.

Alhamdulillah

.

*Puasa Sunnah Ayyamul Bidh Bulan Dzul Qa’dah 1442 H*

.

Ebook

*FAEDAH-FAEDAH SEPUTAR PUASA SYAWAL-Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid*

https://drive.google.com/file/d/1-Tqwrm3JiW7zMIIx4lqCYKcr4lA_RXXA/view?usp=drivesdk

*10 CATATAN TENTANG PUASA SYAWAL-Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., B.A.*

https://drive.google.com/file/d/17-_8-bORchecZIiXTKuiqomM621LV9mG/view?usp=drivesdk

*FIKIH BULAN SYAWAL: PUASA SYAWAL, QADHA, DAN FIDYAH-Ustadz M. Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.*

https://drive.google.com/file/d/1ulnq6xk9St2zlEvCRhSqz1YmRLm_m4i6/view?usp=drivesdk

*10 Faidah Fiqih Shaum Syawwal dan Qadha Ramadhan*

https://archive.org/download/faedah-shaum-syawwal/Faedah%20Shaum%20Syawwal.pdf

″Mutiara Syawal”(54Hlm)

https://bit.ly/MajalahHSI-004-LR

*21 Faidah Puasa Bulan Syawal-Muhammad Shalih al-Munajjid*

https://alwasathiyahcom.files.wordpress.com/2018/06/ebook-21faidah-puasasyawal.pdf

*Puasa.6 Hari Bulan Syawal*

https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_puasa_enam_hari_bulan_syawal.pdf

*Hukum Mengqadha Puasa Ramadhan*

https://d1.islamhouse.com/data/id/ih_fatawa/single/id_Hukum_Mengqadha_Puasa_Ramadhan.pdf

*80 Persoalan Fiqih Puasa-Ust. Abu Yusuf Achmad Ja’far 90Hlm*

https://app.box.com/s/j7uoh7c9a2ikqrfyab1n2crell1q8iox

https://drive.google.com/file/d/1kJniNzJrrRsqChFJBh6taHoKpC8DMJVg/view?usp=drivesdk

*Fikih Puasa – Ringkasan Pembahasan, Fatwa dan Tarjih Penulis: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafizhahullah (200Hlm)*

https://app.box.com/s/zzw7r9ia1m21xxgjx478bg0d9tfch6bo

*Bekal Berpuasa-Fahad bin Yahya Al ‘Amariy 246Halaman*

https://app.box.com/s/ceztjzztk5wzcbicg92evys634puyg06

*Untaian Faedah Dari Ayat Puasa-Muhammad Abduh Tuasikal 113Halaman*

https://app.box.com/s/b4w6kyv0f020vurhwjpx5e8nrp3qg3kp

*Hadits Puasa dari Bulughul Maram-karya Ibnu Hajar Al-Asqalani.85Halaman*

https://app.box.com/s/cx7dwqs440hccaakl92548cfevp4r29p

*Berbagi Faedah Fikih Puasa dari Matan Abu Syuja-Muhammad Abduh Tuasikal, MSc 86Halaman*

https://www.dropbox.com/sh/gjnp4c1wz092thq/AACpOIp2Sz81wTF9GpODEjwPa?dl=1

*Ayat-Ayat Shiyam-Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST.32Hlm*

https://app.box.com/s/szpr8ksp3e8c6mgcuxo8y7yybskiaghb

*Fikih Kesehatan Kontemporer -Terkait Puasa dan Ramadhan Ust. dr. Raehanul Bahraen (81Hlm)*

https://app.box.com/s/jh3diuslrm4tcmqwc4ukhfplxd25zl0s

.

Kalender Puasa 1442H/2021M

http://bit.ly/puasa2021syukr

http://bit.ly/puasa2021syukr2

http://bit.ly/puasa-2021

.

➡ Puasa Sunnah Ayyamul Bidh

.

➡Besok إِنْ شَاءَ اللَّهُ puasa ayyamul bidh…

.

✅ _*Kita disunnahkan berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali.* Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh, yaitu *pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah (Qomariyah).* Puasa tersebut *disebut ayyamul bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.*

.

*_Niatnya? Cukup di dalam hati ingin puasa ayyamul bidh*_

*Keutamaannya banyak, di antaranya*

.

_*1. Bekal akhirat,*_

_*2. Seperti puasa sebulan (jika dikerjakan rutin setiap bulan, seperti puasa setahun),*_

_*3. Lalu baik untuk kesehatan.*_

.

✅ _Dalilnya sbb:

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda_

.

صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ

.

