NASEHAT DALAM MENUNTUT ILMU (12)
.

.
*Menuntut Ilmu Itu Agama Itu Wajib – Ust.Muhammad Nurul Dzikri*
https://bit.ly/NasihatSingkat-20
*Nasehat Untuk Penuntut Ilmu – Ustadz Abu Izzi Masmu’inhafidzohulloh*
https://bit.ly/NasihatSingkat-25
*Lihatlah Dari Siapa Engkau Mengambil Ilmu-Agamamu-Ust.Abdullah Taslim*
https://bit.ly/NasihatSingkatBIAS-41
*Ilmu Adalah Jalan Keselamatan – UstadzAbu Haidar as-Sundawy*
mp3.radiotarbiyahsunnah.com/Kajian%20Ilmiah/Ustadz%20Abu%20Haidar%20Assundawy/tematik/20180115%20Ilmu%20adalah%20Jalan%20Keselamatan%20-%20Ustadz%20Abu%20Haidar%20as-Sundawy-.mp3
*Kajian Ilmu-Ustadz Syafiq Basalamah*
*Merasa Kaya Ilmu*

*Adab Penuntut Ilmu*

*Berilmu Tapi Tidak Bisa Mencium Bau Surga*

*Kajian Ilmu-Ustadz Muhammad Nurul Dzikri*
&Sudah Bermanfaatkah Ilmu Anda*

*Amanat Itu Bernama Ilmu*

*Tanda Ilmu Yang Bermanfaat*

*Ilmu Lebih Dari 1000 Raka’at*

*Ilmu Antara Kecerdasan Hati*

*Bagaimana Ulama Belajar Ilmu*

=…
*SYARAH HADITS MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SORGA | USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS 13Mb*
Bag1: https://app.box.com/s/ejvmqjo5hqpg0xql4u9qwdt464f5y4qy
Bag2: https://app.box.com/s/ot85f6swi7eoo5gq8xo7zbf4dmv3yr09
Bag3: https://app.box.com/s/ndenms4oo8eoc5m9vwev6hp7l2rbv5hj
Bag4: https://app.box.com/s/e2jnye0vbtk2gzqhwo92f8ul0by13n1c
Bag5: https://app.box.com/s/3ybtmcj8o4wtbkwvlny9j1v8ca8ljc8q
*KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU SYAR’i USTADZ YAZID BIN Abdul Qadir Jawas*
https://app.box.com/s/vcu5ek824mafd9f2apojihewzm2brvzq
*Soal Jawab Panduan Menuntut Ilmu-Ust.Yazid Jawas.webm*
https://app.box.com/s/hgzx0rjp9ljhqohepayk0ly06lwpce98
*BERSABAR DAN SEMANGAT MENUNTUT ILMU-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron,Lc*
https://drive.google.com/file/d/1–VhrSe9UofSKzHpeNPzgGdSGyl6f3l1/view?usp=drivesdk
*KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU – Ustadz Ahmad Sabiq,Lc -Hafizhahullah*
https://drive.google.com/file/d/10CjrWWXzKRDkTASRYj5KoBIX_IzhQV41/view?usp=drivesdk
*BEKAL PENUNTUT ILMU | AS-SYAIKH ABU HAZIM RAMADHAN.ABKAR*
https://drive.google.com/file/d/12V_roxJ9fhdFwJ1BTLOY4qrvJLRMal5f/view?usp=drivesdk
*Untuk Yang Baru Hijrah, Pelajarilah Ilmu Ini-Ustadz Dahrul Falihin, Lc 13Mb*
https://app.box.com/s/cix9pdvqxu66zjs4kb727w8hzdt2jikb
*Merasa Berilmu – Ustadz Dr Syafiq Riza Basalamah 27Mb*
https://app.box.com/s/30zim7zzrygmmcigryi54vea0p6qc7d8
*Adab Penuntut Ilmu – Ustadz DR Syafiq Riza Basalamah MA 20Mb*
https://app.box.com/s/bczr2bp2ex0hzr2yqpilx5w2ugtj1g9a
*BERILMU TENTANG LAA ILAAHA ILLALLAH-Ust Ahmad Bazher*
https://bit.ly/2Yr1OZP (15 mb)
*Nasehat Untuk Penuntut Ilmu-Ust.Farhan AbuFuraihan.mp3*
https://app.box.com/s/nfjvvi2nmkcfr6jzoe43u248ylkg8sqeqe
*Soal Jawab Panduan Menuntut Ilmu-Ust.Yazid Jawas.webm*
https://app.box.com/s/hgzx0rjp9ljhqohepayk0ly06lwpce98
*Keutamaan Mengajarkan Kebaikan Kepada Manusia-Ustadz Nizar Saad Bin Jabal.19Mb*
https://app.box.com/s/bfjevs60k2zz33h6isfw426qzsnvnwqv
=…
*Ebook*
*Ta’lim Al-Muta’allim (Metode Belajar yang Baik) – Syekh Burhanuddin al-Zarnuji 59Halaman*

