NASEHAT SYAIKH ‘ALI BIN HASAN AL-HALABI -hafizhahullaah- BERKAITAN DENGAN WABAH CORONA
.


Sikap Muslim Dalam Menghadapi Virus Corona-Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘AbdilMuhsin Al-‘Abbad Al-Badr

Safari Dakwah Yogyakarta-Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.
SIKAP MUSLIM MENGHADAPI WABAH VIRUS CORONA
Audio : http://bit.ly/2TqlNDO
SETIAP AMAL TERGANTUNG NIAT
Audio : http://bit.ly/2PPEvmf
ADAB BERDANDAN & BERPAKAIAN BAGI MUSLIMAH
Audio : http://bit.ly/2PPXg9j
BELAJAR DARI WANITA-WANITA MULIA
Audio : http://bit.ly/2uTq0GM  
*Cara Menghadapi VIRUS CORONA-Ustadz Khaidir M.Sunusi Hafidzhahullah*
https://drive.google.com/file/d/159H520t9wDOiv3Ix3X3XOuCUMF92_bVu/view?usp=drivesdk
(Menyikapi Virus Corona, Ustadz SahlAbu Abdillah) Bag1: Bag2


Sikap Muslim Terhadap Corona-Ust.Firanda Andirja

*BIMBINGAN AGAMA DALAM MENYIKAPI VIRUS CORONA-Ustadz Abu Abdirrahman Abdullah Bin Amrin Al – Barowy
https://drive.google.com/file/d/1KGtt-nt7RuuG5r5kVR3K-L7CiJOsUwR6/view?usp=drivesdk
6 Nasihat Ulama Menghadapi Virus Corona (Asy-Syaikh Prof. Dr. AbdurRozzaq Al-Badr hafizhahullah)-18Mb 40Menit
https://app.box.com/s/9g5av2uh0dj6yebot2w9kbsiryqopctj


6 Nasihat Ulama Menghadapi Virus Corona (Asy-Syaikh Prof. Dr. AbdurRozzaq Al-Badr hafizhahullah)

Pandangan Islam Tentang Penyakit Corona-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Menyikapi Wabah Virus Corona – Ustadz
Abdullah Zaen, Lc., MA.

=…
Nasehat Wabah Corona.
https://drive.google.com/file/d/14Is2_sAs4DR6lCq7zz1SmjVtEQiuiWcc/view?usp=drivesdk
MAJALAH KESEHATAN MUSLIM
(Kemanakah Anda Berobat ?) 58Hlm
https://drive.google.com/file/d/0B-vSWkCwom_gV1ZoVk8zaGFJbVE/view
( Antara Tawakal Dan Pengobatan) 66Hlm
https://drive.google.com/file/d/0B-vSWkCwom_gbWpYdnB0NFJ5Tm8/view
Untukmu Dokter dan Pasien-143Hlm

Klik untuk mengakses untukmu-dokter-dan-pasien.pdf


Doa-doa Bagi Orang Sakit-69Hlm

Klik untuk mengakses doa-doa-bagi-orang-sakit.pdf


Apa yang Anda Perbuat Setelah Sembuh-20Hlm

Klik untuk mengakses apa-yang-anda-perbuat-setelah-sembuh.pdf


Sakitmu, Ladang Pahala-Dr.Abdul Aziz as-Sadhan
https://drive.google.com/file/d/1jqUnT2i59755BtMYOxL5hExAUwLuTXsF/view
Fiqh Sakit

Klik untuk mengakses 41-fiqih-ketika-sakit.pdf


Kumpulan Doa Dan Dzikir – Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz(107Hlm)

Klik untuk mengakses indu21.pdf


Dzikir-Dzikir Penjagaan dan Perlindungan Dari Segala Sesuatu Menurut Al-Qur’an dan As Sunnah-Syaikh ‘Abdullah Bin
Muhammad As-Sad-han 50Hlm

Klik untuk mengakses Mujarobat.pdf


Dzikir dan Sunnah Harian Nabi shallallahu alaihi wasallam-Dr.Abdullah bin Hamod Al-Forih 173Halaman
https://app.box.com/s/s8qh0awonemdq5spgdued67y5zc9io19
Dzikir-Dzikir Di Waktu Pagi dan Petang Hari-Abdullah bin Abdul Aziz Aidan 34Hlm
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-51.pdf
DZIKIR PAGI DAN PETANG DAN SETELAH SHOLAT FARDHU-SyaikhDr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qohthoni& Syaikh Abdullah bin Shalih
al-Fauzan(51Hlm)
https://app.box.com/s/9dd4dchewnx5125gwro1r5y8g8m5vmmn
Panduan DZIKIR PAGI v.3.0