_*”Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”* (HR. Bukhari no. 1979)_

.

✅ _Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata_



.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُوَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ

.

_*“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).”* Dan beliau bersabda, *“Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”*

(HR. Abu Daud no. 2449 dan An Nasai no. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)_

.

➡Insya Allah…

*Jadwal Puasa Ayyamul Bidh Bulan Dzulqa’dah 1442 H*

.



*Rabu, 13 Dzulqa’dah 1442 H / 23-Juni-2021 M*

*Kamis, 14 Dzulqa’dah 1442 H / 26-Juni-2021 M*

*Jum’at, 15 Dzulqa’dah 1442 H / 27-Juni-2021 M*

.

_*Puasa Senin Kamis atau bahkan puasa Dawud bagi yang mengamalkannya, tetap memiliki fadhail di Bulan Dzulqa’dah 1442H*

.

➡ *Catatan* :

.

_Puasa tiga hari setiap bulan paling utama dikerjakan pada Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan Hijriyah. Dan jika tidak memungkinkan, tidak apa-apa dikerjakan di awal bulan atau di akhir bulan, boleh berurutan atau berselang._

.

✅ _Dari Mu’adzah Al ‘Adawiyyah, ia pernah bertanya pada ‘Aisyah -istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam_

.

أَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَتْ نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ قَالَتْ لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَىِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ

.

_*“Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan puasa tiga hari setiap bulannya?”* ‘Aisyah menjawab, *“Iya”.* Ia pun bertanya pada ‘Aisyah, *“Pada hari apa beliau berpuasa?”* ‘Aisyah menjawab, *“Beliau tidak memperhatikan pada hari apa beliau berpuasa dalam sebulan.”* (HR. Muslim no. 1160).*_

.

*Berpuasa tiga hari setiap bulan disunnahkan dan nilainya terhitung seperti puasa dahr (setahun), karena amal shalih dalam Islam diganjar sepuluh kali lipat. Berpuasa sehari diganjar seperti puasa sepuluh hari. Maka siapa yang berpuasa tiga hari setiap bulannya, dia terhitung berpuasa setahun penuh.*

.

✅ Dari Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya:

.



وَإِنَّ بِحَسْبِكَ أَنْ تَصُومَ كُلَّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنَّ لَكَ بِكُلِّ حَسَنَةٍ عَشْرَ أَمْثَالِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ



.

*”Dan sesungguhnya cukuplah bagimu berpuasa tiga hari dari setiap bulan. Sesungguhnya amal kebajikan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, seolah ia seperti berpuasa sepanjang tahun.”* (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan an Nasai)

.

✅ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

.

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

.

*“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: [1] berpuasa tiga hari setiap bulannya, [2] mengerjakan shalat Dhuha, [3] mengerjakan shalat witir sebelum tidur. (HR. Bukhari no. 1178.).*

.

✅ *Dan disunnahkan melaksanakannya pada Ayyamul Bidh (hari-hari putih), yaitu tanggal 13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah. Diriwayatkan dari Abi Dzarr Radhiyallahu ‘Anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku:*

.

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنْ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

.

*”Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari salah satu bulan, maka berpuasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.”* (HR. At Tirmidzi dan al-Nasai. Hadits ini dihassankan oleh al-Tirmidzi dan disetujui oleh Al-Albani dalam al-Irwa’ no. 947)

.

✅ *Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,*

.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ

.

*“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”* (HR. An Nasai no. 2345. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Ash Shohihah no. 580.)

.

✅ *Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;*

.

صِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صِيَامُ الدَّهْرِ وَأَيَّامُ الْبِيضِ صَبِيحَةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

.

*”Puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa dahr (puasa setahun). Dan puasa ayyamul bidh (hari-hari putih) adalah hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.”* (HR. An Nasai dan dishahihkan al Albani)

.

*➡ Faedah dan Pelajaran Penting*

.

*✅ 1. Pada setiap kurun waktu waktu yang dilalui manusia, Allah azza wa jalla menetapkan musim-musim kebaikan, dan Dia azza wa jalla mensyariatkan padanya ibadah dan amal shaleh untuk mendekatkan diri kepada-Nya.* [ Lihat keterangan Imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam Lathaiful Ma’arif hal.19-20]

.

*✅ 2. Pahala perbuatan baik akan dilipatkan gandakan menjadi sepuluh kali,[ HR.al-Bukhari 42] karena puasa tiga hari pahalanya dilipatkangandakan sepuluh kali menjadi tiga puluh hari (satu bulan), maka kalau ini dikerjakan setiap bulan berarti sama dengan berpuasa satu tahun penuh.* [ Lihat kitab asy-Syarhul Mumti’ 3/97 dan Bahjatun Nazhirin 2/390]

.