Klik untuk mengakses TerjemahTalimMutaallim.pdf


*Al-Quran Sumber Segala Ilmu-Nor Kandir 144Hlm*
http://bit.ly/2m6OLGC
*Arbain 40Hadits Penuntut Ilmu*

Klik untuk mengakses arbain-penuntut-ilmu.pdf


*Penjelasan Shahih Bukhori Kitab Ilmu-275Halaman*
https://app.box.com/s/188cm7siyo5w238mx308u0nlhb9kggld
*Nasehat Bagi Penimba Ilmu (26Hlm)*
https://app.box.com/s/brnnulkqjclbz9zxvzjnbc96mci3b1tj
*Sekelumit Catatan dan Nasihat Bagi Pencari Ilmu [51Hlm]*
https://drive.google.com/open?id=1me1-9tCYf5MTKw5u6sTEvC7snBdfPK1D
*Langkahkan Kakimu Tuk Menimba Ilmu [26Hlm]*

Klik untuk mengakses langkah.pdf


*Kewajiban Menuntut Ilmu Agama-Muhammad bin al-Husain alAjurri*
https://drive.google.com/file/d/1rEg00gXPKEQhbCiZ696JNvLPUZ1kskBf/view
*Menuntut Ilmu Agama(Syar’i)*
https://www.box.com/s/a9ef1724d376f0b28b22
*Adab Menuntut Ilmu 24Halaman*

Klik untuk mengakses 35-adab-penuntut-ilmu.pdf


*Lentera Penuntut Ilmu 73Halaman*
https://app.box.com/s/gw1ba62ifiy10ld4uwa17slefjn5a1pf
*Prinsip Prinsip Mengkaji Ilmu Agama*
https://www.box.com/s/66d0df41b03435d50c62
*40 hadits tentang keutamaan ilmu dan,keutamaan menuntut ilmu*

Klik untuk mengakses Arbaun%20Fi%20Thalib%20Al%20Ilm.pdf


=….


NASEHAT DALAM MENUNTUT ILMU (12)
Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-
(Masjid Nurul Iman)
.
[MUQADDIMAH]
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas segala nikmat: nikmat Islam dan Sunnah, hidayah, dan taufik untuk menuntut ilmu syari’i, dan ini merupakan “Ushuulun Ni’am” (pokok-pokok nikmat).
.
Musibah yang berkaitan dengan Corona ini sudah menyebar di dunia -termasuk di Indonesia-. Ketika ada masalah seperti ini; maka kita melihat menurut pandangan syari’at. Yakni: bahwa semua yang terjadi sudah Allah tetapkan
. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ…
.
“Allah menulis takdir para makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi…” [HR. Muslim]
.

Semua sudah tercatat; baik bentukn
ya: sehat, penyakit, musibah, wabah, orang celaka atau bahagia. Tidak ada yang terjadi yang belum tercatat di “Lauh Mahfuzh”. Maka ini menunjukkan: keluasan ilmu Allah, keadilan Allah, dan rahmat Allah. Sehingga yang terjadi sekarang ini adalah sudah ditakdirkan oleh Allah. Dan semuanya Allah kaitkan dengan perbuatan manusia:
.
{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْ عَنْ كَثِيْرٍ}
.
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
.

Maka ada dua faedah:
1. Semua musibah yang terjadi adalah dengan takdir Allah.
2. Allah kaitkan musibah tersebut dengan dosa-dosa manusia.
.
Kalau Allah menghendaki; maka Allah akan adzab semuanya, akan tetapi Allah banyak memaafkan.
.