Klik untuk mengakses Panduan-DZIKIR-PAGI-v.3.0-1.pdf


Panduan DZIKIR PETANG v.3.0

Klik untuk mengakses Panduan-DZIKIR-PETANG-v.3.0-1.pdf


Panduan DZIKIR PAGI dan PETANG – CETAK v.3.0
https://bbg-alilmu.com/wp-content/uploads/2018/01/Panduan-DZIKIR-PAGI-dan-PETANG-CETAK-v.3.0.pdf 

=…
Yang ingin saya sampaikan adalah
: apa yang berkaitan dengan pengumuman hari ini di media-media dan sudah tersebar di masyarakat; yaitu: terjadinya kasus pertama penyakit korona di negeri kita Urdun (Yordan).


.
Dan Sebagaimana telah kita sebutkan bahwa negeri Urdun merupakan bagian dari dunia ini. Dan penyakit ini bermula di Cina, kemudian berpindah ke sebagian negeri Eropa, Negeri Asia, dan sebagian negeri Arab; maka bukan hal yang mustahil bahwa penyakit tersebut berpindah juga ke negeri kita -karena kita
bagian dari dunia ini-, maka apa yang menimpa dunia; akan menimpa kita j
uga.
.

Dan Allah -‘Azza Wa Jalla- berfirman:
.
{ ﻗُﻞْ ﻟَﻦْ ﻳُﺼِﻴْﺒَﻨَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻨَﺎ …}
.
“Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (QS. At-Taubah: 51)

.

Dari sini ini kita akan memulai sebuah kalimat ringkas, yang saya tidak ingin memperpanjang. Sebagaimana dikatakan: “Kewajiban sekarang mengharuskan adanya peringatan dan isyarat.”

.
Maka kita senantiasa mengingat firman Allah:
.
{ ﻭَﺍﻟْﻌَﺼْﺮِ * ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥَ ﻟَﻔِﻲْ ﺧُﺴْﺮٍ * ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﺗَﻮَﺍﺻَﻮْﺍ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒْﺮِ }
.
Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
.

Dikarenakan (kewajiban nasehat) inilah kita bicara tentang masalah ini.
.
Dalam musnad Imam Ahmad dan yang lainnya (Sunan Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Shahih Ibnu Hibban), dari hadits Anas – radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- biasa berdo’a:

.
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺒَﺮَﺹِ، ﻭَﺍﻟْﺠُﻨُﻮْﻥِ، ﻭَﺍﻟْﺠُﺬَﺍﻡِ، ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻲِّﺀِ ﺍﻟْﺄَﺳْﻘَﺎﻡِ
.
Allahumma inni a’udzu bika minal barash wal junuun wal judzaam, wa a’udzubika min sayy’il asqaam
.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan segala penyakit yang buruk.”
.


Yakni: Rasul yang mulia -‘alaihish shalaatu was salaam- berlindung dari penyakit atau wabah wabah tertentu (penyakit belang, gila, & lepra) secara khusus, kemudian beliau berlindung secara umum dari seluruh penyakit-penyakit yang buruk.

Dalam hadits yang lain Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
ﺍﻟﻄَّﺎﻋُﻮْﻥُ ﺷَﻬَﺎﺩَﺓٌ ﻟِﻜُﻞِّ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ
.
“(Wabah) tha’un adalah mati syahid bagi setiap muslim.”
.

Inilah perbedaan antara seorang muslim muhtasib (yang mengharap pahala) dengan yang lainnya. Muslim muhtasib mengharap pahala di sisi Rabb-nya atas segala yang menimpanya, sampai duri yang mengenai seorang mukmin; maka dia mendapat pahala sebagaimana disabdakan oleh Nabi – shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.
.
Dan di dalam Al-Qur-an yang mulia Allah firmankan:

.
{ ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﻣِﻦْ ﻣُﺼِﻴْﺒَﺔٍ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟﻠﻪِ …}
.
Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah;…” (QS. At-Taghabun: 11)
.


Maka, setiap perkara yang menimpamu adalah sesuatu yang telah tertulis (ditakdirkan) atasmu. Akan tetapi, bagaimana engkau menyikapinya? Engkau tidak mengetahui apa yang Allah tetapkan atasmu, karena ini termasuk perkara yang ghaib. Akan tetapi yang terpenting adalah: apa yang dituntut darimu?
.
Yang dituntut darimu adalah mengambil sebab-sebab.

Dan mengambil sebab-sebab dalam kasus kita ini adalah terbangun di atas tiga asas.
.
Asas yang PERTAMA: semangat untuk mengikuti kaidah-kaidah syari’at yang telah dijelaskan oleh syari’at yang bijaksana ini kepada kita. Dan ilmu kedokteran baru seratus tahun kemudian mengisyaratkan dan menetapkan hal ini.
Yaitu dalam masalah (wabah) tha’un yang Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-bersabda:
.
ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻢْ ﺑِﻪِ ﺑِﺄَﺭْﺽٍ، ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺪْﺧُﻠُﻮْﻫَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺩَﺧَﻠَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ، ﻓَﻠَﺎ ﺗَﺨْﺮُﺟُﻮْﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎﻓِﺮَﺍﺭًﺍ
.
Jika kalian mendengar (tha’un) ini menimpa suatu negeri; maka janganlah kalian memasuki (negeri) tersebut, dan janganlah kalian keluar dari negeri (yang terkena wabah) tersebut.”
.

Ini yang dinamakan “al-Hajr ash-Shihhi” (karantina) yang kita dengar sekarang siang dan malam.
.
Akan tetapi karantina ini berbeda antara:
– jika wabah menimpa suatu negeri secara keseluruhan, dengan
– negeri yang wabahnya hanya menimpa beberapa orang tertentu saja
.
Jika wabah hanya menimpa beberapa orang tertentu saja; maka yang wajib dalam karantina adalah “al-‘Azl” (karantina terbatas), yang ini lebih sempit dari karantina secara umum.
.
Dan jika terjadi kesamaran (terindikasi tapi belum positif -pent); maka karantina terbatasnya harus lebih jelas; dimana yang samar (terindikasi) dipisahkan dari yang lain (yang sehat).
.
Dan kita sekarang dalam fase atau keadaan di mana yang positif terkena hanya satu, akan tetapi ada kesamaran. Maka yang samar ini hendaknya tidak dicampur (dengan yang sehat -pent).
.
Jadi, hal ini memang berkaitan dengan ilmu kedokteran, akan tetapi syari’at telah menjelaskan kepada kita tentang hal ini. Oleh karena itulah di antara kaidah para fuqaha’ (ahli fikih) adalah:
“Mencegah lebih mudah daripada mengangkat.”
.
Artinya: mencegah sesuatu dengan cara menjaga diri darinya; itu lebih mudah daripada sesuatu tersebut menimpa kita, kemudian baru kita mulai berusaha menghilangkan dan mengangkat serta membebaskan diri darinya.
.
Mana yang lebih utama? Mana lebih mudah?
Dan mana yang lebih bagus?

Tidak diragukan bahwa: mencegah lebih utama.
Ada ungkapan yang tersebar dan dikenal oleh anak kecil maupun dewasa: “Satu dirham (yang dikeluarkan) untuk mencegah lebih baik daripada harta yang banyak (yang dikeluarkan) untuk mengobati.”
.
Ini adalah perkataan yang masuk akal dan diterima secara syari’at dan sesuai dengan realita.
.
Adapun point yang KEDUA; adalah: berobat.
.
Umpama ada seseorang yang terkena penyakit ini -dan kita minta kepada Allah agar memberikan kesehatan kepada kita, kepada
kalian, dan kepada seluruh kaum muslimin-; maka tidak ada suatu penyakit pun melainkan ada obatnya.
.
Sampai di negeri barat yang memang ada kabar yang sampai kepada kita tentang meninggalnya banyak orang. Akan tetapi ada juga kabar tentang adanya keberhasilan dan kesembuhan.
.
Maka kita jangan hanya melihat suatu perkara dari sisi gelapnya saja; karena hal ini akan menyebabkan munculnya rasa takut dan pesimis di antara kita, dan ini semuanya tidak boleh.
.
Memang ada rasa takut yang tabi’at dan ini bagian dari tabi’at manusia. Akan tetapi terkadang jika perkaranya keluar dari batasan secara tabi’at (menjadi paranoid -pent); maka ini musibah, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk melakukannya.
.
Point yang KETIGA: bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah mengajarkan kepada kita do’a yang kalau seorang muslim membacanya tiga kali di waktu pagi dan petang; maka tidak akan ada sesuatu yang bisa membahayakan dirinya. Yaitu do’a:

.
bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i, wa huwas samii’ul ‘aliim”
.
Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya: tidak ada sesuatu pun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dialah Yang Maha Mendengar dan Yang Maha Mengetahui.”
.