*✅ 3. Keutamaan berpuasa ini lebih dikuatkan dengan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, sebagaimana yang diriwayatkan oleh istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha* [ HR.Muslim 1160]

.

*✅ 4. Demikian pula lebih dikuatkan dengan wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada beberapa sahabat untuk melakukan puasa ini, seperti kepada Abu Hurairah [HR.al-Bukhari 1124 dan Muslim 721] dan Abu Dzar[HR.Muslim 722] radhiyallahu ‘anhuma.*

.

*✅ 5. Dianjurkan berpuasa tiga hari setiap bulannya, pada hari apa saja. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin menjelaskan, “Puasa tiga hari setiap bulannya boleh dilakukan pada sepuluh hari pertama, pertengahan bulan atau sepuluh hari terakhir dari bulan Hijriyah, atau pula pada setiap sepuluh hari tadi masing-masing satu hari. Puasa tersebut bisa pula dilakukan setiap pekan satu hari puasa. Ini semuanya boleh dan melakukan puasa tiga hari setiap bulannya ada keluasan melakukannya di hari mana saja. Oleh karena itu, ‘Aisyah mengatakan, “Beliau tidak peduli pada hari apa beliau puasa (artinya semau beliau di awal, pertengahan atau akhir bulan hijriyah)”* (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/470.)

.

*✅ 6. Yang paling utama puasa tiga hari ini dilakukan pada hari-hari bidh yang dikenal dengan ayyamul bidh. (putih/terang) (biid = putih, ayyamul = hari) karena pada malam-malam itu bersinar putih dikarenakan bulan purnama yang muncul pada saat itu [Lihat kitab asy-Syarhul Mumti’ 3/97 dan Bahjatun Nazhirin 2/389], yaitu tanggal 13,14 dan 15 setiap bulan (hijriyah),[ Lihat keterangan Imam an-Nawawi dalam “Riyadhus Shalihin” (2/389-Bahjatun Nazhirin)] karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan hal ini secara khusus dalam hadits yang shahih di atas.[ HR.Abu Dawud 2449 dan dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani]*

.

*✅ 7. Larangan berpuasa tiap hari sepanjang tahun (puasa dahr), kemudian beliau membimbing mereka kepada kebaikan dan keutamaan yang mereka mampu kerjakan secara kontinyu* [ Lihat kitab Bahjatun Nazhirin 2/391]

.

*✅ 8. Hadits-hadits tersebut juga menunjukkan keutamaan amal ibadah yang dikerjakan secara kontinyu(Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”* [ HR.al-Bukhari 6099 dan Muslim 783.]

.

*✅9 . Memberi istirahat pada anggota badan setiap bulannya. Wallahu a’lam.*

.

Hukum Poligami Menurut Islam dan Hikmahnya



Dalam kitab Al Fiqh Al Manhajy Ala Madzhab Al Imam As Syafi’i disebutkan bahwa hukum asal poligami (التَعَدُّد) atau menikahi lebih dari satu istri pada satu waktu ialah mubah atau boleh. Allahsubhanahu wata’ala berfirman,



وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ



“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.” (QS. An Nisa’: 3)



Maksud dari ayat ini ialah: Jika kalian takut ketika menikahi wanita-wanita yatim lalu tidak mampu berlaku adil dalam bermuamalah terhadap mereka, maka dibolehkan bagi kalian menikahi selain mereka, dua, tiga atau empat.



Akan tetapi ada beberapa hal yang bisa menjadikan hukum poligami berubah menjadi mandub/mustahab/sunnah, makruh atau haram tergantung keadaan atau pertimbangan terkait pribadi yang hendak berpoligami, yaitu:



A. Sunnah. Jika suami membutuhkan istri lain: Seperti jika satu istri saja tidak cukup untuk menjaga kehormatan diri dari fitnah/cobaan wanita lain, istri pertama sakit atau mandul sedangkan ia ingin memiliki keturunan, sedangkan dia sendiri kemungkinan besar mampu berlaku adil terhadap istri-istrinya. Poligami dengan keadaan ini hukumnya sunnah, karena terdapat kemaslahatan syar’i. Di sisi lain, banyak sekali para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki istri lebih dari satu, termasuk Rasulullah sendiri.



B. Makruh. Jika berpoligami tanpa ada kebutuhan, melainkan untuk menambah kenikmatan dan berbangga-bangga saja. Suami sendiri masih diragukan kemampuannya untuk bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Poligami dengan keadaan ini hukumnya makruh, karena tidak adanya kebutuhan atau kemaslahatan syar’i. Dampak buruk juga berpotensi menimpa para istri karena ketidakmampuan suami berlaku adil. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,



دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَىْ مَا لاَ يُرِيْبُكَ



“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukan, kepada sesuatu yang tidak meragukan” (HR. Tirmidzi, no. 252, sohih)



C. Haram. Jika kemungkinan besar atau dipastikan tidak mampu berlaku adil ketika menikahi lebih dari satu istri, entah karena kemiskinannya, kelemahannya, atau ketidakpercayaan dirinya supaya terhindar dari berbuat zalim. Poligami dalam keadaan ini hukumnya haram, karena menimbulkan keburukan bagi orang lain. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,



لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ



“Tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan keburukan bagi diri sendiri ataupun orang lain.” (HR. Ahmad 1/313 & Ibnu Majah no. 2341)



Allah ta’la berfirman,



فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ



“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. An Nisa’: 3)



Maksudnya, jika tidak mampu berlaku adil nikahilah seorang saja, karena itu lebih dekat untuk tidak berlaku zalim.



Wajib diketahui, jika akad nikah poligami telah terlaksana dalam kondisi kedua atau ketiga (dimakruhkan atau diharamkan bagi suami), tetaplah dianggap sebagai akad nikah yang sah dan tetap berjalan konsekuensinya, seperti: kehalalan bersenggama, kewajiban membayar mahar, nafkah dan lainnya meskipun dimakruhkan ataupun diharamkan bagi sosok yang hendak berpoligami. Keharaman ini menyebabkannya berdosa, akan tetapi tidak membatalkan akad nikah.



Bagaimanakah Keadilan yang Dituntut dalam Poligami?



Keadilan yang diwajibkan atas suami yang menikahi lebih dari seorang istri ialah keadilan dan kesamaan dalam nafkah, tempat tinggal, bermalam, pergaulan yang baik dan membantu kewajiban-kewajiban istri. Sedangkan rasa cinta dalam hati yang sama sekali tidak ada kecondongan kepada salah satu istri bukan merupakan kewajiban suami kepada istri-istrinya, karena manusia tidak memiliki kuasa atas perasaan hati yang ia miliki, sedangkan di situlah tempat rasa cinta berlabuh. Barangkali itulah yang dimaksud dalam firman Allah,



وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا



“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa’: 129)



Maksudnya, kalian tidak mungkin bisa mengikat erat perasaan dalam hati untuk menyamakan rasa cinta kepada semua istri, maka dari itu janganlah kalian terlalu menjadikan hati condong kepada salah satunya melebihi yang lain hingga memunculkan kezaliman.



Sedangkan keadilan untuk perkara yang telah kita sebut di atas, dari pemberian nafkah, tempat tinggal, waktu bermalam, serta baik dalam pergaulan merupakan perkara yang sanggup dilakukan oleh manusia biasa. Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam berkata setelah pembagian dan pergaulan yang adil kepada para istrinya,



اللَهُمَّ هَذَا قِسْمِيْ فِيْمَا أَمْلِكُ فَلاَ تَلُمْنِيْ فِيْمَا تَمْلِكُ وَلاَ أَمْلِكُ



“Ya Allah, inilah pembagian dariku atas apa yang aku miliki, maka janganlah Engkau cela aku atas apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki.” (HR. Abu Daud no. 2134 & Tirmidzi no. 1140)



Demikianlah yang berkaitan dengan rasa cinta dan kecondongan hati. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaiihi wasallam dulu mencintai Aisyahradhiyallahu ‘anha melebihi istrinya yang lainradhiyallahu ‘anhum.



Hikmah Syariat Poligami



Islam memperbolehkan poligami sebagai hukum asal, bukan menjadikannya fardhu, lazim atau wajib. Islam memperbolehkan suami menikahi lebih dari seorang istri untuk tujuan yang lebih jauh mendalam ke depan demi kebaikan kehidupan sosial masyarakat. Tujuan ini tidak bisa diterka kecuali oleh pandangan mata yang jitu, diantaranya:



Untuk melindungi mereka yang tidak mampu menjaga kehormatan diri jika menikah dengan seorang istri saja. Naluri ini merupakan sifat alami laki-laki, dan ia memiliki potensi menjerumuskannya kepada yang tidak disyariatkan. Maka poligami lebih baik bagi mereka serta masyarakat, yaitu dengan menikahi wanita lain dalam pagar perlindungan yang jelas, dengan syariat yang memastikan istri mendapatkan hak-haknya, kehormatan yang pantas, dan terhindar dari perbuatan zina.Poligami juga disyariatkan untuk menjaga wanita dari fitnah syahwat yang terjulur di belakang mereka, hilangnya akad yang menjamin perlindungan anak-anak, hubungan cinta kasih haram tidak berguna yang berpotensi menjadikan mereka sosok terbuang dan terputus dari berbagai macam hak, putra putri yang terhalang dari hak-hak nasab, dan juga kehilangan kasih sayang dari kedua orang tua mereka.Istri yang dipoligami hidup dengan hak-hak yang dijaga serta terhormat & bermartabat merupakan seribu kali lebih baik daripada tetap menjanda, atau menjalin kasih pertemanan yang terlarang. Hasil penelantarannya berpotensi menjurus kepada keharaman, kesengsaraan dan kemalangan. Sedangkan kehidupan masyarakat tidak terlindungi dari kehinaan, kelemahan, kerusakan dan kekacauan.



Contoh Alasan Benar untuk Berpoligami



Seorang lelaki yang memiliki hasrat terhadap para wanita, sedangkan istrinya sudah enggan bersenda-gurau dengannya, entah karena sifat bawaan atau karena penyakit. Maka manakah yang lebih afdhol, sang lelaki berzina, lalu hilanglah agama, harta dan kesehatannya? Atau dibiarkan kebutuhannya tertutup rapat, terlipat, dan batinnya tersiksa? Atau menikah dengan wanita lain dengan syarat mampu bertanggung jawab dan berlaku adil tanpa berbuat zalim? Tentu saja solusi ketiga ialah yang paling afdhol bagi suami ini, dan lebih menjaga tatanan kehidupan masyarakat dari kerusakan.Api peperangan yang menjulur. Pada jaman ini, peperangan merupakan hukum kehidupan yang tak terelakkan. Banyak sekali lelaki yang mati saat tugas pertempuran, atau mencacatkan mereka. Karena itu jumlah wanita lebih melimpah ruah dibandingkan jumlah pria. Lalu apakah baik jika para wanita yang menjanda mencukupkan diri dengan “satu suami beristri satu saja”? Sedangkan masih banyak wanita janda yang terhalang dari kasih sayang & kelemah lembutan suami yang ingin mencintainya. Ia juga terhalang dari lahirnya anak yang akan mengurusnya di masa tua jika belum memiliki anak atau sedikit. Ataukah lebih baik menyalurkan hasrat kepada keharaman? Atau ijinkan saja seorang lelaki menikahi dia untuk menjadi istri kedua di bawah naungan perlindungan tanggung jawab yang sesuai dengan syariat sempurna? Tentu pilihan terakhir itulah yang terbaik.Sepasang suami istri yang saling mencintai akan tetapi sang istri mandul, rahimnya tidak mampu melahirkan anak, sedangkan sang suami ingin memiliki keturunan dan sangat berharap. Apakah yang terbaik mengharamkan atas suami ini menikah dengan istri kedua dan meninggalkan lubuk hatinya terzalimi karena terhalang dari memiliki keturunan? Atau perintahkan saja dia supaya menceraikan istri pertamanya, lalu menikah dengan wanita lain? Justru hal ini menzalimi istri yang pertama. Maka poligami merupakan solusi atas semua permasalahan di atas.Masyarakat yang mengharamkan poligami terjerumus dalam bahaya lebih besar, lebih buruk dari tuduhan mereka atas poligami. Yaitu banyaknya kerusakan, tersebarluasnya tindakan khianat dari pasangan suami istri, perselingkuhan tersembunyi, zina, lokalisasi, seks bebas, kumpul kebo dan lain sebagainya, yang menjadikan para pemikir mereka lantang menyuarakan diperbolehkannya syariat poligami, agar menyelesaikan permasalahan sosial yang disebabkan oleh tidak tersalurnya naluri manusia kepada yang dihalalkan. [1]



Diterjemahkan, disusun & diringkas dari:



[1] DR. Musthafa Al Khan, DR Musthafa Al Bugha. Al Fiqh Al Manhajy Ala Madzhab Al Imam As Syafii. 1413 H/1992 M. DarQolam Damaskus. 4/35.



Di Banjararum, Singosari, Malang, Jawa Timur Indonesia, Rabu 5 Dzulqa’dah 1442 H (16 Juni 2021 M)



Oleh: Iskandar Alukal, L.c.