Seputar bulan Sya’bān(Bag.2)
.
*Amalan di Bulan Sya’ban – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm*
https://app.box.com/s/2b4dj6f1fctu4bj4gy4soxq991fdaj40
*Pelajaran Dari Bulan Sya’ban-Ust.Ahmad Zainuddin*


*Rahasia Bulan Sya’ban-Ust.Ahmad Zainuddin*


*Rahasia Bulan Sya’ban Menuju Bulan Ramadhan-Ust.Ahmad Zainuddin*
*Hukum Seputar Bulan Sya’ban Ustadz Ibrohim*


*BERIBADAH DI BULAN SYA’BAN ANTARA BID’AH-DAN SUNAH ~ Al Ustadz Muhammad Rijal*


*Bulan Sya’ban Dianak Tirikan-Ust.Muhammad Nuzul*


*Seputar Bulan Syaban-Ust Ahmad Zainuddin*


*Kupas Tuntas Amalan Malam Nisfu Syaban-Ust Zainal Abidin Syamsudin*


*Keutamaan Malam Nisfu Syaban-KonsultasiSyariah*


*Tradisi Kejawen Di Bulan Sya’ban-Ust Zainal Abidin Syamsudin*


*Latihan Puasa Di Bulan Sya’ban-Ust Ahmad Firdaus*


*Evaluasi Ritual Bulan Syaban (Ustadz-Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)*


*Amalan-amalan di Bulan Sya’ban (Ustadz-Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)*


**Amalan-amalan di Bulan Sya’ban – Al-Ustadz Muhammad.A.as Sidawy*
*Hadits Tentang Sya’ban-Ust.Ahmad*


=
Ebook
*Ensiklopedi Amalan Bulan Sya’ban*

Klik untuk mengakses ensiklopedi-amalan-bulan-syaban1.pdf


*32 Faidah Seputar Bulan Sya’ban*

Klik untuk mengakses ebook-32-faidah-syaban.pdf


*Seputar Bulan Sya’ban*

Klik untuk mengakses id_month_of_Shaban.pdf


*Perayaan Nisfu Sya’ban*

Klik untuk mengakses id_ruling_of_celebrating_night_of_middle_of_shaban.pdf


*Buku Ritual Bid’ah Dalam Setahun-Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiry*
Bag1:https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%201.pdf
Bag2: https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%202.pdf
bag3: https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%203.pdf
bag4: https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%204.pdf
==
Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.
.
Poin ketiga yang berkenaan dengan bulan Sya’bān adalah:

Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan puasa di bulan Sya’bān
.
Yaitu:
▪(1) Ada larangan dalam sebuah hadīts tentang berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’bān.

.
Permasalahannya:
Jika sudah tanggal 16 Sya’bān tidak boleh berpuasa sunnah.
.
Padahal dalam hadīts tadi kita dianjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’bān.
Kenapa ada larangan berpuasa sunnah dari tanggal 16 Sya’bān sampai dengan 29 Sya’bān ?
.


Bagaimana menjawabnya ?
Mari kita lihat hadītsnya, hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Tirmidzi, Abū Dāwūd, Ibnu Mājah dan yang lainnya dari Abū Hurairah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ﺇِﺫَﺍ ﺍﻧْﺘَﺼَﻒَ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥُ ﻓَﻼَ ﺗَﺼُﻮﻣُﻮﺍ
“Jika bulan Sya’bān sudah dipertengahan maka janganlah kalian berpuasa.” (Hadīts Riwayat Tirmidzi nomor 738 dan Abū Dāwūd nomor 2337)
.
⇒Artinya dari tanggal 16 Sya’bān sampai 29 Sya’bān, janganlah kalian berpuasa. Hadīts ini, kalau kita tinjau dari keshahīhan hadītsnya terjadi perbedaan pendapat diantara para ulamā.

.
Yang menshahīhkan hadīts ini, diantaranya:
√ Imām Tirmidzi,
√ Imām Ibnu Hibban,
√ Imām Hākim,
√ Imām Ibnu Abdilbar.
Dan yang lainnya termasuk didalamnya Imām Albāniy rahimahullāh.
.
⇒Yang melemahkan hadīts ini:
√ Imām Abdurrahman bin Mahdi, seorang ulamā hadīts.
√ Imām Ahmad,
√ Abū Zur’ah
√ Al Atsram, dan yang lainnya.
.
⇒Artinya terjadi perbedaan pendapat dalam penshahīhan derajat hadīts ini.
.


Bagaimana para ulamā mensikapi hadīts ini?
Karena kalau kita melihat hadīts-hadīts shahīh riwayat Bukhāri dan Muslim, bahwa ‘Āisyah bercerita Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam memperbanyak puasa di bulan Sya’bān, dan ini ada hadīts yang bertentangan dengan itu.
.


Kalau kita ingin menjawab pertanyaan kita harus paham dulu pertanyaannya.
Kata bijak mengatakan,
ﻓﻬﻢ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻧﺼﻒ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ
“Memahami pertanyaan itu merupakan setengah dari jawaban.”
.