Allah juga berfirman:
.
{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ * قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ}
.
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang musyrik (mempersekutukan Allah).”.” (QS. Ar-Rum: 41-42)
.

Tujuan Allah dengan adanya musibah, petaka, bencana dan wabah adalah: agar manusia kembali kepada Allah. Sedangkan yang ada sekarang ini: banyak manusia yang berbuat syirik. Maka Allah timpakan musibah; itupun hanya sebagian akibat dari perbuatan mereka:

.
{…لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا…}
.
“…Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka…
.

Maka tugas para da’i adalah: mereka menganjurkan untuk bertaubat kepada Allah, bukan takut. Harusnya tambah yakin bahwa semua yang menimpa adalah dengan takdir Allah.
Allah berfirman:
.
{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِيْ أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِيْ كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ * لِكَيْ لَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَا آتَاكُمْ وَاللهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ}
.
Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 22-23)
.


Kalau kita liht banyaknya musibah adalah karena: sombong, melawan Allah, mencela agama Allah, maksiat dan lainnya.
Kemudian, dengan adanya musibah ini harusnya menjadikan kita bertambah yakin bahwa: tidak ada yang menimpa kita kecuali yang Allah takdirkan.
Allah berfirman:
.
{قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ}
.
Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”.” (QS. At-Taubah: 51)
.

Tawakkal; yaitu: kejujuran hati ini dalam pasrah kepada Allah dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.
.
Sihir yang sangat berbahaya saja Allah katakan:

.
{…وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللهِ…}
.
“…Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah…” (QS. Al-Baqarah: 102)
.

Orang beriman harus kuat tawakalnya kepada Allah. Bukan nekat, tapi kaum muslimin jangan ditakut-takuti. Justru kita tambah bertaubat dan menyuburkan iman kepada Allah. Mestinya semua dikaitkan dengan takdir Allah dan sesuai syari’at Allah. Kita bukan nekat, kita ada pencegahan sesuai dengan sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:
.

احْفَظِ اللهَ؛ يَحْفَظْكَ
.
Jagalah Allah; niscaya Allah akan menjagamu.”
.
Dzikir pagi dan petang juga penjagaan, di antaranya:
.
اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ، وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ
.
“Ya Allah, peliharalah aku dari depan, belakang, kanan, kiri, dan dari atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (aku berlindung dari dibenamkan ke dalam bumi).”

.
Di samping itu juga berdo’a kepada Allah:
.
اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُوْنِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّءِ الْأَسْقَامِ
.

a’uudzubika minash shamam, wal bakam, wal junuun, wal judzaam, wal barash, wa sayyi`il asqaam

.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra, dan segala penyakit yang buruk.”
.
Kita bisa baca pada saat sujud, pada sepertiga malam terakhir, dan tempat/waktu mustajab lainnya. Setelah membaca do’a; maka kita bertawakal, kemudian kita juga tidak bergaul dengan orang yang kena.

.

Ini yang harus kita ingatkan. Harusnya penyakit ini dikaitkan dengan dosa manusia.
Ketika ada masalah di rumah tangga, di kantor, dan lain-lain; makakita koreksi: dosa apa yang telah kita lakukan.
.
Dan dosa obatnya adalah taubat. Dakwah para nabi dan rasul disamping memerintahkan Tauhid; juga memerintahkan istighfar
:
.
{فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا}
.
Maka aku (Nuh) berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, Sungguh, Dia Maha Pengampun.” (QS: Nuh: 10)
.

Kalau kita tidak yakin kepada Allah; maka kalau terus begini: ditakutkan akan Su-ul Khatimah, kalau iman itu tambah turun; maka ini bahaya.
Kita Wajib yakin kepada Allah, jaga batas-batas Allah, laksakan perintah-perintah Allah dan jauhkan larangan-larangan-Nya, jauhkan perbuatan dosa dan maksiat. Kita Wajib hati-hati ketika terjadi wabah Corona menyebar, ikhtiar sesuai dengan syariat dan medis yg benar, berobat, tawakkal, betaubat, dan berdo’a kepada Allah, berdzikir dan memperbanyak istighfar. Dalam keadaan seperti ini jangan menakut-nakuti orang Islam,
Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
.
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain.” [Shahih: HR. Abu Dawud]

