Seputar bulan Sya’bān(Bag.1)
.

*Amalan di Bulan Sya’ban – Ustadz Mizan Qudsyiah, Lc., M.A..webm*
https://app.box.com/s/2b4dj6f1fctu4bj4gy4soxq991fdaj40
*Pelajaran Dari Bulan Sya’ban-Ust.Ahmad Zainuddin*


*Rahasia Bulan Sya’ban-Ust.Ahmad Zainuddin*


Rahasia Bulan Sya’ban Menuju Bulan Ramadhan-Ust.Ahmad Zainuddin *
*Hukum Seputar Bulan Sya’ban Ustadz Ibrohim*


*BERIBADAH DI BULAN SYA’BAN ANTARA BID’AH-DAN SUNAH ~ Al Ustadz Muhammad Rijal*


*Bulan Sya’ban Dianak Tirikan-Ust.Muhammad Nuzul*


*Seputar Bulan Syaban-Ust Ahmad Zainuddin*


*Kupas Tuntas Amalan Malam Nisfu Syaban-Ust Zainal Abidin Syamsudin*


*Keutamaan Malam Nisfu Syaban-KonsultasiSyariah*


*Tradisi Kejawen Di Bulan Sya’ban-Ust Zainal Abidin Syamsudin*


*Latihan Puasa Di Bulan Sya’ban-Ust Ahmad Firdaus*


*Evaluasi Ritual Bulan Syaban (Ustadz-Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)* 
*Amalan-amalan di Bulan Sya’ban (Ustadz-Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)*
**Amalan-amalan di Bulan Sya’ban – Al-Ustadz Muhammad.A.as Sidawy*


*
Hadits Tentang Sya’ban-Ust.Ahmad*=


Ebook
*Ensiklopedi Amalan Bulan Sya’ban*

Klik untuk mengakses ensiklopedi-amalan-bulan-syaban1.pdf


*32 Faidah Seputar Bulan Sya’ban*

Klik untuk mengakses ebook-32-faidah-syaban.pdf


*Seputar Bulan Sya’ban*

Klik untuk mengakses id_month_of_Shaban.pdf


*Perayaan Nisfu Sya’ban*

Klik untuk mengakses id_ruling_of_celebrating_night_of_middle_of_shaban.pdf


*Buku Ritual Bid’ah Dalam Setahun-Abdullah bin Abdul Aziz At-Tuwaijiry*
Bag1:https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%201.pdf
Bag2: https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%202.pdf
bag3: https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%203.pdf
bag4: https://archive.org/download/BAHAYA_BIDAH_GIBAH_GHULUW_RIYA_TASYABUH_ISBAL_DLL/Ritual%20Bid’ah%204.pdf
==
Alhamdulillāh, kita bersyukur kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.,
Shalawat dan salam semoga selalu Allāh berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam pada keluarga beliau, para shahābat serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak.
.




Saya berdo’a dengan nama-nama Allāh yang husna dan sifat-sifat yang mulia.
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻨﺎ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﻋِﻠْﻤًﺎ ﻧَﺎﻓِﻌًﺎ , ﻭَ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻃَﻴَّﺒًﺎ , ﻭَ ﻋَﻤَﻼً ﻣُﺘَﻘَﺒَّﻼً
“Wahai Allāh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik dan amal yang diterima, Allāhumma Aamiin.”
.


Saya akan membicarakan tentang bulan Sya’bān, saya beri judul ” Seputar bulan Sya’bān”.
.
Poin yang pertama yang berkenaan dengan bulan Sya’bān adalah keutamaan bulan Sya’bān.

.
Keutamaan bulan Sya’bān
.
▪Hadīts Pertama


Dalam sebuah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām An Nasā’i dan dishahīhkan atau dihasankan oleh Imām Al bāniy rahimahullāh Ta’āla:
ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﺃُﺳَﺎﻣَﺔُ ﺑْﻦُ ﺯَﻳْﺪٍ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻢْ ﺃَﺭَﻙَ ﺗَﺼُﻮﻡُ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻣَﺎ ﺗَﺼُﻮﻡُ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ , ﻗَﺎﻝَ ﺫَﻟِﻚَ ﺷَﻬْﺮٌ ﻳَﻐْﻔُﻞُﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻋَﻨْﻪُ ﺑَﻴْﻦَ ﺭَﺟَﺐٍ ﻭَﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﻬْﺮٌ ﺗُﺮْﻓَﻊُ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟْﺄَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ﻓَﺄُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﻋَﻤَﻠِﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ
Dari ‘Usāmah Ibnu Zaid Radhiyallāhu ‘anhu bercerita, Aku berkata: “Wahai Rasūlullāh, aku belum pernah melihat engkau berpuasa dalam sebulan dari bulan-bulan yang ada lebih banyak dibandingkan berpuasa di bulan Sya’bān.”
.


Kemudian, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab pertanyaan ini, beliau
mengatakan: “Itu adalah bulan yang orang-orang lalai terhadap bulan tersebut (bulan Sya’bān adalah sebuah bulan yang orang-orang kebanyakan lalai terhadap bulan tersebut). Terletak antara bulan Rajab dengan bulan Ramadhān dan dia adalah bulan didalamnya diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta. Maka aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa..” (Hadīts Riwayat An Nasāi’ nomor2317)
.


Dari hadīts ini, kita ambil pelajaran keutamaan bulan Sya’bān adalah amalan-amalan perbuatan manusia (amal ibadah atau amal buruk) diangkat dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
.
Dan inilah keutamaan bulan Sya’bān. Ada perbedaan pendapat atau ada sebuah permasalahan yang terjadi diantara para ulamā dan dibicarakan diantara mereka tentang diangkatnya amalan perbuatan di bulan Sya’bān.
.
Apa itu?
Yaitu dalam hadīts riwayat Imām Muslim dan yang lainya, bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyatakan,
√ Amal siang diangkat sebelum malam,
√ Amal malam diangkat sebelum siang.
Hadīts ini menunjukan bahwa amalan diangkat pada setiap harinya.
.
Disana ada hadīts yang lain yang juga diriwayatkan oleh Imām Muslim bahwa ketika beliau ditanya kenapa berpuasa pada hari Senin dan Kamis? Maka beliau juga menjawab bahwa amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis.
.
Bagaimana menggabungkan tiga riwayat yang shahīh-shahīh ini?

Ada amal yang diangkat, amal perbuatan siang diangkat sebelum malam, amal perbuatan malam diangkat sebelum siang.
⑵ Dan ada hadīts yang menyatakan bahwa setiap Senin dan Kamis juga diangkat amal perbuatan.
⑶ Ada hadīts lagi yang menyatakan bahwa bulan Sya’bān diangkat amal perbuatan.
.


Maka jawabannya, disebutkan di dalam kitāb Hasyiyatusindi bahwa tiga riwayat tersebut shahīh dan tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya, hanya cara memahaminya adala
h:
.
Setiap hari diangkat amal, yaitu amal perbuatan siang diangkat sebelum malam, amal perbuatan malam diangkat sebelum siang.
⑵ Setiap pekan diangkat amal perbuatan dua kali yaitu amal perbuatan untuk satu pekan diangkat hari Senin dan Kamis.
⑶ Setiap tahun, amal perbuatan diangkat pada bulan Sya’bān.

.

Ini menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar diangkatnya amal perbuatan. Karena tiga hadīts tersebut shahīh dan semua hadīts yang menunjukan tentang diangkatnya amal perbuatan senantiasa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam keadaan sedang berpuasa.
.
Artinya, ketika amal diangkat beliau ingin diribeliau dalam keadaan sedang berpuasa.
Ini menunjukan bahwa kita dianjurkan pada hari-hari ini, ketika amal-amal perbuatan diangkat maka kita sedang dalam keadaan ibadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
.
Yang jelas, ini adalah poin yang pertama dari keutamaan bulan Sya’bān yaitu, bulan yang diangkat amal satu tahun, yaitu terjadi pada bulan Sya’bān. Maka perbanyaklah berpuasa pada bulan Sya’bān ini.
.

Hadīts kedua
.


Yang menunjukan keutamaan bulan Sya’bān adalah hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Ibnu Mājah dan hadītsnya di hasankan oleh Imām Albāniy rahimahullāh Ta’āla.
.
Dari Abū Mūsā Al Ashary radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu meriwayatkan, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻟَﻴَﻄَّﻠِﻊُ ﻓِﻰ ﻟَﻴْﻠَﺔِ ﺍﻟﻨِّﺼْﻒِ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻓَﻴَﻐْﻔِﺮُ ﻟِﺠَﻤِﻴﻊِ ﺧَﻠْﻘِﻪِ ﺇِﻻَّ ﻟِﻤُﺸْﺮِﻙٍ ﺃَﻭْ ﻣُﺸَﺎﺣِﻦٍ
“Sesungguhnya Allāh benar-benar melihat pada malam pertengahan bulan Sya’bān atau disebut pada malam Nisfu’ Sya’bān, lalu Allāh akan mengampuni seluruh makhluknya (kecuali) dua orang yang tidak diampuni oleh Allāh di malam Nisfu’ Sya’bān yaitu musyrik dan orang musyāhin.” (Hadīts Riwayat Ibnu Mājah nomor 1390)
.

Orang musyrik adalah seorang yang melakukan kesyirikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
⇒Orang musyāhin, musyāhin diambil dari kata syahna, syahna artinya pertengkaran perselisihan/ perkelahian antara seseorang dengan yang lain.
.
Dua orang ini saja yang tidak mendapatkan ampunan dari Allāh pada malam pertengahan bulan Sya’bān.
.
Pelajaran dari hadīts ini yang bisa kita ambil dari keutamaan bulan Sya’bān adalah malam Nisfu’ Sya’bān, yaitu malam pengampunan dari Allāh untuk seluruh makhluk-Nya kecuali seorang musyrik dan seorang musyāhin.

.
Hadīts ketiga
.

Hadīts yang menunjukan tentang keutamaan bulan Sya’bān berikutnya, yaitu hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Baihaqi dari Abū Tsa’labah Al Husain radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu dan hadīts ini dihasankan oleh Imām Albāniy rahimahullāh Ta’āla.
.
Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻟﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﺍﻃﻠﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﺧﻠﻘﻪ، ﻓﻴﻐﻔﺮ ﻟﻠﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﻭﻳﻤﻠﻲ ﻟﻠﻜﺎﻓﺮﻳﻦ، ﻭﻳﺪﻉ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻘﺪﺑﺤﻘﺪﻫﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺪﻋﻮﻩ
“Jika pada malam pertengahan bulan Sya’bān, Allāh menilik pada makhluk-makhluk-Nya (seluruhnya), laluAllāh akan mengampuni orang-orang yang berimān dan membiarkan orang-orang kāfir dan meninggalkan orang-orang yang hasad dengan sifat hasadnya sampai mereka meninggalkan sifat hasad tersebut.” (Hadīts Riwayat At Thabrāni dalam Shahīhul Jami’ nomor 771)
.


Berdasarkan hadīts tersebut kita ambil pelajaran, bahwa keutamaan bulan Sya’bān adalah malam pertengahan bulan Sya’bān, pengampunan dari Allāh untuk orang berimān kecuali,
⑴ Orang kāfir
⑵ Orang yang hasad (orang yang iri dan dengki di dalam dirinya)

Inilah tiga hadīts shahīh yang berkenaan dengan bulan Sya’bān. Mudah-mudahan bermanfaat, apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
=…
Poin Kedua yang berkenaan dengan bulan Sya’bān yaitu amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’bān.
.
◆ Amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’bān

.
(1) Yang pertama, berpuasa.
.

Dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, menyebutkan bahwa amalan yang sangat dianjurkan di bulan Sya’bān adalah memperbanyak puasa sunnah dan memperbanyak di sini,
√ Tidak harus puasa Senin dan Kamis
√ Tidak harus puasa 13,14,15
√ Tidak harus puasa 3 hari di bulan Sya’bān (awal, akhir, pertengahan bulan)
.
Tidak!
Yang dimaksud memperbanyak puasa disini, adalah memperbanyak puasa sunnah secara mutlak. Tidak dibatasi dengan waktu, mudah-mudahan bisa kita amalkan.
.

Hadīts riwayat Imām Muslim:
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻠَﻤَﺔَ، ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺄَﻟْﺖُ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ – ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ – ﻋَﻦْ ﺻِﻴَﺎﻡِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﻘُﻮﻝَﻗَﺪْ ﺻَﺎﻡَ . ﻭَﻳُﻔْﻄِﺮُ ﺣَﺘَّﻰ ﻧَﻘُﻮﻝَ ﻗَﺪْ ﺃَﻓْﻄَﺮَ . ﻭَﻟَﻢْ ﺃَﺭَﻩُ ﺻَﺎﺋِﻤًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻬْﺮٍ ﻗَﻂُّ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺻِﻴَﺎﻣِﻪِ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻛُﻠَّﻪُ ﻛَﺎﻥَﻳَﺼُﻮﻡُ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻼً .

Dari Abū Salamah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu pernah bertanya kepada ‘Āisyah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā tentang bagaimana puasa sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. ‘Āisyah berkata: “Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sering berpuasa sampai kami mengira beliau terus berpuasa (tidak pernah berbuka) dan sering Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbuka (tidak berpuasa) sampai kami mengira terus-terusan berbuka tidak berpuasa. Dan aku belum pernah melihat beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dalam keadaan berpuasa dari satu bulan sama sekali lebih banyak dari puasanya beliau di bulan Sya’bān. Beliau sering berpuasa di bulan Sya’bān seluruhnya dan beliau sering berpuasa Sya’bān kecuali sedikit.’ (Hadīts Riwayat Muslim nomor 1956 versi Syarh Muslim nomor 1156)

.

Pelajaran dari hadīts ini, bahwa amalan yang sangat ditekankan di bulan Sya’bān adalah berpuasa. Dan ini faedah hadīts ini yang menyatakan bahwa Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam hampir berpuasa
seluruhnya. Kata-kata “seluruhnya” dari ‘Āisyah radhiyallāhu Ta’āla ‘anhā disini maksudnya adalah tidak satu bulan penuh. Bukan!

.

Kenapa?
Karena Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺍﺳْﺘَﻜْﻤَﻞَ ﺻِﻴَﺎﻡَ ﺷَﻬْﺮٍ ﻗَﻂُّ ﺇِﻻَّ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ
“Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam belum pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhān.” (Hadīts Riwayat Muslim nomor 1956 versi Syarh Muslim nomor 1156)
.


Ini menunjukan bahwa tidak pernah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berpuasa di dalam satu bulan secara penuh, maksimal sempurna kecuali bulan Ramadhān.
.
Menunjukan pula bahwa bulan Sya’bān, Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam benar berpuasa sebanyak- banyaknya tapi tetap ada berbukanya.


Karena ada penjelasan,
ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻼً
“(Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sering berpuasa Sya’bān secara seluruhnya kecuali sedikit saja tidak berpuasa.”

.
Kemudian hadīts yang lain, hadīts riwayat Bukhāri.
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﻠَﻤَﺔَ، ﺃَﻥَّ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔَ ـ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ ـ ﺣَﺪَّﺛَﺘْﻪُ ﻗَﺎﻟَﺖْ، ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﺃَﻛْﺜَﺮَ ﻣِﻦْ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ، ﻓَﺈِﻧَّﻪُﻛَﺎﻥَ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ ﻛُﻠَّﻪُ ،
Abū Salamah Radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu bercerita bahwa ‘Āisyah bercerita kepada beliau bahwa NabiMuhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam belum pernah berpuasa dalam sebulan lebih banyak dibandingakan bulan Sya’bān. Beliau berpuasa di bulan Sya’bān seluruhnya.” (Hadīts Riwayat Bukhari nomor 1834 versi Syarh Muslim nomor 1970)
.


Maksudnya puasa sunnah, adapun puasa wajib Ramadhān tentunya.
Lihat! Beliau berpuasa di bulan Sya’bān seluruhnya. Ingat! Kata-kata “seluruhnya” itu artinya “hampir semuanya”.
.
Jika kita sudah pahami itu, di sana ada amalan yang kedua yang sangat ditekankan, sebagaimana yang sudah kita baca (pada bagian lalu) hadītsnya ketika bulan Sya’bān.
.

(2) Jauhkan diri kita, keluarga kita, anak-anak istri kita, rumah kita dari seluruh hal yang berkaitan dengan kesyirikan.
.


Seperti (misalnya):
√ Jimat-Jimat yang dianggap mendatangkan keramat.
Apa saja yang berkaitan dengan sesuatu yang merusak aqidah seorang muslim hendaknya dijauhkan, agar mendapatkan ampunan di malam Nisfu Sya’bān.
⑶ Menyelesaikan persengketaan, perselisihan antara sesama muslim yang lagi bertengkar (berselisih) maka minta dihalalkan (dimaafkan) meskipun dalam keadaan benar.
⑷ Hilangkan rasa hasad, dengki, iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Hasad, dengki, iri terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain maksudnya adalah bercita-cita (berangan- angan) agar nikmat atau kelebihan yang ada pada orang lain hilang.
.

Kalau sudab kita pahami amalan-amalan yang sangat dianjurkan, selanjutnya kita berdo’a dengan nama- nama Allāh yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang mulia yang bisa kita amalkan. Mudah-mudahan bermanfaat.
Cukup kiranya apa yang baik dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.