Bahwa ada hadīts dari ‘Āisyah menceritakan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berpuasa hampir sebulan Sya’bān dan itu cerita ‘Āisyah bukan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
.
Sedangkan ini hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Kalau kita lihat mana yang lebih kuat?
.


Cerita shahābat tentang Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam atau hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam?
.


Tentu yang lebih kuat adalah hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Hadīts Qauli (ucapan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) itu lebih kuat dibandingkan hadīts Fi’li
(cerita tentang perbuatan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam).

.

Sekarang bagaimana memahami hadīts ini?
Terjadi perbedaan pendapat diantara para ulamā dalam memahami hadīts in
i.
.

  • Pendapat yang pertama

.

Dilarang berpuasa dari pertengahan bulan Sya’bān dan larangan ini berupa larangan makruh.
.
Cara memahami hadīts tadi, sebagian orang berpendapat, bahwa dilarang berpuasa dari pertengahan bulan Sya’bān sebagaimana lahir atau zhahir dari hadīts ini. Dilarang berpuasa dari tanggal 16 sampai selesai, kecuali bagi siapa yang mempunyai kebiasaan berpuasa sebelumnya.
.

Arti kebiasaan itu apa?
Misalnya:
Seseorang memiliki kebiasaan puasa Senin Kamis atau puasa Dāwūd atau puasa 13,14 dan 15, atau yang berpuasa dari awal maksudnya puasa dari tanggal 01 Sya’bān sampai akhir Sya’bān.

.
Ini pendapat Syāfi’iyah (madzhab Syāfi’i)

Disebutkan dalam Kitāb Fathul Bari’ yang ditulis oleh Al Hafidz Ibnu Hajjar Al Asqalāni rahimahullāh yang bermadzhab Syāfi’i dan juga dalam Kitāb Majmu’ yang ditulis oleh Imām Nawawi yang bermadzhab Syāfi’i:
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ‏( ﺹ : 412
ﺑﺎﺏ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﻋﻦ ﺗﻘﺪﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺑﺼﻮﻡٍ ﺑﻌﺪ ﻧﺼﻒ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺇﻻ ﻟﻤﻦ ﻭﺻﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﻗﺒﻠﻪ ﺃﻭ ﻭﺍﻓﻖ ﻋﺎﺩﺓ ﻟﻪ ﺑﺄﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﺎﺩﺗﻪ ﺻﻮﻡ ﺍﻻﺛﻨﻴﻦ
ﻭﺍﻟﺨﻤﻴﺲ
Imām Nawawi mengatakan di dalam Kitāb Riyadhush Shālihin:
“Bab larangan tentang mendahului puasa Ramadhān dengan berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’bān kecuali bagi siapa yang dia menyambung puasanya dari awal bulan Sya’bān atau puasanya bertepatan.dengan kebiasaan puasanya (Senin Kamis).”
.

Maka silahkan dia berpuasa.
Adapun apabila dia tidak berpuasa dari awal, kemudian dia mulai berpuasa dari tanggal 16 maka ini dilarang menurut pendapat yang pertama.
Mudah-mudahan bermanfaat, apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āl
a.
.
Pendapat yang kedua.
.

Diperbolehkan berpuasa secara mutlak di bulan Sya’bān.
.
Dan mereka menganggap hadīts tentang larangan berpuasa di pertengahan bulan Sya’bān hadītsnya lemah.
.


Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalāni rahimahullāh mengatakan:
ﻗَﺎﻝَ ﺟُﻤْﻬُﻮﺭُ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ : ﻳَﺠُﻮﺯُ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡُ ﺗَﻄَﻮُّﻋًﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻭَﺿَﻌَّﻔُﻮﺍ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﺍﻟْﻮَﺍﺭِﺩَ ﻓِﻴﻪِ
“Berkata Jumhūr ulamā mengatakan bahwa boleh berpuasa sunnah secara mutlak di bulan Sya’bān dan mereka melemahkan hadīts tadi (Jika telah pertengahan bulan Sya’bān maka janganlah kalian berpuasa).” Mereka mengatakan hadīts ini lemah, sebagaimana yang dikatakan Imām Ibnu Qudammah bahwa hadīts itu tidak shahīh:
“Aku bertanya kepada Abdurahman bin Mahdi dan beliau tidak menshahīhkan hadīts tersebut.”
.
Allāhu A’lam, pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang kedua bahwa mutlak boleh berpuasa di bulan Sya’bān, baik dari awal, pertengahan atau akhir bulan Sya’bān, kapan saja berpuasa di bulan Sya’bān diperbolehkan
.

Karena berdasarkan sabda Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam (diceritakan oleh ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā) bahwa beliau berpuasa di bulan Sya’bān kecuali sedikit saja.
.
⇒Lalu Ustadz, bagaimana hadīts tadi, bukannya derajatnya shahīh?

Betul, hadīts larangan tentang berpuasa dari pertengahan bulan Sya’bān adalah hadīts shahīh.
.
Bagaimana menjawabnya?
Maka larangannya berupa kemakruhan saja.
Jadi larangan berpuasa dipertengahan bulan Sya’bān, pendapat yang kuat hadītsnya shahīh, akan tetapi larangannya hanya kemakruhan saja
.
.

Mengapa?
Karena banyak sekali hadīts-hadīts Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menunjukan bahwa Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam memperbanyak puasa di bulan Sya’bān.
.

▪(2) Permasalahan kedua yang berkaitan dengan puasa di bulan Sya’bān.
.
Bolehkah menggabungkan dua niat dalam puasa Sya’bān?
Misalnya, dia memiliki kebiasaan puasa hari Senin, dia niatkan puasa hari Senin plus niat puasa Sya’bān. Maka jawabannya?

.

Wallāhu a’lam, boleh.
Ini disebut dalam permasalahan fiqih At Tasyrīk Finniyyah (bersyarikat di dalam niat), jadi beberapa amal ibadah niatnya kita gabung kita kerjakan dalam satu pekerjaan.
.
Sama seperti orang masuk masjid setelah adzan shubuh, di hadapan dia ada shalāt tahiyyatul masjid, ada shalāt dua raka’at sebelum shubuh dan ada shalāt setelah wudhu’. Tiga niat ini dia gabung dia kerjakan
dengan dua rakaat, maka ini boleh. Dan semoga pahalanya tiga. Lihat perkataan para ulamā!

.
Syarat boleh menggabungkan niat, yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Rajab Al Hambali dalam Kitāb beliau At Taqrīrul Qawā’id wa Tahrīrul Fawāid, beliau mengatakan:
ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻌﺖ ﻋﺒﺎﺩﺗﺎﻥ ﻣﻦ ﺟﻨﺲ ﻭﺍﺣﺪ ﻓﻲ ﻭﻗﺖ ﻭﺍﺣﺪ ﻟﻴﺴﺖ ﺇﺣﺪﺍﻫﻤﺎ ﻣﻔﻌﻮﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺟﻬﺔ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﻻ ﻋﻠﻰ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺘﺒﻌﻴﺔ ﻟﻸﺧﺮﻯﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺗﺪﺍﺧﻠﺖ ﺃﻓﻌﺎﻟﻬﻤﺎ، ﻭﺍﻛﺘﻔﻰ ﻓﻴﻬﻤﺎ ﺑﻔﻌﻞ ﻭﺍﺣﺪ
Jika terkumpul dua ibadah dari satu jenis, di dalam satu waktu dan syaratnya: (1) yang satu bukan qadha, atau (2) bukan ibadah sebelumnya, maka boleh diniatkan dengan dua niat satu pekerjaan.”
.

Contohnya:
Bukan qadha
Bila dia punya hutang puasa di bulan Ramadhān tahun lalu, dia ingin berpuasa mengqadha hutang puasa tersebut di bulan Sya’bān.
Dia niatkan dua yaitu, qadha Ramadhān dan berpuasa bulan Sya’bān, maka ini tidak boleh.
.
Mengapa tidak boleh?
⇒Karena salah satunya niat qadha puasa.
.
⑵ Bukan mengikuti ibadah sebelumnya.
Contoh:
Ada seorang wanita, di bulan Ramadhān dia mempunyai hutang puasa 6 hari (hāidh) kemudian di bulan Syawwāl dia ingin berpuasa bulan Syawwāl karena ada hadīts yang berbunyi:
“Barangsiapa yang telah berpuasa Ramadhān lalu dia mengikutkan puasanya dengan 6 hari berpuasa di bulan Syawwāl maka dia seperti berpuasa 1 tahun penuh.”
.
Dan orang ini ingin mengamalkan hadīts tetapi masih mempunyai hutang puasa 6 hari di bulan Ramadhān, maka dia tidak boleh menggabungkan niat mengqadha hutang puasa Ramadhānnya dengan puasa 6 hari di
bulan Syawwāl.
.
Kenapa?
Karena 6 hari di bulan Syawwāl adalah mengikuti puasa Ramadhān.
Artinya 6 hari di bulan Syawwāl bisa dilaksanakan setelah selesai puasa Ramadhān.
Adapun contoh ibadah-ibadah yang tidak boleh digabung diantaranya:
.
⑴ Puasa 6 hari di bulan Syawwāl digabung dengan puasa qadha Ramadhān.
.
⑵ Shalāt zhuhur digabung niatnya dengan shalāt qabliyyah zhuhur.
.
Mengapa shalāt zhuhur tidak boleh digabung dengan shalāt qabliyyah zhuhur?
Karena, dia ibadah tersendiri.
√ Shalāt zhuhur ibadah tersendiri.
√ Shalāt qabliyyah zhuhur ibadah tersendiri.
Mudah-mudahan bermanfaat, apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla
.