Puasa Sunnah Ayyamul Bidh Bulan Syawal 1441H,TATA CARA PUASA ENAM HARI BULAN SYAWWAL
.

Alhamdulillah
Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
..
Membatalkan Puasa Qadha’
https://almanhaj.or.id/17095-membatalkan-puasa-qadha.html
Tidak boleh berbicara tentang agama tanpa ilmu
https://muslim.or.id/56800-56800.html
Qadha Enam Hari Puasa Ramadhan Di Bulan Syawwal,Apakah Mendapat Pahala Puasa Syawwal Enam Hari?
https://almanhaj.or.id/17063-qadha-enam-hari-puasa-ramadhan-di-bulan-syawwal-apakah-mendapat-pahala-puasa-syawwal-enam-hari-2.html
Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya
Dikeraskan?

Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan?


Hukum Memakai Masker Saat Shalat di Masa Pandemi Covid-19

Hukum Memakai Masker Saat Shalat di Masa Pandemi Covid-19


Makruh Dibolehkan Ketika Ada Hajat

Makruh Dibolehkan Ketika Ada Hajat


Meninggal Dunia Tetapi Masih Memiliki Utang Puasa, Ini Penjelasan Lengkapnya

Meninggal Dunia Tetapi Masih Memiliki Utang Puasa, Ini Penjelasan Lengkapnya


Menggabungkan Puasa Qadha dan Puasa Syawal Tetap Sah?

Menggabungkan Puasa Qadha dan Puasa Syawal Tetap Sah?


Puasa Qadha atau Puasa Syawal, Mana yang Lebih Didahulukan Muslimah?

Puasa Qadha atau Puasa Syawal, Mana yang Lebih Didahulukan Muslimah?


Cara Ilmiah untuk Mengetahui Konspirasi atau Tidak

Cara Ilmiah Untuk Mengetahui Konspirasi Atau Tidak


Hukum Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Qodho’

Hukum Menggabungkan Puasa Syawal dengan Puasa Qodho’


Istiqamah Setelah Ramadhan

Istiqamah Setelah Ramadhan


Apakah Tinta Hitam Cumi Haram?

Apakah Tinta Hitam Cumi Haram?


Qadha Puasa Wajib Dan Puasa Sunnah?
https://almanhaj.or.id/17004-qadha-puasa-wajib-dan-puasa-sunnah.html
=… 

10 Faidah Fiqih Shaum Syawwal dan Qadha Ramadhan

Klik untuk mengakses Faedah%20Shaum%20Syawwal.pdf


″Mutiara Syawal”(54Hlm)
https://bit.ly/MajalahHSI-004-LR
21 Faidah Puasa Bulan Syawal-Muhammad Shalih al-Munajjid

Klik untuk mengakses ebook-21faidah-puasasyawal.pdf


Puasa.6 Hari Bulan Syawal

Klik untuk mengakses id_puasa_enam_hari_bulan_syawal.pdf


Hukum Mengqadha Puasa Ramadhan

Klik untuk mengakses id_Hukum_Mengqadha_Puasa_Ramadhan.pdf


*80 Persoalan Fiqih Puasa-Ust. Abu Yusuf Achmad Ja’far 90Hlm*
https://app.box.com/s/j7uoh7c9a2ikqrfyab1n2crell1q8iox
https://drive.google.com/file/d/1kJniNzJrrRsqChFJBh6taHoKpC8DMJVg/view?usp=drivesdk
*Fikih Puasa – Ringkasan Pembahasan, Fatwa dan Tarjih Penulis: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullah (200Hlm)*
https://app.box.com/s/zzw7r9ia1m21xxgjx478bg0d9tfch6bo
*Bekal Berpuasa-Fahad bin Yahya Al ‘Amariy 246Halaman*
https://app.box.com/s/ceztjzztk5wzcbicg92evys634puyg06
*Untaian Faedah Dari Ayat Puasa-Muhammad Abduh Tuasikal 113Halaman*
https://app.box.com/s/b4w6kyv0f020vurhwjpx5e8nrp3qg3kp
*Hadits Puasa dari Bulughul Maram-karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.85Halaman*
https://app.box.com/s/cx7dwqs440hccaakl92548cfevp4r29p
*Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman*
https://www.dropbox.com/sh/gjnp4c1wz092thq/AACpOIp2Sz81wTF9GpODEjwPa?dl=1
Ayat-Ayat Shiyam-Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.32Hlm
https://app.box.com/s/szpr8ksp3e8c6mgcuxo8y7yybskiaghb
Fikih Kesehatan Kontemporer -Terkait Puasa dan Ramadhan Ust. dr. Raehanul Bahraen (81Hlm)
https://app.box.com/s/jh3diuslrm4tcmqwc4ukhfplxd25zl0s
.


Tugas-Tugas Ibadah di Bulan Syawal –Kitab At-Taudhih Wal Bayan Li Syajaratil Iman (Ustadz Abdullah Taslim, M.A.)


=…
.
بسم الله الرحمن الرحيم
.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:
Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,
Open Donasi,Sedekah,Waqaf,Infaq: https://bit.ly/2JIhYq3
kunjungi blog di https://bit.ly/2L0zNlR
Ebook Islam https://bit.ly/2vjhBt1
Mp3 Kajian: https://bit.ly/2Vg2wqJ
Ebook Islam 2: https://bit.ly/2UBykBM
mp3 kajian sunnah 2: https://bit.ly/2DDAn2x
Gabung Grup Kajian Sunnah dan Bimbingan Islam: https://bit.ly/2IAuxmR
GABUNG GRUP WA DAKWAH SUNNAH DAN BIMBINGAN ISLAM
IKHWAN
https://chat.whatsapp.com/GpvCDblLxObGJz57QLAFMW
https://chat.whatsapp.com/FQuJdk6n3rv28Lx0x1pJq7
AKHWAT
https://chat.whatsapp.com/JHqH7FbZoQeJAKJtgqsRv0
=..

➡ Puasa Sunnah Ayyamul Bidh Bulan Syawal 1441H
.
➡Besok إِنْ شَاءَ اللَّهُ puasa ayyamul bidh…
.
✅ _*Kita disunnahkan berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali.* Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh, yaitu *pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah (Qomariyah).* Puasa tersebut *disebut ayyamul bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.*
.
*_Niatnya? Cukup di dalam hati ingin puasa ayyamul bidh*_
*Keutamaannya banyak, di antaranya*
.
_*1. Bekal akhirat,*_
_*2. Seperti puasa sebulan (jika dikerjakan rutin setiap bulan, seperti puasa setahun),*_
_*3. Lalu baik untuk kesehatan.*_
.
✅ _Dalilnya sbb:
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda_
.
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
.
_*”Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”* (HR. Bukhari no. 1979)_
.
✅ _Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata_

.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُوَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
.
_*“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).”* Dan beliau bersabda, *“Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”*
(HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)_
.
➡Insya Allah…
Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Bulan Syawwal 1441H
.
1. Jum’at, 13 Syawal 1441H / 5 Juni 2020
2. Sabtu, 14 Syawal 1441H / 6 Juni 2020
3. Ahad, 15 Syawal 1441H / 7 Juni 2020
.
_*Puasa Senin Kamis atau bahkan puasa Dawud bagi yang mengamalkannya, tetap memiliki fadhail di bulan Syawal 1441 H
.
➡ *Catatan* :
.
_Puasa tiga hari setiap bulan paling utama dikerjakan pada Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Dan jika tidak memungkinkan, tidak apa-apa dikerjakan di awal bulan atau di akhir bulan, boleh berurutan atau berselang._
.
✅ _Dari Mu’adzah Al ‘Adawiyyah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah -istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam_

.
أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ
.
_*“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya?”* ‘Aisyah menjawab, *“Iya”.* Ia pun bertanya pada ‘Aisyah, *“Pada hari apa beliau berpuasa?”* ‘Aisyah menjawab, *“Beliau tidak memperhatikan pada hari apa beliau berpuasa dalam sebulan.”* (HR. Muslim no. 1160).*_
.=
➡ TATA CARA PUASA ENAM HARI BULAN SYAWWAL
.
✅ Puasa enam hari di bulan Syawwal setelah Ramadhan masyru ’ (disyari’atkan ). Pendapat yang menyatakan bid’ah atau haditsnya lemah, merupakan pendapat bathil. [1] Imam
Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad menyatakan istihbab pelaksanaannya. [2]
.
‼ Adapun Imam Malik, beliau rahimahullah menilainya makruh . Agar, orang tidak memandangnya wajib. Lantaran kedekatan
jaraknya dengan Ramadhan. Namun, alasan ini sangat lemah, bertentangan dengan Sunnah shahihah .
.
✅ Alasan yang diketengahkan ini tidak tepat, jika dihadapkan pada pengkajian dan penelitian dalil, yang akan menyimpulkan pendapat tersebut lemah. Alasan terbaik untuk
mendudukkan yang menjadi penyebab sehingga beliau berpendapat demikian, yaitu apa yang dikatakan oleh Abu ‘Amr Ibnu ‘Abdil Barr, seorang ulama yang tergolong
muhaqqiq (peneliti) dalam madzhab Malikiyah dan pensyarah kitab Muwatha`.
.
‼ Abu ‘Amr Ibnu ‘Abdil Barr berkata,”Sesungguhnya hadits ini belum sampai kepada Malik. Andai telah sampai, niscaya beliau akan berpendapat dengannya.” Beliau mengatakan
dalam Iqna’ , disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, meskipun dilaksanakan dengan terpisah-pisah. Keutamaan tidak akan tetap diraih bila berpuasa di selain bulan Syawwal.
.
✅ Seseorang yang berpuasa enam hari di bulan Syawwal setelah berpuasa Ramadhan, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh.
.
‼ Penjelasannya, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Bulan Ramadhan laksana sepuluh bulan. Sementara enam hari bagai dua bulan. Maka hitungannya menjadi setahun penuh. Sehingga dapat diraih pahala ibadah setahun penuh tanpa kesulitan, sebagai kemurahan dari Allah dan kenikmatan bagi
para hambaNya.
.
✅ Dari Tsauban Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.
ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻓَﺸَﻬْﺮٌ ﺑِﻌَﺸَﺮَﺓِ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَﺻِﻴَﺎﻡُ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻓَﺬَﻟِﻚَﺗَﻤَﺎﻡُ ﺻِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ
.
‼ Barangsiapa berpuasa Ramadhan, satu bulan seperti sepuluh bulan dan berpuasa enam hari setelah hari Idul Fithri, maka itu merupakan kesempurnaan puasa setahun penuh.[3]
.
➡ BILAMANA PELAKSANAANNYA?
.
✅ Syaikh Abdul Aziz bin Baz, di dalam Majmu’ Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah (15\391) menyatakan, puasa enam hari di bulan Syawal memiliki dasar dari Rasulullah.
.
‼ Pelaksanaannya, boleh dengan berurutan ataupun terpisah-pisah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pelaksanaannya secara mutlak, dan tidak menyebutkan
caranya dilakukan dengan berurutan atau terpisah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ
‼ Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun. [4]
.
✅ Beliau rahimahullah juga berpendapat, seluruh bulan Syawwal merupakan waktu untuk puasa enam hari. Terdapat riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliaubersabda :
.
ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ
.
‼ Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya enam hari dari bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun .[5]
.
✅ Hari pelaksanaannya tidak tertentu dalam bulan Syawwal. Seorang mu`min boleh memilih kapan saja mau melakukannya, (baik) di awal bulan, pertengahan bulan atau di akhir bulan. Jika mau, (boleh) melakukannya secara terpisah atau beriringan. Jadi, perkara ini fleksibel,
alhamdulillah . Jika menyegerakan dan melakukannya secara berurutan di awal bulan, maka itu afdhal. Sebab menunjukkan bersegera melakukan kebaikan. [6]
.
‼ Para ulama menganjurkan (istihbab ) pelaksanaan puasa enam hari dikerjakan setelah langsung hari ‘Idhul Fithri. Tujuannya,
sebagai cerminan menyegerakan dalam melaksanakan kebaikan. Ini untuk menunjukkan bukti kecintaan kepada Allah, sebagai bukti tidak ada kebosanan beribadah (berpuasa) pada dirinya, untuk menghindari faktor-faktor yang
bisa menghalanginya berpuasa, jika ditunda-tunda.
.
✅ Syaikh ‘Abdul Qadir bin Syaibah al Hamd menjelaskan :
‼ “Dalam hadits ini (yaitu hadits tentang puasa enam hari pada bulan Syawwal), tidak ada nash yang menyebutkan pelaksanaannya secara berurutan ataupun terpisah-pisah.
Begitu pula, tidak ada nash yang menyatakan pelaksanaannya langsung setelah hari raya ‘Idul Fithri. Berdasarkan hal ini, siapa saja yang melakukan puasa tersebut setelah hari Raya
‘Idul Fithri secara langsung atau sebelum akhir Syawwal, baik melaksanakan dengan beriringan atau terpisah-pisah, maka diharapkan ia mendapatkan apa yang dijanjikan Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebab, itu semua menunjukkan ia telah berpuasa enam hari pada bulan Syawal setelah puasa bulan Ramadhan. Apalagi, terdapat kata sambung berbentuk
tsumma , yang menunjukkan arti tarakhi (bisa dengan ditunda)”. [7]
.
✅ Demikian penjelasan singkat mengenai cara berpuasa enam hari pada bulan Syawwal setelah puasa bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dapat memotivasi diri kita, untuk selalu mencintai sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang tidak lain akan mendekatkan kita kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala .

Wallahu a’lam bish-shawab .
.
➡ BAGAIMANA JIKA MASIH MENANGGUNG PUASA RAMADHAN?
.
✅ Para ulama berselisih pendapat dalam masalah, apakah boleh mendahulukan puasa sunnah (termasuk puasa enam hari di
bulan Syawwal) sebelum melakukan puasa
qadha Ramadhan.
.
‼ Imam Abu Hanifah, Imam asy Syafi’i dan Imam Ahmad, berpendapat bolehnya melakukan itu. Mereka mengqiyaskannya dengan shalat thathawu’ sebelum pelaksanaan shalat fardhu.
.
✅ Adapun pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad, diharamkannya mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai tanggungan puasa wajib.
.
‼ Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menetapkan, berdasarkan aturan syari’at (masyru’ ) mendahulukan puasa qadha Ramadhan terlebih dahulu, ketimbang puasa enam hari dan puasa sunnah lainnya. Hal ini merujuk sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
.
ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِ
.
‼ Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun.
Barangsiapa mengutamakan puasa enam hari daripada berpuasa qadha, berarti belum mengiringkannya dengan puasa Ramadhan. Ia hanya mengiringkannya dengan sebagian puasa di bulan Ramadhan. Mengqadha puasa hukumnya wajib. Sedangkan puasa enam hari hukumnya sunnah. Perkara yang wajib lebih utama untuk diperhatikan terlebih dahulu. [8]
.
✅ Pendapat ini pun beliau tegaskan, saat ada seorang wanita yang mengalami nifas pada bulan Ramadhan dan mempunyai tekad yang kuat untuk berpuasa pada bulan Syawwal. Beliau tetap berpendapat, menurut aturan syari’at , hendaknya Anda memulai dengan puasa qadha terlebih dahulu. Sebab, dalam
hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan puasa enam hari (Syawwal) usai melakukan puasa Ramadhan. Jadi perkara wajib lebih diutamakan daripada perkara sunnah. [9]
.
‼ Sementara itu Abu Malik, penulis kitab Shahih Fiqhis Sunnah berpendapat, masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawwal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Dasar argumentasi yang digunakan, yaitu kandungan hadits Tsauban di atas yang bersifat mutlak. [10]
Wallahu a’lam .
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun
X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah IstiqomahSurakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton GondangrejoSolo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak
Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961,Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Majmu’ Fatawa , Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz, 15/389.
[2] Taudhihul Ahkam, 3/533.
[3] Hadits shahih , riwayat Ahmad, 5/280; an Nasaa-i, 2860;
dan Ibnu Majah, 1715. Lihat pula Shahih Fiqhis Sunnah, 2/134.
[4] HR Muslim, dalam ash Shiyam , bab Istihbabish-ShaumiSittati Ayyam min Syawwal, 1164.
[5] HR Muslim, dalam ash Shiyam , bab Istihbabish-ShaumiSittati Ayyam min Syawwal, 1164
[6] Majmu’ Fatawa wal Maqalat Mutanawwi’ah , 15\390.
[7] Fiqhul Islam, 3/232
[8] Fiqhul Islam, 3/232
[9] Fiqhul Islam, 3/232
[10] Shahih Fiqhis Sunnah , 2/134.
.
➡ SHAHIH DAN DHAIF HADITS PUASA ENAM HARI BULAN SYAWWAL
.
➡ HADITS SHAHIH BERKAITAN PUASA SYAWWAL
ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺃَﻳُّﻮﺏَ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِﻱِّ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺼِﻴَﺎﻡِ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮِﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ
.
‼ Dari Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu ‘anhu, RasulullahnShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapaberpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa-enam hari pada bulan Syawwal, maka dia seperti puasa-sepanjang tahun ”. [Diriwayatkan oleh Imam Muslim, AbuDawud, at Tirmidzi, an Nasaa-i dan Ibnu Majah].
.
ﻋَﻦْ ﺛَﻮْﺑَﺎﻥَ ﻣَﻮْﻟَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻛَﺎﻥَ ﺗَﻤَﺎﻡَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ ﻣَﻦْﺟَﺎﺀَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻓَﻠَﻪُ ﻋَﺸْﺮُ ﺃَﻣْﺜَﺎﻟِﻬَﺎ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻭﻟﻔﻈﻪ :
.
‼ Dari Tsauban maula (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau.Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapa yang
melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri,maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun.”
.
ﻣَﻦْ ﺟَﺎﺀَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻓَﻠَﻪُ ﻋَﺸْﺮُ ﺃَﻣْﺜَﺎﻟِﻬَﺎ
.
‼ “ Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya“[al An’am/6:160]
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Nasaa-i dengan.lafazh :
.
ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﺤَﺴَﻨَﺔَ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺃَﻣْﺜَﺎﻟِﻬَﺎ ﻓَﺸَﻬْﺮٌ ﺑِﻌَﺸْﺮَﺓِ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَﺻِﻴَﺎﻡُ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺑَﻌْﺪَﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺗَﻤَﺎﻡُ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ
.
‼ “ Allah menjadikan (ganjaran) kebaikan itu sepuluh kali lipat, satu bulan sama dengan sepuluh bulan; dan puasa enam harinsetelah hari raya ‘Idul Fithri merupakan penyempurna satu tahun “.
.
‼ Diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya dengan lafazh :
.
ﺻِﻴَﺎﻡُ ﺷَﻬْﺮِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﺑِﻌَﺸَﺮَﺓِ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﻭَﺻِﻴَﺎﻡُ ﺳِﺘَّﺔِ ﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺑِﺸَﻬْﺮَﻳْﻦِ ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﺻِﻴَﺎﻡُﺍﻟﺴَّﻨَﺔِ
.
‼ “ Puasa bulan Ramadhan, (ganjarannya) sepuluh bulan dan puasa enam hari (sama dengan) dua bulan. Itulah puasa satu tahun “.
.
‼ Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dengan lafazh :
.
ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻓَﻘَﺪْ ﺻَﺎﻡَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔَ
.
‼ “ Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dan enam hari pada bulan Syawwal, berarti sudah melaksanakan puasa satu tahun“.
.
ﻭَﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺃَﺗْﺒَﻌَﻪ ﺑِﺴِﺖٍّ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺻَﺎﻡَ ﺍﻟﺪَّﻫْﺮَ ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺰﺍﺭ ﻭﺃﺣﺪﻃﺮﻗﻪ ﻋﻨﺪﻩ ﺻﺤﻴﺢ
.
‼ Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengiringinya dengan enam hari dari bulan Syawwal, maka seakan dia sudah berpuasa satu tahun”. [Diriwayatkan oleh alBazzar, dan salah satu jalur beliau adalah shahih].
Semua hadits di atas dinyatakan shahih oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani , sebagaimana terdapat padakitab Shahihut Targhibi wat Tarhib, no. 1006, 1007 dan 1008.
.
➡ HADITS DHA’IF
ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺷَﻮَّﺍﻻً ﻭَﺍﻷَﺭْﺑِﻌَﺎﺀَ ﻭَﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺲَ ﻭَﺍﻟْﺠُﻤْﻌَﺔَ ﺩَﺧَﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ
.
‼ “ Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, Syawwal, hari Rabu, Kamis dan Jum’at, maka dia akan masuk surga“.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, 3/416, dari Hilal bin Khabbab dari Ikrimah bin Khalid, dia mengatakan : Aku diberitahu oleh salah satu dari orang pandai Quraisy, aku diberitahu oleh
bapakku bahwasanya dia mendengar dari belahan bibir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam … lalu dia membawakan hadits di atas.
Syaikh al Albani mengatakan : Ini merupakan sanad yang lemah, karena orang pandai dari
kalangan Quraisy ini tidak diketahui jati dirinya. Dan Hilal, orangnya shaduq (jujur dan terpercaya), tetapi dia berubah pada masa tuanya, sebagaimana dijelaskan dalam kitab at
Taqriib. Dan hadits ini diriwayatkan oleh al Haitsami dalam al Majma’, 3/190 tanpa ada kalimat “wal Jum’ah,” lalu beliau rahimahullah mengatakan : Diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
dan di dalam sanadnya terdapat orang yang tidak disebutkan, sementara para perawi lainnya adalah tsiqah (bisa dipercaya,Red).
.
‼ Begitu juga dibawakan oleh Imam as Suyuthi dalam al Jami’, dari riwayat Imam Ahmad dari seseorang, akan tetapi dengan menggunakan lafazh : ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ sebagai ganti dari kalimat
Syawwal.
.
‼ Syaikh Al Albani mengatakan :
Aku tidak tahu, apakah perbedaan ini karena perbedaan naskah kitab Musnad atau karena kekeliruan si penukil. [LihatSilsilah adh Dha’ifah, no. 4612, 10/124-125].
.
➡ HADITS MAUDHU’ (PALSU)
ﻣَﻦْ ﺻَﺎﻡَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﺃَﺗْﺒَﻌَﻪُ ﺳِﺘًّﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻮَّﺍﻝٍ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﺫُﻧُﻮْﺑِﻪِ ﻛَﻴَﻮْﻡٍ ﻭَﻟَﺪَﺗْﻪُ ﺃُﻣُّﻪُ
‼ “ Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari dari bulan Syawwal, maka dia keluar dari dosa-dosanya sebagaimana saat dilahirkan dari perut ibunya “.
Syaikh al Albani mengatakan :
Maudhu’ (palsu). Diriwayatkan oleh Imam ath Thabrani dalam kitab al Ausath melalui jalur Imran bin Harun, kami diberitahu oleh Maslamah bin Ali, kami diberitahu oleh Abu Abdillah alHamsh dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar secara marfu’, dan beliau rahimahullah (Ath Thabrani) mengatakan : Hadits ini tidak
diriwayatkan, kecuali oleh Abu Abdillah, dan Maslamah menyendiri dalam membawakan riwayat ini.
Syaikh al Albani mengatakan :
Orang ini (yakni Maslamah,-red) muttaham (tertuduh), ada beberapa riwayat maudhu’nya sudah dibawakan di depan,yaitu hadits no. 141, 145 dan 151.
Sedangkan Abu Abdillah al Hamsh, saya cenderung memandang bahwa orang ini adalah Muhammad bin Sa’id al Asdiy al Mashlub al Kadzdzab (banyak berdusta) alwaddha’ (sering memalsukan hadits). Mereka merubah nama
orang ini menjadi sekitar seratus nama, untuk menutupi jati dirinya. Ada yang memberinya kunyah Abu Abdirrahman, AbunAbdillah, Abu Qais. Tentang nisbahnya, ada yang mengatakan, dia itu Dimasqiy (orang Damaskus), al Urduni (orang Urdun).
Dan ada yang mengatakan ath Thabariy.
Maka saya (Syaikh al Albani, Red) tidak menganggap mustahil, jika kemudian orang yang tertuduh, yaitu Maslamah mengatakan tentang orang ini : Abu Abdillah al Hamshy.
Tidak menutup kemungkinan bahwa Abu Abdillah al Hamshy ini adalah orang yang dinamakan Marzuq. Ad Daulabiy membawakannya dalam kitab al Kuna seperti ini. Orang ini termasuk perawi Imam Tirmidzi, akan tetapi, mereka tidak pernah menyebutkan bahwa orang ini memiliki riwayat dari Nafi’. Berbeda dengan al Mashlub. Wallahu a’lam.
Hadits ini diberi isyarat dhaif oleh al Mundziri, 2/75. Al Haitsami menyatakan illat hadits ini ialah Maslamah alKhasyani. Lihat Silsilah adh Dha’ifah, no. 5190, 11/309

.•••••••••••••••••••••••
_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_
.
_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Semua kebenaran di dalamnya adalah berkat taufiq dari Alloh. Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi dan dari setan, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_
.
_*Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia menjadikan tulisan ini murni mengharap Wajah-Nya Yang Mulia, dan agar ia bermanfaat bagi kaum muslimin dan menjadi tabungan bagi hari akhir.*_
.
_*Saya memohon kepada Allah Ta’ala Agar menjadikan Tulisan ini amal soleh saat hidup dan juga setelah mati untuk saya dan untuk kedua orang tua saya juga keluarga saya serta seluruh kaum muslimin dihari dimana semua amal baik dipaparkan*_
.
_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pahala, Kebaikan, Amal Shalih Pemberat Timbangan Di Akhirat Kelak. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan Anda.Wa akhiru da’wanā ‘anilhamdulillāhi rabbil ālamīn Wallāhu a’lam, Wabillāhittaufiq*_
.
_*dan Akhir Do’a Kami: Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil; Pencipta langit dan bumi; Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang nyata; Engkaulah yang menghukum perselisihan di antara hamba-hamba-Mu; berikanlah petunjuk kebenaran kepada kami terhadap apa yang kami perselisihkan dengan idzin-Mu; sesungguhnya Engkau memberi hidayah kepada orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.’*_
.
_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_