.
[LANJUTAN KIAT-KIAT MERAIH ILMU SYAR’I]
KIAT KESEBELAS: MENGAMALKAN ILMU SYAR’I YANG TELAH DIPELAJARI
.
Hal ini sangat penting karena ilmu syar’ i yang telah dipelajari adalah untuk diamalkan, bukan sekedar untuk dihafalkan. Para ulama menasehati kita bahwa menghafal ilmu dengan cara mengamalkannya. Hendaklah seorang penuntut ilmu mencurahkan perhatiannya untuk menghafalkan ilmu syar’i ini dengan mengamalkannya dan ittiba’. Sebagian Salaf mengatakan, ”Kami biasa memohon bantuan dalam menghafalkan ilmu dengan cara mengamalkannya.”
.
Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yaitu adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut. Dengan demikian, maka siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya ia diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaannya, dan ganjaran pahalanya yang besar.
.
Ini penting: takut kepada Allah, ini yang paling tinggi, jangan takut kepada virus. Kita takut akan kelalaian kita, akan maksiat kita, takut diadzab oleh Allah. Rasa takut ini akan mencegah kita dari maksia
t. Di antara do’a Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah minta diberikan rasa takut kepada Allah:
.
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
.

Allaahummaqsim lana min khasy`yatika ma yahuulu baynanaa wa bayna ma’aashiik, wa min thaa’atika maa tuballighuna bihi jannatak,
wa minal yaqiini maa tuhawwinu bihi ‘alayna mushiibatid dunya, wa matti’na bi asmaa’ina, wa abshaarina, wa quwwatina maa ahyaytanaa
waj’alhul waaritsa minna, waj’al tsa’ranaa ‘ala man zhalamanaa, wanshurnaa ‘ala man ‘aadaanaa, wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa, wa laa taj’alid dunyaa akbara-hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa, wa laa tusallith ‘alaynaa man laa yarhamunaa

Ya Allah, anugerahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu, yang menghalangi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugerahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan menyampaikan kami ke Surga-Mu kelak, dan (anugerahkanlah pula) keyakinan yang akan menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini. Ya Allah, anugerahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup, dan jadikanlah ia warisan dari kami. Dan jadikanlah balasan kami atas orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah ada dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita terbesar dan puncak dari ilmu kami, serta jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak mengasihi kami berkuasa atas kami.” [Lihat: “Do’a & Wirid” (hlm. 392-393 -cet. ke-32)]

Maka, kita minta kepada Allah: rasa takut. Seorang penuntut ilmu harus menumbuhkan rasa takut dan merasa diawasi oleh Allah; sehingga tambah ihsan kita. Sebagaimana sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tentang ihsan:
.
أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ؛ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
.
“Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya; maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa- berfirman:
.
{وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ…}
.
“Dan katakanlah, “Beramallah kamu, maka Allah akan melihat amalanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin,…” (QS. At-Taubah: 105)

.

Dan Surga diwariskan bagi orang yang mengamalkan Islam dengan benar, sebagaimana firman-Nya:
.

{وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ}
.
Dan itulah Surga yang diwariskan kepada kamu karena amalan yang telah kamu kerjakan.” (QS. Az-Zukhruf: 72)
.

Allah sebutkan bahwa Surga kaitannya dengan amal, akan tetapi orang masuk Surga adalah dengan rahmat Allah, dan amal termasuk rahmat Allah.
.
Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah mewanti-wanti agar kita mengamalkan ilmu yang sudah diketahui (dipelajari), beliau bersabda
,
.
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ.
.
Tidak akan beranjak kedua kaki seorang hamba pada hari Kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang telah dia amalkan; tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia habiskan; dan tentang tubuhnya (capek dan letihnya) untuk apa ia gunakan!” [HR. At-Tirmidzi dan lainnya]
.


Hadits ini sudah sering saya sampaikan, akan tetapi harus terus diulang agar manusia tahu akan kandungannya, dan haditsnya shahih. Dalam hadits ini ada empat pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Allah -di samping tentang Tauhid, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam awal “Zaadul Ma’aad”-:
.
1. Umur, yaitu: waktu dihabiskan untuk apa? Dan antum akan ditanya tentang umur antum dihabiskan untuk apa? Seorang tidaur selama delapan jam, kemudian bekerja delapan jam, maka sisanya berupa delapan jam: untuk apa? Untuk shalat wajib; maka tidak sampai satu jam -jika sekali shalat paling lama sepuluh menit-. Sisanya untuk apa? Main HP? Jalan-jalan? Dan seterusnya. Bukan berarti jalan-jalan itu tidak boleh; akan tetapi sekedarnya saja.

.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ
.
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” [HR. Al-Bukhari]

.
2. Tentang ilmunya; diamalkan ataukah tidak? Ilmu adalah untuk diamalkan; bukan untuk hiasan. Ibnu Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu- berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:
.
أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ -وَفِيْ لَفْظٍ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟- قَالَ: ((الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا)) قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ((بِرُّ الوَالِدَيْنِ)) قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ((الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ))
.

Amalan apa yang paling dicintai oleh Allah? -dalam suatu lafazh: amalan apa yang paling utama?- Beliau menjawab: “Shalat pada waktunya.” Ia bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Ia bertanya lagi: Kemudian apa? Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.” [HR. Al-Bukhari (no. 5970) dan Muslim (no. 85 (137))]
Maka, kita berusaha mengamalkan amal-amal yang utama:

.

Yang Pertama: Shalat. Dan ini merupakan sebaik-baik amal, sebagaimana sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:
وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةَ
“Ketahuilah, bahwa sebaik-baik amal kalian adalah: Shalat.”
.
Yang Kedua: berbakti kepada kedua orang tua. Semakin ikut kaijan; maka harusnya semakin berbakti kepada kedua orang tua. Walaupun orang tua itu kafir; maka tetap diperintahkan untuk berbakti, apalagi orang tua yang muslim. Orang yang paling memperhatikan hidup kita dari lahir adalah orang tua kita.
.
Yang Ketiga: Jihad. Dan ketika belum ada jihad berupa perang melawan orang-orang kafir; maka sibukkan dengan menuntut ilmu, karena menuntut ilmu termasuk jihad.

.
3. Tentang harta. Dan harta ini adalah fitnah; sebagaimana sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:
.
لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ
.
“Setiap umat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah ummatku adalah harta.” [HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya]

.

Fitnah harta ini terkena semua golongan: orang awam, penuntut ilmu, da’i, pengurus masjid, pengurus yayasan, pengurus pondok, dan lain-lain.
.
Orang yang memegang uang; maka harus jelas: ini uang siapa? Apakah uang pribadi? Uang yayasan? Uang Negara? Atau uang orang lain (hutang)? Dan hutang ini harus dibayar,
Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ
.
“Diampuni bagi orang yang mati syahid semua dosa kecuali hutang.”
.


Dan fitnah yang terjadi rata-rata karena uang. Kita diajarkan untuk zuhud dan qana’ah, kalau tidak punya mobil; maka pakai motor. Ada yang tidak punya mobil kemudian melihat ustadz lain punya mobil; lalu dia pun berhutang untuk beli mobil. Ada juga yang beli barang, beli tanah dengan pinjam orang. Atau bahkan mengambil uang pondok, masjid, dan lain-lain. Maka hal semacam ini akan memberikan pengaruh terhadap keluarganya, terhadap anaknya, dan lain-lain. Tujuan kita adalah untuk menolong kaum muslimin; bukan untuk menguras harta kaum muslimin.
.
Kemudian, kemana harta itu dihabiskan: apakah untuk membantu kaum muslimin, utnuk sedekah, atau untuk foya-foya, untuk kegiatan bid’ah, atau bahkan kesyririkan.
.
4. Tentang capek dan lelah. Kalau lelah kita adalah untuk ibadah -untuk menghadiri kajian, untuk shalat malam, dan semisalnya-; maka alhamdulillaah.
.
Kemudian, kita kembali pada pembahasan kita: Kiat Kesebelas: Mengamalkan Ilmu Syari’i Yang Telah Dipelajari: Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersab
da:
.
مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِيْ يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيَنْسَى نَفْسَهُ؛ كَمَثَلِ السِّرَاجِ، يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَيُحْرِقُ نَفْسَهُ
.
Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri.” [HR. Ath-Thabrani]
.
Diriwayatkan dari Abu Darda’ -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, “Aku tidak takut apabila pada hari Kiamat kelak aku ditanya, ‘Wahai Abu Darda’! Apa yang kaulakukan dari sesuatu yang tidak kauketahui?’ Akan tetapi aku takut apabila dikatakan kepadaku, ‘Wahai ‘Uwaimir! Apa yang kaulakukan dari sesuatu yang telah kauketahui?’.”
.
Abdullah bin Mas’ud (wafat th. 32 H) -radhiyallaahu ‘anhu-, berkata, ”Belajarlah kalian, belajarlah kalian. Apabila kalian telah mengetahuinya, maka amalkanlah!”
.
Al-Fudhail bin ’Iyadh (wafat th. 187 H) -rahimahullaah- mengatakan: “Manusia harus belajar. jika sudah mengetahui, mereka harus mengamalkannya.”
.
Imam Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H) -rahimahullaah- mengatakan: “Ilmu memiliki enam tingkatan:
Pertama, baik dalam bertanya;
Kedua, diam dan mendengarkan dengan baik;
Ketiga, memahami dengan baik;
Keempat, menghafalkannya;
Kelima, mengajarkannya; dan
Keenam -yang merupakan buahnya- yaitu mengamalkannya dan memperhatikan batasan-batasannya.” [“Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/511)]
.