Ini merupakan benteng di antara benteng-benteng penjaga yang sangat banyak.
Kenapa tidak kita jadikan pada lisan dan hati kita, senantiasa pagi dan petang: untuk membaca ayat kursi, surat-surat “al Mu’awwidzaat” (Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas), dan Al-Fatihah yang merupakan Ummul Kitab. Ini semua -Insya Allah- bisa menjadi lebih besar (manfaatnya) bagi seorang mukmin yang yakin terhadap Rab-Nya; dibandingkan makanan (obat-obatan), karantina ataupun yang lainnya.
.
Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, bahwa dia bertanya kepada bapaknya: Wahai ayahku, aku selalu mendengar engkau membaca: (dzikir di atas), dan engkau mengulanginya 3x setiap pagi dan 3x setiap sore. Kemudian Abu Bakrah radliallahu ‘anhu mengatakan: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa ini, dan aku senang meniru sunnah beliau
.
.
Dibaca 3x
.
اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ
.

Allaahumma ‘aafinii fii badanii, allaahumma ‘aafinii fii sam’ii, allaahumma ‘aafinii fii bashorii, laa ilaaha illaa anta. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqr, allaahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qobr, laa ilaaha illaa anta.
.

Ya Allah, selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau.
.

(HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42, An-Nasai dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 22, halaman 146, Ibnus Sunni no. 69. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menyatakan sanad hadits tersebut hasan. Lihat juga Tuhfatul Akhyar, halaman 26.)
.
Keterangan:
Di awal dzikir disebutkan badan, kemudian disebutkan pendengaran dan penglihatan, padahal pendengaran dan penglihatan termasuk anggota badan. Ini menunjukkan keutamaan pendengaran dan penglihatan. Disamping kedua indra tersebut merupakan jalan masuknya ilmu.
.
Kita tidak menafikan karantina dan semisalnya, kita menetapkan dan kita mengusahakannya; akan tetapi: sekedarnya.
.
Jangan kita besar-besarkan perkara.Dan jangan pula meremehkannya! Hendaknya kita bersikap pertengahan dalam hal tersebut.
.
Hendaknya kita bersikap pertengahan dalam memahami dan mengatasi permasalahan.

.

Dan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika bersabda:
.
ﺍﺣْﻔَﻆِ ﺍﻟﻠﻪَ؛ ﻳَﺤْﻔَﻈْﻚَ
.
“Jagalah Allah; niscaya Allah akan menjagamu.”

.

Maka kalimat “niscaya Allah akan menjagamu” ini mencakup bukan hanya satu jenis penjagaan saja (hanya dalam urusan agama -pent) sebagaimana disangka sebagian orang; akan tetapi ini adalah penjagaan yang mencakup (urusan dunia -pent).
.
Oleh karena itulah dikatakan kepada seorang ulama yang umurnya sudah sangat tua: Bagaimana anda -masya Allah- masih gagah dan semangat padahal umur anda sudah sangat tua. Ulama itu berkata: “Anggota tubuhku telah aku jaga ketika masih muda; maka Allah menjaga anggota tubuh tersebut ketika aku sudah tua.”
.
“Jagalah Allah; niscaya Allah akan menjagamu.”
.

Kemudian, di antara kaidah dari ‘aqidah kita (dalam masalah takdir -pent): adalah seperti yang disabdakan oleh Nabi – shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:
.
ﻭَﺍﻋْﻠَﻢْ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺄُﻣَّﺔَ ﻟَﻮِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥْ ﻳَﻀُﺮُّﻭْﻙَ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ؛ ﻟَﻢْ ﻳَﻀُﺮُّﻭْﻙَ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻗَﺪْﻛَﺘَﺒَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻚَ، ﺭُﻓِﻌَﺖِ ﺍﻟْﺄَﻗْﻠَﺎﻡُ، ﻭَﺟَﻔَّﺖِ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ
.
Ketahuilah, seandainya semua umat berkumpul untuk membahayakanmu; maka mereka tidak dapat membahayakanmu kecuali dari apa yang telah Allah takdirkan untuk menimpamu.Pena (pencatat takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah kering.”
.

Maka saya katakan sebagai penguat apa yang telah sayasampaikan sebelumnya: kita harus bersemanagat, berhati-hati, menjaga diri dan memperhatikan karantina sesuai dengan tempat, waktu dan syarat-syaratnya. Di lain segi, barangsiapa yang tertimpa musibah penyakit ini: maka hendaknya dia bersabar dan berdo’a kepada Allah dan berobat, karena “tidak ada suatu penyakit pun kecuali ada obatnya” sebagaimana disabdakan oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

.

Dan saya tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini. Yang saya sampaikan hanyalah sebagai peringatan bagi diriku dan bagi saudara-saudaraku.
.
Saya minta kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- agar menyelamatkan kita, kalian dan kaum muslimin semuanya, dan agar menghilangkan dari kita dan dari kalian: musibah, wabah, dan segala penyakit. Sungguh, Rabb-ku Maha Mendengarkan do’a. Dan penutup do’a kita adalah: “Alhamdu Lillaahi Rabbil ‘Aalamiin” (segala puji bagi Allah Rab seuruh alam).
.

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix

Tips Menghadapi Virus Corona
.
Entahlah… apakah virus Corona termasuk salah satu jenis dari penyakit Tho’un, karena penularannya yang sangat mirip dengan penyakit tersebut.
.
Namun kami sarankan beberapa tips berikut untuk mengantisipasi penyakit Corona tsb:
.
1. Takutlah sebatas untuk Anda waspada, dan jangan pernah berlebihan, karen
a;
.
takut berlebihan melemahkan Tawakkal, dan itu artinya anda akan lepas dari penjagaan Allah
– takut berlebihan sebentuk Su’udzon seolah – olah anda akan hancur, dan Su’udzon sesungguhnya sebentuk doa yang tdk disadari
– takut berlebihan adalah suasana stressing yg dapat menurunkan kwalitas kesehatan anda
– anda pasrah untuk kematian anda, maka hendaknya andapun pasrah untuk c
orona
.
2. Jangan Takabbur, “aku tidak akan terserang Corona”
.
3. Jangan mengolok-olok Corona , misalnya anda katakan; tante corona … Dll
.
4. Jangan pernah mempersulit orang lain, yakni mencari keuntungan didalam kesulitan orang lain, misalnya dengan menjual masker dengan harga yg menyulitkan, …bisa-bisa andalah yang akan dihukum oleh Allah dengan Corona
.
5. Jangan pernah mendatangi dukun, karena dosa syirik akan membuat ana tdk akan ditolong oleh Allah, bshkan bisa2 tidak diampuni oleh Allah
.
6. Jangan pernah menyebarkan berita-berita dusta terkait Corona dan yang lain.
.
7. Kokohkan Tawakkal, karena Tawakkal adalah benteng yang tdk mungkin tergoyahkan
.
8. Jangan pernah abaikan dzikir pagi dan petang.
.
9. Berdoalah untuk keselamatan anda dan keselamatan orang lain, dan jika anda mendengarkan adanya korban corona, maka berusahalah berdoa untuknya agar ia sembuh
.
10. Jaga kesehatan dan kekebalan tubuh
.
11. Jagalah Allah niscaya Allah-pun menjagamu

.
** Diantara dzikir pagi yang mengandung benteng perlindungan dengan idzin Allah:
.
ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻜﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘّﺎﻣّﺎﺕِ ﻣِﻦ ﺷَﺮّ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ
.
A‘uudzu bi kalimaatillaahit-taammaati min syarri maa khalaq.
Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala keburukan ciptaan nya” 3x(HR muslim dll)
.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻟَﺎ ﻳَﻀُﺮُّ ﻣَﻊَ ﺍﺳْﻤِﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﺴَّﻤِﻴﻊُﺍﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ
.
bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fissamaa’i, wa huwas samii’ul ‘aliim
.
dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuat di bumi dan di langit yang bisa membahayakan. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
.

Barang siapa yang membacanya 3x di pagi, niscaya ia tidak akan tertimpa musibah mendadak sampai sore, dan barang siapa yang membacakannya 3x di sore hari, niscaya ia tidak akan tertimpa musibah mendadak sampai pagi har
i (Shahih HR Nasai,Thabrani dll)

.
**Diantara Doa yang disarankan:
.
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺯَﻭَﺍﻝِ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻚَ ﻭَﺗَﺤَﻮُّﻝِ ﻋَﺎﻓِﻴَﺘِﻚَ ﻭَﻓُﺠَﺎﺀَﺓِ ﻧِﻘْﻤَﺘِﻚَ ﻭَﺟَﻤِﻴﻊِﺳَﺨَﻄِﻚَ
.

Allaahumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa-ati niqmatik, wa jamii’i sakhathik.

