang bertentangan) sekaligus dan tidak mengikuti salah satunya tanpa ijtihad dan tarjih; begitu pula tidak diperbolehkan bagi orang awam mengikuti (fatwa) dua orang mufti sekaligus dan tidak memilih satu diantaranya tanpa ijtihad dan tarjih” [Al-Muwafaqaat, 5/77].
.
✅ Al-Khathiib Al-Baghdaadiy rahimahullah membawakan riwayat:
.
أنا أَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَلَفِ بْنُ بُخَيْتٍ الْعُكْبَرِيُّ، أَخْبَرَنَا جَدِّي، قَالَ: قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرُ بْنُ أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ: فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَكَيْفَ تَقُولُ فِي الْمُسْتَفْتِي مِنَ الْعَامَّةِ إِذَا أَفْتَاهُ الرَّجُلانِ وَاخْتَلَفَا فَهَلْ لَهُ التَّقْلِيدُ؟ قِيلَ لَهُ: إِنْ شَاءَ اللَّهُ هَذَا عَلَى وَجْهَيْنِ:
أَحَدُهُمَا: إِذَا كَانَ الْعَامِّيُّ يَتَّسِعُ عَقْلُهُ، وَيَكْمُلُ فَهْمُهُ إِذَا عَقَلَ أَنْ يَعْقِلَ، وَإِذَا فَهِمَ أَنْ يَفْهَمَ فَعَلَيْهِ أَنْ يَسْأَلَ الْمُخْتَلِفِينَ عَنْ مَذَاهِبِهِمْ عَنْ حُجَجِهِمْ، فَيَأْخُذُ بِأَرْجَحِهِمَا عِنْدَهُ،
فَإِنْ كَانَ عَقْلُهُ لَمْ يَنْقُصْ عَنْ هَذَا، وَفَهْمُهُ لا يَكْمُلُ لَهُ، وَسِعَهُ التَّقْلِيدُ لأَفْضَلِهِمَا عِنْدَهُ وَقِيلَ: يَأْخُذُ بِقَوْلِ مَنْ شَاءَ مِنَ الْمُفْتِينَ، وَهُوَ الْقَوْلُ الصَّحِيحُ ؛ لأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ الاجْتِهَادِ وَإِنَّمَا عَلَيْهِ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى قَوْلِ عَالِمٍ ثِقَةٍ، وَقَدْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَوَجَبَ أَنْ يكفيه
.
‼ Telah menceritakan kepada kami Abul-Hasan Ahmad bin Al-Husain bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Khalaf bin Bukhait Al-‘Ukbariy : Telah mengkhabarkan kepada kami kakekku, ia berkata : Telah berkata Abu ‘Abdillah Az-Zubair bin Ahmad Az-Zubairiy : Apabila ada orang berkata : “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang meminta fatwa dari masyarakat awam, apabila ada dua orang ulama memberikan fatwa kepadanya yang ternyata fatwa masing-masing berbeda. Apakah boleh baginya taqlid ?”. Maka katakan kepadanya : InsyaAllah, dalam permasalahan ini ada 2 kondisi:
.
✅ Pertama, jika orang awam itu punya nalar yang cerdas dan sempurna pemahamannya, yang seandainya ia berpikir (sesuatu) akan mengetahui, dan seandainya ia memahami (sesuatu) akan paham; maka dirinya wajib untuk bertanya kepada orang lain pendapat mereka dan hujjah mereka (tentang jawaban dua mufti tersebut), lalu ia mengambil yang paling kuat (rajih) di antara keduanya.
.
✅ (Kedua) apabila nalarnya tidak kurang dari ini, hanya saja dari segi pemahamannya ia belum sempurna/memadai, maka boleh baginya untuk bertaqlid terhadap orang yang lebih utama diantara dua mufti tersebut (menurutnya). Dikatakan : orang tersebut bebas mengambil/memilih fatwa dua orang mufti itu. Ini (pun) pendapat yang benar, karena ia bukan seorang ahli ijtihad (mujtahid). Yang wajib baginya hanyalah mengembalikannya kepada pendapat seorang ‘alim yang terpercaya (menurutnya), dan ia pun telah melakukannya sehingga itu telah mencukupi
” [Al-Faqiih wal-Mutafaqqih no. 1220].
.
✅ Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
.
لكن منهم من يقول على المستفتى ان يقلد الأعلم الأروع ممن يمكنه إستفاؤه ومن هم من يقول بل يخير بين المفتين واذا كان له نوع تمييز فقد قيل يتبع أى القولين أرجح عنده بحسب تمييزه فان هذا أولى من التخيير المطلق وقيل لا يجتهد الا اذا صار من أهل الإجتهاد والأول اشبه فاذا ترجح عند المستفتى أحد القولين إما لرجحان دليله بحسب تمييزه وأما لكون قائله أعلم وأروع فله ذلك وان خالف قوله المذهب
.
‼ “Akan tetapi diantara ulama ada yang berpendapat bahwa bagi orang yang meminta fatwa agar bertaqlid kepada ulama yang dianggap paling berilmu dan wara’ yang paling memungkinkan ia mintai fatwanya. Diantara mereka ada yang berpendapat, boleh baginya untuk memilih manapun pendapat dari dua mufti/ulama tersebut. Namun apabila orang tersebut memiliki kemampuan/kapasitas, maka dikatakan dirinya mengikuti pendapat manapun yang paling rajih menurutnya sesuai dengan kemampuannya, karena ini lebih baik daripada (pendapat yang menyatakan) memilih secara mutlak. Dikatakan : seseorang tidak boleh berijtihad kecuali dirinya telah menjadi ahli ijtihad. Namun pendapat pertama yang lebih benar. Maka apabila orang yang meminta fatwa merajihkan salah satu diantara dua pendapat yang ada, baik karena kekuatan dalilnya sesuai dengan yang ia pahami, atau karena ulama yang menyatakannya ia anggap lebih berilmu dan lebih wara’; maka ia ambil pendapat itu meskipun menyelisihi madzhab (yang ia pegang)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 33/168].
.
✅ Ibnul-Qayyim rahimahullah mempertimbangkan agar mengambil perkataan ulama yang paling berilmu sebagai pendapat kelima, mengambil perkataan ulama yang paling wara’ sebagai pendapat keenam, dan menambahkan pendapat ketujuh bahwa wajib bagi orang awam untuk mempelajari dan membahas mana yang paling kuat sesuai kemampuannya; dan selanjutnya beliau (Ibnul-Qayyim) rahimahullah merajihkan pendapat terakhir ini dengan perkataannya:
.
فيعمل، كما يعمل عند اختلاف الطريقين، أو الطبيبين، أو المشيرين
.
‼ “Maka ia beramal sebagaimana ia beramal ketika terdapat perbedaan dua jalan, dua dokter, atau dua penunjuk” [I’laamul-Muwaqqi’iin, 6/205].
.
✅ Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimiin rahimahullah menjelaskan:
.
إذا كان المسلم عنده من العلم ما يستطيع به أن يقارن بين أقوال العلماء بالأدلة ، والترجيح بينها ، ومعرفة الأصح والأرجح وجب عليه ذلك ، لأن الله تعالى أمر برد المسائل المتنازع فيها إلى الكتاب والسنة ، فقال : (فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ) النساء/59. فيرد المسائل المختلف فيها للكتاب والسنة ، فما ظهر له رجحانه بالدليل أخذ به ، لأن الواجب هو اتباع الدليل ، وأقوال العلماء يستعان بها على فهم الأدلة
وأما إذا كان المسلم ليس عنده من العلم ما يستطيع به الترجيح بين أقوال العلماء ، فهذا عليه أن يسأل أهل العلم الذين يوثق بعلمهم ودينهم ويعمل بما يفتونه به ، قال الله تعالى : ( فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ ) الأنبياء/43 . وقد نص العلماء على أن مذهب العامي مذهب مفتيه
.
‼ “Apabila seorang muslim memiliki ilmu untuk membandingkan pendapat para ulama dengan dalil-dalilnya, mentarjihnya, serta mengetahui mana yang lebih shahih dan lebih kuat, wajib baginya untuk melakukannya. Karena Allah ta’ala memerintahkan untuk mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan padanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Allah ﷻ berfirman : ‘Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (QS. An-Nisaa’ : 59). Maka ia mengembalikan permasalahan yang diperselisihkan padanya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang nampak baginya lebih kuat berdasarkan dalil, ia ambil pendapat tersebut. Karena wajib baginya untuk mengikuti dalil, sedangkan pendapat ulama dipergunakan untuk memahami dalil.
.
✅ Adapun jika seorang muslim tidak memiliki ilmu yang dengannya ia mampu melakukan tarjih diantara pendapat para ulama, dalam hal ini wajib baginya bertanya kepada ulama yang ia percayai keilmuannya dan agamanya, lalu ia mengamalkan fatwanya. Allah ta’ala berfirman : ‘Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” [QS. An-Nahl : 43]. Dan ulama telah menegaskan bahwa madzhab orang awam adalah madzhab orang/mufti yang memberikan fatwa kepadanya”
[Al-Ikhtilaafu bainal-‘Ulamaa, Asbaabuhu wa Mauqifuna minhu, hal. 23].
.

_________ Lanjut ke Halaman 2 __________