KHUTHBAH ‘IDUL FITHRI 1441 H / 2020 M
Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-
.

[1]- Ma’asyiral Muslimin -rahimakumullaah-. Kepada seluruh kaum muslimin dan muslimah yang mudah-mudahan dirahmati oleh Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- atas segala nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, dan kita bersyukur kepada Allah telah selesai menunaikan ibadah puasa, dan kita bersyukur juga telah melaksanakan ibadah-ibadah lainnya di bulan Ramadhan. Mudah-mudahan seluruh amal kita diterima oleh Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
.
[2]- Ma’asyiral Muslimin -rahimakumullaah-. Dalam khuthbah yang singkat ini ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan:
.
YANG PERTAMA: SYUKUR
.
Tentang syukur kita kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.
Bahwa nikmat yang Allah karuniakan kepada kita sangat banyak, dan kita wajib bersyukur. Dari mulai kita lahir sampai kita dewasa ini: nikmat yang Allah berikan sangat banyak dan tidak bisa kita hitung. Allah berfirman:
.
{…وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ}
.
“…jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)
.
Kita wajib bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang sangat banyak dan tidak bisa dihitung. Kalaupun sekarang ini terjadi musibah, petaka, wabah; dibanbingkan dengan nikmat Allah: maka tidak seberapa wabah ini, kecil. Nikmat Allah sangat banyak, sedangkan wabah hanya: sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan. Sedangkan nikmat itu: dari mulai kita lahir sampai sekarang: tidak bisa dihitung. Oleh karena itu, kita wajib bersyukur atas semua nikmat Allah.
.
[3]- Di akhir QS. Al-Baqarah: 185 Allah berfirman:
.
{…وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ}
.
“…Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
.
Di antara nikmat Allah yang paling besar yang wajib kita syukuri: kita diberikan hidayah di atas Islam. Itu nikmat yang paling besar.
.
Yang kedua dari nikmat yang paling besar: diberikan hidayah di atas Sunnah. Betapa banyak orang yang diberikan hidayah Islam tapi tidak diberikan hidayah di atas Sunnah. Ini nikmat yang besar. Diberikan hidayah di atas Sunnah, berjalan di atas Al-Qur-an Was Sunnah ‘Ala Fahmis Salaf: nikmat yang paling besar dari semua nikmat yang ada. Hatta seandainya kita tidak punya apa-apa, kita faqir, miskin, tidak punya apa-apa; akan tetapi ketika kita diberikan hidayah di atas Islam dan Sunnah ‘Ala Fahmis Salaf: nikmat yang paling besar, lebih daripada semua nikmat yang ada di muka bumi ini.
.
[4]- Oleh karena itu kita bersyukur kepada Allah: dibimbing dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah ‘Ala Fahms Salaf; ini nikmat yang paling besar, kita wajib bersyukur kepada Allah atas semua nikmat tersebut yang lebih dari semua nikmat yang ada. Karena nikmat ini berkaitan dengan kehidupan dunia dan akhirat kita. Oleh karena itulah Allah berfirman:
.
{…فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى}
.
“…maka (ketahuilah) barang siapa mengikuti petunjuk-Ku; dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)
.
Selama orang itu berpegang kepada Al-Qur-an Was Sunnah ‘Ala Fahmis Salaf; dia tidak akan sesat dan dia tidak akan celaka selama-lamanya.
.
Oleh karena itu, kita harus terus belajar, mengikuti kajian, mendengar nasehat, dan mengamalkan, serta mensyukuri semua nikmat ini.
.
[5]- Selama kita bersyukur atas semua nikmat Allah; pasti akan ditambah nikmat itu. Allah berfirman:
.
{…لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ}
.
“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur; niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku); maka pasti adzab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
.
Ini perkara pertama yang ingin saya sampaikan; yaitu: berkaitan dengan syukur. Kita harus menjadi hamba Allah yang bersyukur. Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- selalu berdo’a agar menjadi hamba yang bersyukur, dan kita pun setiap hari mengucapkan do’a tersebut setiap selesai Shalat atau di akhir Shalat:
.
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
.
“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”
.
[6]- YANG KEDUA: SABAR.
.
Kita wajib untuk bersabar. Dan sabar ada tiga: (1)sabar dalam melaksanakan ketaatan-ketaatan kepada Allah, (2)sabar dalam menjauhkan dosa dan maksiat, dan (3)sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian yang pahit, ini wajib kita sabar.
.
Kondisi yang sekarang ini: kita mengalami pandemi, banyak orang yang mengalami kesusahan, kesulitan, kefaqiran, pengangguran, kelaparan, dan lain-lain. Ada yang sakit, bahkan ada yang meninggal. Maka wajib bersabar..
.
[7]- Ujian yang Allah berikan kepada kita adalah sebagai ujian dan cobaan: apakah kita bersabar atau tidak?
.
Nikmat sudah sekian banyak Allah berikan kepada kita, kalau kita bandingkan antara nikmat dengan musibah; maka nikmat yang lebih banyak. Musibah hanya Allah berikan beberapa hari atau bulan saja, tapi nikmat: sepanjang umur hidup kita, tidak bisa dihitung.
.
Oleh karena itu, Allah menguji kita dengan pandemi ini, dengan wabah corona ini: untuk menguji iman kita ini; apakah iman kita benar atau tidak? Kita jujur atau tidak? Yakinkah kita kepada Allah; tentang iman kepada takdir baik dan buruk? Tetapkah kita istiqamah di atas ketaatan kepada Allah?
.
[8]- Banyak orang yang ketika diberi cobaan dan ujian: dia putus asa dari rahmat Allah, su-u zhann (berprasangka buruk) kepada Allah, takut dalam menjalani kehidupan. Maka ini imannya dipertanyakan. Sampai Shalat berjama’ah juga takut, padahal dikumandangkan adzan; maka wajib dia datang sebagai laki-laki untuk Shalat berjama’ah di masjid! Tidak perlu takut! Tidak boleh takut!
.
Dia keluar bisa, ke pasar bisa, ke stasiun bisa, ke terminal bis bisa, orang ke rumah sakit berbondong-bondong; semua tidak takut mati: tapi kenapa ke masjid takut mati?! Imannya dipertanyakan!!
.
Kesabaran kita diuji oleh Allah. Kalau sabar; maka dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dan jauhkan perbuatan dosa dan maksiat, dan bersabar atas kepahitan ini. Jalankan perintah-perintah Allah dan jauhkan larangan-larangan-Nya. Jangan kita mundur dan takut dalam kehidupan; ini menunjukkan kita tidak yakin kepada Allah. Allah uji iman kita sekarang ini: Benar atau tidak? Jujur atau tidak? Kita orang beriman atau orang munafik? Akan diuji oleh Allah. Ingat itu! Ini masalah ujian, kita harus menghadapi ujian ini dengan lapang dada, karena Allah yang memberikan ujian! Adukan semuanya kepada Allah! Allah pasti akan menghilangkan cobaan dan ujian! Pasti!! Yakin! Berdo’a kepada Allah!
.
Ini yang kedua: sabar.
[9]- YANG KETIGA: TAQWA.
.
Di ayat tentang puasa Allah sebutkan:
.
{…لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ}
.
“…agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
.
Pada ayat 187 Allah berfirman:
.
{…لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ}
.
“…agar mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 187).
.
Taqwa;artinya: kita melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.
.
[10]- Dan yang paling asas dalam Taqwa adalah: mentauhidkan Allah; baik dalam Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma Wa Shifat. Mengesakan Allah, meyakini bahwa pencipta itu hanya satu, yang menciptakan hanyalah Allah, yang memberikan rezki hanya Allah, yang menghidupkan, yang mematikan, memberikan cobaan dan ujian, yang mengangkat musibah, yang mengangkat wabah: hanya satu; yaitu Allah, tidak ada yang lain. Ini harus kita yakini, Tauhid, dan kita harus menjauhkan segala macam syirik. Inilah Taqwa.
.
[11]- Kemudian perintah-perintah yang lainnya, dan yang pokok adalah Shalat lima waktu yang dikerjakan dengan berjama’ah bagi laki-laki. Tidak ada laki-laki Shalat di rumah, dia harus berjama’ah di masjid, dan ini hukumnya wajib. Kalau perempuan; maka di rumah.
.
[12]- Kemudian termasuk Taqwa juga adalah yang berkaitan dengan orang tua kita, wajib kita berbuat baik kepada orang tua. Perhatikan: selama masih ada orang tua kita; maka kita bertaqwa kepada Allah tentang orang tua kita, berbuat baik kepada orang tua kita. Orang tua ini merupakan jalan menuju Surga; maka wajib kita berbuat baik. Tidak boleh berkata “Ah” kepada orang tua, tidak boleh berkata “Uff”, tidak boleh bersikap kurang ajar kepada orang tua, apa yang bisa kita lakukan untuk orang tua; maka lakukan. Berbuat baiklah kepada orang tua; karena itu jalan menuju Surga. Maka harus diperhatikan: bertaqwa kepada Allah tentang orang tua kita.
.
[13]- Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah tentang istri kamu: apakah diberikan pendidikan agama ataukah tidak?
.
فَاتَّقُوْا اللهَ فِي النِّسَاءِ!
.
“Bertakwalah kepada Allah tentang istri kamu!”
.
Bertaqwa tentang istri, didik istri menjadi istri yang shalihah, taat, menjalankan kewajiban, menjauhkan larangan, mengerjakan Sunnah, menjauhkan bid’ah. Anak-anak juga demikian.
.
[14]- Termasuk Taqwa juga: dalam berhubungan dengan tetangga, jangan sampai mengganggu tetangga, jangan sampai membuat orang lain tidak nyaman, kita harus jaga hubungan dengan tetangga, demikian juga dengan masyarakat.
.
[15]- Juga Taqwa kepada Allah dalam kita berdagang, hutang kita harus bayar, dan lain-lain.
.
[16]- Itulah Taqwa kepada Allah, cakupannya luas.
.
[17]- Allah menyuruh kita agar kita bertaqwa dengan puasa ini, dimana keadaan kita setelah puasa menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Kita harus bertaqwa kepada Allah; melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan perbuatan dosa dan maksiat. Kita ingin puasa kita diterima oleh Allah, karena ada orang yang puasa; tapi tidak ada hasil dari puasanya kecuali hanya menahan lapar dan haus. Ada juga orang yang Shalat malam; tapi tidak ada hasil dari Shalat malamnya kecuali hanya menahan kantuknya; yakni: ada orang yang Shalat di tengah malam dimana dia tahan kantuknya; tapi dia tidak mendapatkan apa-apa. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
.
“Betapa banyak orang yang berpuasa tidak ada pahala puasanya kecuali hanya menahan lapar, dan betapa banyak orang yang Shalat malam tidak ada pahalanya kecuali hanya bergadang saja.”
.
Maka ini kerugian. Kita harus menjadi lebih baik, kita ingin puasa kita diterima oleh Allah, dan kita ingin agar puasa kita menghapuskan semua dosa-dosa kita.
.
[18]- YANG KEEMPAT: ROJA’ & KHAUF
.
Kita harus punya roja’ dan khauf, artinya: kita punya rasa harap dan takut kepada Allah.
Setiap mukmin dan mukminah harus punya rasa itu, karena ini berkaitan dengan iman. Dan itu termasuk rukun ibadah.
.
Rukun ibadah ada tiga: (1)cinta, (2)takut, dan (3)harap kepada Allah.
Adapun syarat ibadah; maka ada dua: (1)ikhlas dan (2)ittiba’.
.
[19]- Seorang mukmin harus: mengharap hanya kepada Allah dan takut hanya kepada Allah. Oleh karena itu, para Shahabat -radhiyallaahu ‘anhum ajma’iin- ketika mereka bertemu di antara mereka di saat ‘Id; mereka mengucapkan:
.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
.
“Mudah-mudahan Allah menerima amal kami dan amal kalian.”
.
Mereka tidak memastikan bahwa amal mereka pasti diterima, tidak. Mereka tetap minta kepada Allah agar diterima amalnya. Allah berfirman:
.
{وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَا آتَوْا وَقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُوْنَ}
.
“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb-nya,” (QS. Al-Mukminun: 60)
.
Ketika ayat ini turun; maka ‘Aisyah -radhiyallaahu ‘anhaa wa ardhaahaa-, Ummul Mukminin berkata: Apakah yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah berkaitan dengan orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr, dan dia takut kepada Allah? Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjawab:
.
لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِيْنَ يَصُوْمُوْنَ وَيُصَلُّوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا تُقْبَلَ مِنْهُمْ
.
“Tidak wahai putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang dimaksud dengan ayat ini adalah: orang-orang yang puasa, Shalat, dan bersedekah, dan mereka takut tidak diterima amal mereka.”
Maka antum perhatikan: orang beriman sudah Shalat, puasa, zakat, sedekah, qiyamul lail, dan semua dilakukan; tapi tetap dalam hati mereka: takut tidak diterima amalannya. Itulah yang Allah sebutkan dalam QS. Al-Mukminun: 60.
.
Maka itulah orang yang beriman, tidak memastikan bahwa amalannya pasti diterima, dia tetap berdo’a semoga puasanya, sedekahnya: diterima oleh Allah.
.
Oleh karena itu, para Shahabat ketika bertemu: saling mendo’akan di antara mereka:
.
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
.
“Mudah-mudahan Allah menerima amal kami dan amal kalian.”
.
Tidak memastikan diterima amalnya; baik shalat, puasa, zakat, haji, ‘umrah. Di kalangan kita banyak: orang yang sudah haji dikasih “Haji” pada namanya, ini tidak ada dalam Islam. Belum tentu juga hajinya diterima. Tetap berdo’a: mudah-mudahan diterima, tapi memastikan amalnya diterima: tidak boleh; berdasarkan ayat Al-Qur-an dan penjelasan dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.
.
[20]- YANG KELIMA: ISTIQAMAH.
.
Setelah selesai kita melakukan puasa Ramadhan, qiyamul lail, membaca Al-Qur-an, mengkhatamkan Al-Qur-an, dan amal-amal shalih lainnya yang banyak kita lakukan: bukan berarti hanya untuk Ramadhan saja, akan tetapi bagaimana kita terus setelah Ramadhan ini kita lanjutkan amal-amal ibadah itu.
.
Puasa, tetap kita lanjutkan dengan puasa Syawwal enam hari, Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
.
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan enam hari Syawwal; maka dia seperti puasa setahun penuh.”
.
Qiyamul lail juga demikian, tetap kita lanjutkan qiyamul lail. Meskipun Shalat Tarawih sudah tidak dilakukan; tapi tetap Shalat malam dilakukan. Shalat malam keutamaannya sangat banyak, kalau tidak mampu sebelas raka’at; maka tetap kita lakukan dua raka’at kemudian ditambah dengan witir. Dan terus seperti itu dilakukan. Karena amal yang paling utama adalah: yang terus.
.
Demikian juga kita sedekah; maka jangan berhenti, terus sedekah di bulan Syawwal ini.
Membaca Al-Qur-an: terus kita membaca Al-Qur-an. Bukan berarti ketika di bulan Ramadhan bisa khatam: lima kali, atau empat kali, atau tiga kali, atau dua kali: setelah Ramadhan Al-Qur-an ditinggalkan. Al-Qur-an harus terus dibaca. Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:
.
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا، وَإِنْ قَلَّ
.
“Sebaik-baik amal itu: yang terus-menerus/kontinyu meskipun amal itu sedikit.” [Muttafaqun ‘Alaihi]
.
[21]- Jadi, Ikhwani Fid Din -a’azzakumullaah-: kita harus terus kontinyu setelah Ramadhan dalam melaksanakan ketaatan-ketaatan, karena ketaatan tidak bisa lepas dari kehidupan seorang mukmin, ibadah tidak bisa lepas dari kehidupan seorang mukmin. Seoang mukmin wajib untuk beribadah sampai matinya. Allah berfirman kepada Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:
.
{وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ}
.
“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 99)
.
Terus beribadah kepada Allah, tidak boleh kita lepas dari ibadah. Dan ibadah-ibadah yang sudah kita lakukan, kemudian kita tinggalkan: maka kita bisa berdosa; karena kita meninggalkan sesuatu yang baik. Ini amal-amal sunnah; tapi tidak boleh ditinggalkan, Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mencela yang seperti ini. Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash -radhiyallaahu ‘anhumaa-:
.
يَا عَبْدَ اللهِ، لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
.
“Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti si fulan, tadinya dia rajin Shalat malam; kemudian dia tinggalkan Shalat malam.” [Muttafaqun ‘Alaihi]
.
Kalimat seperti ini bukan pujian kepada fulan; tapi celaan! Artinya tidak boleh seperti ini. Kalau dalam amalan sunnah saja tidak boleh; apalagi amalan yang wajib: seperti seorang yang biasa Shalat berjama’ah, kemudian meninggalkan Shalat berjama’ah; maka ini celaan bagi orang itu. Biasa menuntut ilmu, sekarang tidak menuntut ilmu lagi; maka ini celaan bagi orang itu. Shalat berjama’ah wajib bagi laki-laki, menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan.
.
Demikian juga amal-amal yang lain: membaca Al-Qur-an, bersedekah dan yang lainnya yang sudah rutin dilakukan, kemudian ditinggalkan; ini salah.
.
[22]- Orang yang meninggalkan kebaikan, kewajiban, atau yang sunnah ditinggalkan: orang seperti ini termasuk kufur nikmat.
.
Dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- dalam “Syarh Riyaadhish Shaalihiin” ketika menjelaskan hadits di atas: orang yang sudah terbiasa melakukan amal-amal shalih, kemudian ditinggalkan; maka dia kufur nikmat.


Apalagi yang wajib: seperti Shalat berjama’ah, menuntut ilmu, dia tinggalkan; maka orang ini kufur nikmat. Itu penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-.
.
.
[23]- Artinya bahwa istiqamah itu: kita tetap dalam ketaatan terus-menerus. Seorang mukmin tidak bisa lepas dari beribadah kepada Allah, kita hidup untuk ibadah, Allah ciptakan kita untuk ibadah; maka lakukan ibadah itu terus-menerus dan sampai kita diwafatkan oleh Allah.
.
[24]- Dan setelah Ramadhan ini: kita berusaha bagaimana keadaan kita lebih baik, ibadah kita, dan juga perhatikan hati kita: kita berusaha membersihkan hati kita dari sifat dengki, iri, sombong, serakah, tamak kepada dunia, dan yang lainnya: itu harus dibersihkan. Karena kita ingin ibadah kita diterima oleh Allah dan keadaan kita lebih baik dari sebelumnya.
.
[25]- Mudah-mudahan yang saya sampaikan ini bermanfaat untuk saya dan antum sekalian, dan mudah-mudahan Allah menerima amal-amal kita semuanya, dan kita terus berdo’a kepada Allah agar amal-amal kita diterima, dan kita melaksanakan apa yang Allah wajibkan dan juga apa yang disunnahkan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.
.
Jadi, setelah Shalat ‘Id ini kita berusaha bagaimana di bulan Syawwal ini:
Pertama: untuk mengqadha puasa bagi perempuan yang haidh atau nifas, atau laki-laki yang memang dia tidak puasa karena sakit atau safar: maka dia ganti.
.
Kemudian: dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawwal; bisa di awal, bisa di tengah, bisa di akhir, bisa beruturut-turut, bisa terpisah; yang penting dilakukan di bulan Syawwal, tidak bisa di bulan lain; karena ini puasa Syawwal.
Ini harus kita usahakan, kita upayakan, untuk bisa kita laksanakan.
.
Mudah-mudahan amal kita diterima oleh Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.
.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَسَيِّءَ الْأَسْقَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَسَيِّءَ الْأَسْقَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَسَيِّءَ الْأَسْقَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُوْنِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
اللَّهُمَّ إِنِّا نَعُوْذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الْأَسْقَامِ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَالْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
-ditranskrip oleh: Ahmad Hendrix