.
ya Allah.. aku berlindung kepadamu dari hilangnya nikamatmu, dari berubahnya perlindunganmu, dari musibah yang mendadak,.dan dari segala kemurkaanmu” ( HR Muslim dll)  

*Membaca Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah*
.
Allah berfirman:
.
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰٓئِكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ ۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ ۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
.
*aamanar-rosuulu bimaaa unzila ilaihi mir robbihii wal-mu`minuun, kullun aamana billaahi wa malaaa`ikatihii wa kutubihii wa rusulih, laa nufarriqu baina ahadim mir rusulih, wa qooluu sami’naa wa atho’naa ghufroonaka robbanaa wa ilaikal-mashiir*
.
_”Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. Dan mereka berkata, Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.”_
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 285)
.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعْفُ عَنَّا ۗ وَاغْفِرْ لَنَا ۗ وَارْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ
.
*laa yukallifullohu nafsan illaa wus’ahaa, lahaa maa kasabat wa ‘alaihaa maktasabat, robbanaa laa tu`aakhiznaaa in nasiinaaa au akhtho`naa, robbanaa wa laa tahmil ‘alainaaa ishrong kamaa hamaltahuu ‘alallaziina ming qoblinaa, robbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thooqota lanaa bih, wa’fu ‘annaa, waghfir lanaa, war-hamnaa, anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal-qoumil-kaafiriin*
.
_”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”_
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)
.
Hadis Selengkapnya:
Dari Abu Mas’ud Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: *”Dua ayat di akhir surat Al-Baqarah, siapa yang membacanya di suatu malam, itu sudah cukup baginya.”*
HR. Bukhari 4008 dan Muslim 807.
.
*Makna “dua ayat ini cukup bagi pembacanya”: dua ayat ini akan menjaganya dari segala keburukan, dan melindunginya dari segala yang dibenci. Ada sebagian ulama yang mengatakan: dua ayat ini menjadi sebab baginya untuk bangun malam. Sehingga dia bisa mudah melakukan tahajud.*


*Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas Setiap Sore dan Pagi*
.
_*Barangsiapa membaca tiga surat tersebut (surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, ketiganya dinamakan Al-Mu’awwidzaat) sebanyak 3x setiap pagi dan sore hari, maka itu (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu.” (Yaitu melindunginya dari segala bentuk bahaya dengan izin Allah)*_
HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidzi 5/567 dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/182.
.
*Dibaca 1x Sore dan Pagi Agar Terpelihara Dari Keburukan dari muka, belakang, kanan, kiri, Bawah dan atas*
.
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ وَأَهْلِي وَمَالِي، اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي، اَللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي، وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي
.
*Allaahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fid-dunyaa wal aakhiroh, allaahumma innii as-alukal ‘afwa wal ‘aafiyata fii dinii, wa dunyaaya, wa ahlii, wa maalii, allaahummas-tur ‘aurootii, wa aamin rou’aatii, allaahummah-fazhnii min baini yadayya, wa min kholfii, wa ‘an yamiinii, wa ‘an syimaalii, wa min fauqii, wa a’uudzu bi’azhomatika an ugh-taala min tahti*
.
_Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf (ampunan) dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon maaf (ampunan) dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aurat badan, cacat, aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ulat, tenggelam atau ditelan bumi dan lain-lain)._
.
Keutamaan:
_*Dari Ibn Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca wirid ini ketika pagi dan sore, dan beliau tidak pernah meninggalkannya sampai beliau meninggal dunia: (dzikir di atas).* (HR. Abu Daud, Ibn Majah dan dishahihkan Al Albani)._
.
_Dari Abbas bin Abdul Muthallib, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: *Ya Rasulullah, ajarilah aku doa yang harus aku panjatkan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abbas, mintalah al afiyah (terbebas dari masalah) kepada Allah.” Kemudian, setelah tiga hari, Abbas datang lagi dan mengatakan: Ya Rasulullah, ajarilah aku doa yang harus aku panjatkan kepada Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Abbas, wahai pamanku, mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat.”* (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani)._
.
_Dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, bahwasanya *ada seorang yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: Ya Rasulullah, doa apa yang paling afdhal? Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat.” Kemudian besoknya dia datang lagi dan bertanya: Wahai Nabi Allah, doa apa yang paling afdhal? Beliau menjawab: “Mintalah kepada Allah al afiyah (terbebas dari masalah) di dunia dan akhirat. Karena jika engkau diberi al afiyah di dunia dan akhirat berarti kamu beruntung.”* (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad dan dishahihkan Al Albani)._