Artinya: buah dari ilmu adalah mengamalkannya.
Semua manusia sesungguhnya dalam keadaan merugi, kecuali orang yang beriman dan beramal shalih.
Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman,
.
{وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}
.
Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
.
Imam Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H) -rahimahullaah- berkata, “Orang miskin yang paling miskin adalah orang yang menghabiskan umurnya untuk mencari ilmu yang tidak ia amalkan sehingga ia kehilangan kelezatan dunia dan kebaikan akhirat. Ia akan datang (pada hari Kiamat) dalam keadaan bangkrut bersama kuatnya hujjah (tuntutan) atasnya.”
.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (wafat th. 1421 H) -rahimahullaah- mengatakan, “Amal pada hakikatnya adalah buah dari ilmu. Barangsiapa beramal tanpa ilmu, ia telah menyerupai orang Nasrani. Dan barangsiapa mengetahui ilmu namun tidak mengamalkannya, ia telah menyerupai orang Yahudi.”
Masalah ini penting, karena di antara penghalang dalam menuntut ilmu adalah: tidak mengamalkan ilmu.
Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu. Orang yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmunya. Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa- benar-benar mencela orang yang melakukan hal ini d
alam firman-Nya:
.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ}
.
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2-3)
.

Tidak mengamalkan ilmu terbagi menjadi dua:
Pertama: Meninggalkan perintah-perintah syari’at dan melakukan berbagai hal yang diharamkan.
Kedua: Meninggalkan perkara-perkara yang dianjurkan dan mengerjakan perkara-perkara yang dimakruhkan. Terkadang hal ini dicela, namun tidak masuk dalam nash-nash ancaman.

.

Imam Adz-Dzahabi -rahimahullaah- menggambarkan kondisi di zamannya dalam perkataannya, “Hari ini, tidak tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit ini kecuali sangat sedikit dan ada pada orang-orang tertentu saja. Begitu sedikitnya orang yang beramal di antara mereka dengan ilmu yang sedikit itu. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia lah sebaik-baik penolong.” [“Tadzkiratul Huffaaz” (III/157)]
.


Pada zaman beliau orang berilmu adalah sedikit, dan yang mengamalkannya lebih sedikit lagi.

Jadi, yang diperintahkan adalah amal, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi sallam- bersabda:
.
بَادِرُوْا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِيْ كَافِرًا، أَوْ يُمْسِيْ مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
.
Bersegeralah untuk melakukan amal-amal sebelum adanya fitnah-fitnah seperti potongan malam yang gelap; seorang pada waktu pagi dia beriman dan sore menjadi kafir, atau pada waktu sore dia beriman dan pagi menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan dunia.” [HR. Muslim]
.

Sekarang ini adalah zaman fitnah; maka sibukkan diri kita dengan amal-amal shalih. Dalam hadits di atas disuruh untuk segera melakukan amal-amal shalih. Maka perbanyak amal shalih dengan ikhlas dan ittiba’, perbanyak sedekah dan membantu orang-orang yang susah.
.
Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah taufik untuk melakukan amal-amal shalih dan memperbanyak dzikir dan istighfar.
Mudah-mudahan Allah melindungi diri kita dan keluarga kita dari wabah virus Corona. Aamiin…
-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix