Menyingkap Kedustaan Para Dukun dan Tukang Ramal
.

Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Sebab Datangnya Adzab
https://almanhaj.or.id/22895-meninggalkan-amar-maruf-nahi-mungkar-sebab-datangnya-adzab-2.html
Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal

Syarat Boleh Bermain Sepakbola dan Futsal


Segera Beramal, Sebelum Ajal Datang!
https://almanhaj.or.id/22877-segera-beramal-sebelum-ajal-datang-2.html
Tugas-Tugas Istri

Tugas-Tugas Istri


.
Tipu Daya Dukun dalam Ruqyah dan Jimat – Ustadz Sofyan Chalid Ruray 29Mb
https://drive.google.com/file/d/1Shgjes_DSDjuJPyOd0wDqOznYqho7oLM/view?usp=drivesdk
Membongkar Dunia Perdukunan, Ustadz Abu Ubaidah Yusuf AsSidawi),

Membongkar Klenik Perdukunan – Ustadz Zainal Abidin, Lc.MM.webm.
https://app.box.com/s/9zl7rqj8k7ejy9qzbkb2k205q8yazpf
Dukun dan ParaNormal-Ust.Subhan Khadafi

Jangan Percaya Dukun-Ust.Ahmad Zainuddin

Ahlus Sunnah wal Jama’ah Tidak Membenarkan Dukun-Ust.Muhammad Nur Ihsan

.
Ebook
Sorotan Tajam Praktik Dukun
https://www.box.com/s/f079ae40f0a92b10d33e
Hukum Sihir,Zina dan Dukun-Muhammad Abbas 41Hlm
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-37.pdf
Risalah Tentang Hukum Sihir dan Perdukunan-Syekh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baaz 25Hlm
pustaka.hisbah.net/wp-content/uploads/2016/02/ebook-sihir1.pdf
http://www.islamicbook.ws/indonesian/indonesian-65.pdf
.
Gabung Grup WA
Khusus Ikhwan
https://chat.whatsapp.com/IZlFH3S1yTMDDwByL7jpLu
.
Khusus Akhwat
https://chat.whatsapp.com/CkYZuMBZ4cS9pbNzWxvAlD

