Kepalsuan Kisah Nabi Idris bersama Malaikat Maut,dan Meletakkan Tangan di Dada Saat Berdiri Shalat
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
.
.
بسم الله الرحمن الرحيم
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
GABUNG GRUP WA DAKWAH SUNNAH DAN BIMBINGAN ISLAM
IKHWAN
https://chat.whatsapp.com/FQuJdk6n3rv28Lx0x1pJq7
AKHWAT
https://chat.whatsapp.com/JHqH7FbZoQeJAKJtgqsRv0
=..
Kepalsuan Kisah Nabi Idris bersama Malaikat Maut
.
Penulis :
Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.
-hafizhahullah-
.
✅ Disana ada sebuah kisah palsu yang dinisbahkan secara dusta kepada Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Saking masyhurnya kisah ini, banyak penulis, dan majalah yang menukilnya, seperti  kami pernah temukan sekitar tahun 80-an dalam “Majalah Anak Shaleh”.

.
➡ Bunyi hadits itu :
.
إِنَّ إِدْرِيْسَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ صَدِيْقًا لِمَلَكِ الْمَوْتِ. فَسَأَلَهُ أَن يُرِيَهُ الْجَنَّةَ وَ النَّارَ, فَصَعَدَ إِدْرِيْسُ فَأَرَاهُ النَّارَ فَفَزِعَ مِنْهَا وَكَادَ يُغْشَى عَلَيْهِ, فَالْتَفَّ عَلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ بِجَنَاحِهِ،
فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ : “أَلَيْسَ قَدْ رَأَيْتَهَا؟”
قَالَ : “بَلىَ، وَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ قَطُّ”.
ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ حَتَّى أَرَاهُ الْجَنَّةَ, فَدَخَلَهَا, فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ: “انْطَلِقْ قَدْ رَأَيْتَهَا”.
قَالَ : “إِلَى أَيْنَ؟”
قَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ : “حَيْثُ كُنْتَ”.
قَالَ إِدْرِيْسُ : “لَا وَاللهِ! لَا أَخْرُجُ مِنْهَا بَعْدَ أَنْ دَخَلْتُهَا”.
فَقِيْلَ لِمَلَكِ الْمَوْتِ : “أَلَيْسَ أَنْتَ قَدْ أَدْخَلْتَهُ إِيَّاهَا؟ وَإِنَّهُ لَيْسَ لِأَحَدٍ دَخَلَهَا أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا.”
.
✅ “Sesungguhnya Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu berteman dengan Malaikat Maut. Lalu ia pun meminta kepadanya agar diperlihatkan surga dan neraka. Maka idris pun naik (ke langit), lalu Malaikat Maut memperlihatkan neraka kepadanya. Lalu Idris kaget sehingga hampir pinsang. Maka Malaikat Maut mengelilingkan sayapnya pada Idris seraya berkata, “Bukankah engkau telah melihatnya?” Idris berkata, “Ya, sama sekali aku belum pernah melihatnya seperti hari ini”. Kemudian, Malaikat Maut membawanya sampai ia memperlihatkan surga kepada Nabi Idris seraya masuk ke dalamnya. Malaikat Maut berkata, “Pergilah, sesungguhnya engkau telah melihatnya”. “Kemana?”, tanya Idris. “Ke tempatmu semula”, jawab Malaikat Maut. “Tidak ! Demi Allah, aku tak akan keluar setelah aku memasukinya”, tukas Idris. Lalu dikatakanlah kepada Malaikat Maut, “Bukankah engkau yang telah memasukkannya? Sesungguhnya seorang yang telah memasukinya tidak boleh keluar darinya”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Mu’jam Al-Ausath (7/201/7269)][1]
.
Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh dusta, yaitu Ibrahim bin Abdillah bin Khalid Al-Mishshishiy.

.
‼ Sebab itu, hadits ini dicantumkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam kumpulan hadits-hadits palsu di dalam kitabnya Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah (339).

.
✅ Setelah kita mengetahui kepalsuan hadits ini, maka seorang muslim tidak boleh menyandarkannya kepada Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.
.
‼ Demikian pula seseorang tidak boleh menetapkan kisah palsu ini sebagai hujjah dan dalil dalam menetap perkara agama, apalagi memeganginya sebagai aqidah dan keimanan!

.
‼ [1] Datang kisah ini dalam sebuah atsar tanpa sanad periwayatan dalam Ma’alim At-Tanzil (5/238), karya Al-Baghowiy dari seorang tabi’in yang bernama Ka’ab Al-Ahbar. Sementara Ka’ab Al-Ahbar adalah seorang mantan pendeta yang masuk Islam dan biasa menukil sebagian dari kitab-kitab Bani Isra’il. Itulah yang biasa kita kenal dengan “Kisah Isro’iliyyat”, dan ia bukan termasuk hujjah dalam menetapkan suatu perkara, apalagi dalam hal aqidah dan perkara gaib (seperti kisah Idris masuk surga tersebut).
.
✅ Al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy –rahimahullah- berkata dalam Tafsir beliau,
.
“هَذَا مِنْ أَخْبَارِ كَعْبِ الْأَحْبَارِ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ، وَفِي بَعْضِهِ نَكَارَةٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (5/ 241)
.
‼ “(Kisah) ini termasuk kisah-kisah Isro’iliyyat yang disampaikan oleh Ka’ab Al-Ahbar. Di dalam sebagiannya terdapat nakaroh (penyelisihan), wallahu a’lam.”
Lihat : Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (5/241)

.
‼ Kisah palsu ini pernah kami dapati dalam sebuah koran portal “Republika”(https://republika.co.id/berita/oe1yc75/perjalanan-idris-as-dan-izrail-makna-dan-tujuan-hidup-yang-sebenarnya)

.=
Meletakkan Tangan di Dada Saat Berdiri Shalat
.
✅ Ada tulisan yang bilang, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada, nggak ada salafnya. Hanya pendapat ulama belakangan. Benarkah demikian ? Di sini saya hanya akan mencoba menuliskan sedikit perkataan ulama yang berkaitan dengan bahasan ini.
.

Thaawuus rahimahulah (w. 106 H) berkata:
.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى ثُمَّ يَشُدُّ بَيْنَهُمَا عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ
.
‼ “Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dengan erat di dadanya dalam shalat” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 759].

.
Sanadnya mursal (karena status Thaawus taabi’iy), akan tetapi shahih hingga Thaawus sehingga dapat dipertimbangkan sebagai pendapatnya.
.
Al-Baihaqiy rahimahullah (w. 458 H) menyebutkan dalam kitabnya:
.
باب وضع اليدين على الصدر في الصلاة من السنة
.
‼ “Bab : Meletakkan Kedua Tangan di Dada ketika Shalat termasuk Sunnah” [As-Sunan Al-Kubraa, 2/45].
.
✅ Ar-Raafi’iy rahimahullah (w. 623 H) berkata:
.
لنا ما روى عن علي رضى الله عنه انه فسر قوله تعالي (فصل لربك وانحر) بوضع اليمين على الشمال تحت النحر
.
‼ “BAGI KAMI adalah apa yang diriwayatkan dari ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu bahwasannya ia menafsirkan firman Allah ta’ala : ‘fasholli li-robbika wan-har, yaitu dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pangkal tenggorokan” [Al-‘Aziizz Syarh Al-Wajiiz, 1/478 – http://bit.ly/2Swf5uA%5D.
.
✅ Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah (w. 795 H) berkata:
.
وروي عن علي -أيضا- وعن سعيد بن جبير ، أنه يضعهما على صدره ، وهو قول الشافعي
.
‼ “Dan diriwayatkan juga dari ‘Aliy yang berasal dari jalan Sa’iid bin Jubair, bahwasannya ia (‘Aliy) meletakkan kedua tangannya di dadanya. Ini adalah pendapat Asy-Syaafi’iy” [Fathul-Baariy, 5/178].
.
✅ Tentang hadits Waail bin Hujr radliyallaahu ‘anhu:
.
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَقَدْ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى صَدْرِهِ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى
.
‼ “Aku pernah melihat Nabi ﷺ dimana beliau meletakkan kedua tangannya di dadanya, salah satunya di atas yang lain” [silakan baca pembahasannya di http://bit.ly/38e0SZI%5D

.
meskipun dhahirnya menjelaskan meletakkan kedua tangan di atas dada, namun sebagian ulama menafsirkan maksudnya adalah meletakkannya di atas pusar.
.
Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy rahimahullah berkata:
.
وَعَنْ أَحْمَدَ ؛ أَنَّهُ يَضَعُهُمَا فَوْقَ السُّرَّةِ . وَهُوَ قَوْلُ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ، وَالشَّافِعِيِّ ؛ لِمَا رَوَى وَائِلُ بْنُ حُجْرٍ قَالَ { : رَأَيْت النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى صَدْرِهِ إحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى }
.
‼ “Dari Ahmad, bahwasannya ia meletakkan kedua tangannya di atas pusar. Ini adalah pendapat Sa’iid bin Jubair dan Asy-Syaafi’iy, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Waail bin Hujr, ia berkata : Aku pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat, lalu beliau meletakkan kedua tangannya di dadanya, salah satunya di atas yang lain” [Al-Mughniy, 2/331].
[Ndak ‘bertentangan’ sebenarnya…]
.
✅ Adapun dalam kitab Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdab disebutkan:
.
والمستحب أن يجعلهما تحت الصدر لما روى وائل قال ” رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي فوضع يديه علي صدره احداهما علي الاخرى
.
‼ “Disunnahkan meletakkan keduanya di bawah dada berdasarkan hadits yang diriwayatkan Waail, ia berkata : Aku pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat, lalu beliau meletakkan kedua tangannya di dadanya, salah satunya di atas yang lain” [3/310].
.
✅ Definisi dada yang terdapat dalam kamus adalah:
.
صدر الإنسان الجزء الممتد من أسفل العنق إلى فضاء الجوف
.
‼ “Dada manusia adalah bagian yang melebar dari bawah leher hingga batas rongga perut” [Al-Mu’jamul-Wasiith, 1/105].

.
Selama tangan diletakkan di area dada, maka di situlah tempat meletakkan kedua tangan saat berdiri shalat.
.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
@DAW

.•••••••••••••••••••••••
_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_
.
_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Semua kebenaran di dalamnya adalah berkat taufiq dari Alloh. Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi dan dari setan, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_
.
_*Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.*_
.
_*Saya memohon kepada Allah Ta’ala Agar menjadikan Tulisan ini amal soleh saat hidup dan juga setelah mati untuk saya dan untuk kedua orang tua saya juga keluarga saya serta seluruh kaum muslimin dihari dimana semua amal baik dipaparkan*_
.
_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pahala, Kebaikan, Amal Shalih Pemberat Timbangan Di Akhirat Kelak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq*_
.
_*dan Akhir Do’a Kami: Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil; Pencipta langit dan bumi; Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang nyata; Engkaulah yang menghukum perselisihan di antara hamba-hamba-Mu; berikanlah petunjuk kebenaran kepada kami terhadap apa yang kami perselisihkan dengan idzin-Mu; sesungguhnya Engkau memberi hidayah kepada orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.’*_
.
_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_