➡ 2. Tidak tenggang rasa kepada keluarga mayyit
.
✅ Banyak yang tidak berpikir atau enggan mau tahu bahwa acara berkumpul dan makan bersama di keluarga mayit adalah hal yang merepotkan dan memberatkan mereka.
.
‼ Yang lebih menyedihkan lagi bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu harus terbebani dengan biaya pengeluaran semacam ini untuk bilangan hari tertentu bahkan bisa bertahun-tahun dan berulang lagi untuk tahun berikutnya, khususnya jika keluarga mayit ini  dari orang terpandang dan ditokohkan.
.
✅ Perhatikanlah arahan Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatanya berkenaan dengan keluarga mayit!

‼ Beliau menyampaikan;
.
اِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَإِنَّهُ قَدْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ
.
Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka perkara yang menyibukan mereka.”
(Hadits shahih. HR. Abu Dawud, no. 3132)
.

✅ Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata :
.
وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ
.
‼ “Dan aku menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya untuk membuat makanan bagi keluarga mayat yang mengenyangkan mereka pada siang dan malam hari kematian sang mayat.
‼ Karena hal ini adalah sunnah dan bentuk kebaikan, dan ini merupakan perbuatan orang-orang baik sebelum kami dan sesudah kami, karena tatkala datang kabar tentang kematian Ja’far maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
‼ “Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka

(lihat Kitab Al-Umm 1/278).
.
Menjadi jelaslah perkaranya bahwa yang diingkari adalah amalan khusus untuk mayit ini dan tata cara peringatan kematiannya dan bukan bacaan Tahlil di dalam acara tersebut. Dan untuk acara semisal ini adalah kesalahan karena beberapa alasan, antara lain :
.
➡ 1. Acara ‘Tahlilan’ merupakan bentuk ibadah yang tidak dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya

.
Adapun Berkumpul di rumah orang yang kena musibah kematian dan apalagi disertai dengan penghidangan makanan dari tuan rumah setelah penguburan disebut acara ‘Tahlilan’ adalah sebuah kekeliruan bahkan bisa sampai derajat kemungkaran karena lebih dekat ke perayaan niyahah (meratap) yang dilarang oleh agama.
.
➡ 2. Jamuan yang diberikan tuan rumah kepada tetamu bertentangan dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan para tetangga untuk memberi makan kepada keluarga mayit, bukan keluarga mayit yang menghidangkan makanan kepada tetangga atau tamu.
.
➡ 3. Bertentangan dengan akal.

Karena orang yang sedang didera kesedihan dengan sebab kematian anggota keluarganya sepantasnya dihibur. Bukan ditambahi beban dengan menghidangkan jamuan buat para tamu, baik tetangga maupun kerabat atau dengan membayar orang yang membacakan al-Qur’an, ceramah, tahlil atau doa.
.
➡ 4. Mengadakan perayaan untuk kematian dengan bilangan tertentu, seperti perayaan pada hari ketiga, ketujuh, dan seterusnya adalah kebiasaan yang berasal dari ajaran agama Hindu.
✅ Oleh karena itu, selayaknya kaum muslimin meninggalkannya.
.
Cara Mendoakan Mayit Sesuai Ajaran Nabi
.
✅ Pertanyaan besar, Adakah solusi untuk mengganti acara peringatan kematian ini yang tujuan utamanya adalah mendoakan si Mayyit??
.

‼ Jawabannya Ada.
.
Cara mendoakan mayit yang tidak bertentangan dengan syariat bisa dengan berbagai cara, seperti mendo’akan dan memohonkan ampunan ketika mendengar berita atau mengetahui kematian seorang muslim, ketika saat shalat jenazah, ketika ziarah kubur.
.
‼ Serta terus mendoakan dan memohonkan ampunan (dikhususkan dan lebih utama anak yang sholeh dari si mayyit) di setiap ada waktu dan kesempatan, dan boleh juga bagi kaum muslimin secara umum (mendoakan) dengan tanpa menentukan waktu, tempat dan tata-cara khusus yang tidak diajarkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul Nya.
Wallahu Jalla Wa ‘Ala A’lam.

.

.•••••••••••••••••••••••
_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_
.
_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Semua kebenaran di dalamnya adalah berkat taufiq dari Alloh. Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi dan dari setan, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_
.
_*Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.*_
.
_*Saya memohon kepada Allah Ta’ala Agar menjadikan Tulisan ini amal soleh saat hidup dan juga setelah mati untuk saya dan untuk kedua orang tua saya juga keluarga saya serta seluruh kaum muslimin dihari dimana semua amal baik dipaparkan*_
.
_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pahala, Kebaikan, Amal Shalih Pemberat Timbangan Di Akhirat Kelak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq*_
.
_*dan Akhir Do’a Kami: Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil; Pencipta langit dan bumi; Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang nyata; Engkaulah yang menghukum perselisihan di antara hamba-hamba-Mu; berikanlah petunjuk kebenaran kepada kami terhadap apa yang kami perselisihkan dengan idzin-Mu; sesungguhnya Engkau memberi hidayah kepada orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.’*_
.
_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_