Menyingkap Kedustaan Para Dukun dan Tukang Ramal
.
Di zaman ini, muncul pendusta-pendusta ulung yang suka menipu manusia. Sebagian orang menamainya dengan “paranormal”, “tukang ramal”, “ahli nujum”, “tau macca” (Bugis : “orang pintar”), “tukang sihir”, “dukun”, dan lainnya.
.
Pendusta-pendusta ulung ini walaupun ia tak “sehebat” dengan bapak professor, namun ia punya “kepandaian” dalam menipu orang, dan terkadang tampil dengan jubah agama. Dia mampu memukau orang dengan berbagai macam tipuannya.
.
Pendusta-pendusta ulung ini juga mengaku tahu perkara ghaib. Ketika ditanyai tentang nasib orang, rezekinya, jodohnya, atau sandalnya yang hilang, maka ia pun menipu manusia dengan jawaban-jawaban yang dusta.
.
Terkadang juga dengan jawaban yang benar secara kebetulan, atau karena hasil kerja samanya dengan setan dari kalangan jin yang membantu dirinya di atas kekafiran dan maksiat.
.
Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya tentang pendusta-pendusta ini, yang mengaku tahu perkara ghaib dengan pertanyaan berikut: “Apa hukumnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib?”
.
Kemudian Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah- menjawab pertanyaan ini dalam kitabnya Fatawa Arkan Al-Islam (hal. 40),
.
“Hukumnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib bahwa ia kafir, karena ia adalah orang yang mendustakan Allah -Azza wa Jalla- .
.
Allah -Ta’ala- berfirman,
.
{قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ (65)} [النمل: 65]
.
“Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan”. (QS.An-Naml : 65).
.
Apabila Allah -Azza wa Jalla- memerintahkan Nabi-Nya Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wasallam- untuk mengumumkan kepada orang banyak (publik) bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.
.
Apabila demikian, maka sesungguhnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib telah mendustakan Allah -Azza wa Jalla- dalam berita (ayat) ini.
.
Kami katakan kepada mereka (para pendusta itu), “Bagaimana mungkin kalian bisa mengetahui, sementara Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  tidak mengetahui perkara ghaib?!
.
Apakah kalian lebih mulia ataukah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ?!”
.
Jika mereka berkata, “Kami lebih mulia daripada Rasul”, maka mereka ini kafir, karena ucapan ini.
.
Bila mereka berkata, “Beliau lebih mulia”, maka kami katakan, “Kenapa dihalangi (disembunyikan) bagi beliau perkara ghaib, sedang kalian malah bisa tahu?!
.
Padahal Allah -Azza wa Jalla- sungguh telah tentang diri-Nya,
.
{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (27)} [الجن: 26، 27]
.
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka Sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”. (QS.Al-Jin : 26-27).
.
Ini adalah ayat kedua yang menunjukkan kafirnya orang yang mengaku tahu perkara ghaib.
.
Allah -Ta’ala-  juga sunnguh telah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengumumkan kepada publik dalam firman-Nya,
.
{قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ (50)} [الأنعام: 50]
.
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) Aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) Aku mengatakan kepadamu bahwa Aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?” (QS.Al-An’am : 50)”. _Selesai nukilan dari Syaikh Al-Utsaimin_
.
Kedustaan para dukun alias tukang ramal telah disingkap jauh hari oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- di dalam sabdanya,
.
” إِنَّ المَلاَئِكَةَ تَنْزِلُ فِي العَنَانِ: وَهُوَ السَّحَابُ، فَتَذْكُرُ الأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ، فَتَسْتَرِقُ الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ، فَتُوحِيهِ إِلَى الكُهَّانِ، فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ ”
.
“Sesungguhnya para malaikat turun ke awan, lalu mereka menyebutkan perkara yang telah Allah putuskan di langit. Lalu setan-setan itu (berusaha) mencuri dengar, lalu mereka mendengar hal itu, dan mewangsitkannya kepada para dukun. Namun mereka menambahkan bersamanya 100 kedustaan dari sisi diri mereka.”  [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (no. 3210)]
.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy Asy-Syafi’iy –rahimahullah- berkata saat memetik pelajaran dari hadits ini,
.
“وَفِي الْحَدِيثِ بَقَاءُ اسْتِرَاقِ الشَّيَاطِينِ السَّمْعَ لَكِنَّهُ قَلَّ وَنَدَرَ حَتَّى كَادَ يَضْمَحِلُّ بِالنِّسْبَةِ لِمَا كَانُوا فِيهِ مِنَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفِيهِ النَّهْيُ عَنْ إِتْيَانِ الْكُهَّانِ.” انظر : فتح الباري لابن حجر (10/ 221)
.
“Di dalam hadits ini terdapat (pelajaran) tentang adanya curi pendengaran oleh setan-setan (dari laingit). Hanya saja hal itu sedikit dan jarang sampai hampir punah kaitannya dengan apa yang mereka lakukan di masa jahiliah. Di dalam hadits itu juga terdapat larangan dari mendatangi para dukun.” [Lihat Fath Al-Bari (10/221)

Di masa jahiliah, para setan dari kalangan jin senang mempermainkan kaum musyrikin dengan berbagai kedustaan melalui mulut para tukang ramal, ahli nujum, dan dukun-dukun yang sering kali bekerjasama dengan para jin dalam mendustai dan menyesatkan manusia.
.
Namun setelah terutusnya Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wa sallam- ke tengah manusia pada masa itu dan mereka pun beriman, maka para sahabat tidak lagi mempercayai igauan dan ucapan para dukun, tukan ramal dan ahli nujum, sehingga para setan pun tidak lagi menyampaikan berita-berita curian yang dibumbui berbagai kedustaan kepada para dukun dan tukang ramal tersebut.
.
Di sini ada sebuah pelajaran bagi kita bahwa kapan waktu kejahilan merebak di tengah manusia, maka setan dan para walinya dari kalangan dukun-dukun, tukang ramal dan ahli nujum akan giat menjalankan misinya dalam menyesatkan manusia dengan berbagai kedustaan!
.
Sebaliknya, kapan waktu kesesatan dan kejahilan itu hilang dan digantikan oleh ilmu dan kebenaran dari Allah, maka usaha penyesatan setan juga akan berkurang, bahkan akan sirna di tengah manusia.
.
Mendatangi tukang ramal (paranormal atau ahli nujum) dan dukun yang mengaku tahu hal-hal gaib dan mistik merupakan yang amat terlarang dalam Islam.
.
Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
.
«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
.
“Barang siapa yang mendatangi tukang ramal, lalu ia bertanya kepadanya, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 2230)]
.
Begitu besarnya dosa mendatangi tukang ramal atau dukun, sampai Nabi –shallallahu alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kita sholatnya orang yang mendatangi mereka tidak diterima di sisi Allah selama 40 hari.
.
Ini merupakan ancaman dan kecaman keras yang mengisyaratkan bahwa mendatangi tukang rama atau dukun adalah dosa besar.
.
Al-Imam Abul Abbas Al-Qurthubiy –rahimahullah- berkata,
.
“وهذا يدلّ على : أن إتيان العرافين كبيرة.” انظر : المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم (18/ 108)
.
“Hadits ini menunjukkan bahwa mendatangi para peramal adalah dosa besar.”  [Lihat Al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitabi Muslim (18/108)]
.
Kemudian orang yang mendatangi para peramal atau dukun ada dua jenisnya :
.
* Ia datang bertanya, tapi tidak membenarkan ucapan peramal atau dukun. Orang yang seperti ini telah melakukan dosa besar!
.
* Ia datang bertanya, lalu membenarkan ucapan peramal atau dukun. Orang yang seperti ini telah melakukan pelanggaran yang lebih besar daripada yang sebelumnya, bahkan di antara ulama ada yang mengafirkannya!
.
Al-Husain bin Mahmud Az-Zaidaniy –rahimahullah- berkata,
.
“إن أتى أحدٌ عرَّافًا، فسأله شيئًا، فأخبره عن غيبٍ، فإن صدَّقه في ذلك الخبر فهو كافرٌ حتى يجدِّد الإيمانَ، ولا تُقبَل له صلاةٌ ولا غيرُها من الطاعات قبل أن يجدِّدَ الإيمانَ.
.
وإن لم يُصدِّقه فلم يكفر، ولكن لا تُقبَل كمالُ صلاتِه وغيرِها من الطاعة أربعين يومًا كما ذكر النبي – صلى الله عليه وسلم -.” اهـ من المفاتيح في شرح المصابيح (5/ 99)
.
“Jika seseorang mendatangi seorang peramal, lalu ia menanyainya tentang sesuatu, lalu si peramal mengabarkan kepadanya tentang perkara gaib.
.
Jika ia membenarkan si peramal tentang berita itu, maka ia kafir sampai ia memperbaharui imannya, serta sholatnya dan yang lainnya berupa ketaatan-ketaatannya tidak akan diterima sebelum ia memperbaharui imannya.
.
Jika ia tidak membenarkan si peramal, maka ia tidak kafir. Namun kesempurnaan sholatnya dan yang lainnya dari amalan-amalan ketaatannya tidak akan diterima selama 40 hari sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi –shallallahu alaihi wa sallam-.” [Lihat Al-Mafatih fi Syarh Al-Mashobih (5/99]
.
Jika orang yang mendatanginya dan membenarkannya adalah, maka disini ada isyarat bahwa dukun dan peramal itu telah melakukan kekafiran!
.
Sekali lagi bahwa mendatangi para dukun, peramal, ahli nujum, atau paranormal adalah dosa besar, bahkan dapat mengantarkan kepada kekafiran. Mendatangi mereka adalah kebiasaan kaum jahiliah yang ditentang keras oleh Islam!
.
Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc.