Ketentuan Umum Sholat Sunnah 



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

••

1.Mungkar Dicegah Bahaya Enyah

2.Bijak Mengelola Harta Ala Istri Shalihah

3.Tanggung Jawab Istri Kepada Kedua Orang Tuanya

4.Mencintai Seorang Gadis Yang Bapaknya SudahMerestui Pernikahannya Namun Ibunya Menolaknya

5.Menggenggam Telapak Tangan Dan Menggererakkan Telunjuk Dalam Duduk Di Antara Dua Sujud

6.Menakjubkan! Raup Pahala Besar Dengan Amal Sederhana(Bag. 1)

7.Bulughul Maram – Shalat: Waktu Shalat yang Lima Waktu

8.Menempa Diri Di Sekolah Malam

9.Faedah Sirah Nabi: Pelajaran dari Pemboikotan dari OrangQuraisy

10.10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 11): Mengenali Hakikat Jiwa

••

Sholat Sholat Sunnah-Ust Abu Ihsan Al Atsary

Bag1Bag2Bag3

Sholat Sunnah Rowatib-Ust Firanda Andirja

Meneladani Sholat Sunnah Rasulullah-Ust Mubarak Bamuallim

Ustadz Abdurrahman Al Atsary – Khutbah Jum’at – Bahaya Meninggalkan Sunnah dan Taqlid Buta

SYARAH AQIDAH SALAF 12| UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT

AQIDAH ke 37 || KITA BERIMAN DAN MEYAKINI BAHWA SIHIR ADALAH SYIRIK DANKEKUFURAN.AQIDAH ke 38 || KITA BERIMAN DAN MEYAKINI BAHWA SEGALABENTUK PERDUKUNAN DAN RAMALAN PERBINTANGAN ADALAHSYIRIK.

https://mir.cr/L4XR465N

Dosa Dosa Yang Tidak Disadari Kaum Wanita-Ust Firanda Andirja

https://mir.cr/10HJLNWI

Ustadz Abdurrahman Al Atsary – Datangilah Majelis Ilmu

Ustadz Abdurrahman Al Atsary -Bahaya Sombong

Ceramah Agama_ Tawakal Kepada Allah – Ustadz Mizan Qudsiyah6Mb

PERUSAK MANUSIA_ PERLU ANDA KETAHUI-Ust Mizan Qudsiyah

Ustadz Abdurrahman Al Atsary – – Renungan Kondisi Negeri Yang Tertindas

Ustadz Abdurrahman Al Atsary – – NasehatUntuk Kaum Muslimin

••

Sholat Sholat Sunnah

Macam Macam Sholat Sunnah

Petunjuk Lengkap Tentang Sholat

==

➡ KETENTUAN UMUM SHOLAT SUNNAH
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada.Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat, amma ba’du:

Berikut pembahasan tentang, semoga Allah menjadikan penyusunan risalah ini ikhlas karena-Nya dan bermanfaat,

  • ➡ Sholat Sunnah adalah Penyempurna Sholat Wajib

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلَاةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ

Sesungguhnya amal pertama kali yang dihisab (diperhitungkan) pada seorang manusia pada hari kiamat adalah sholat. Tuhan kita Jalla wa Azz berfirman kepada para Malaikatnya dalam keadaan Dia lebih mengetahui. Lihatlah pada sholat hambaku apakah ia menyempurnakannya atau menguranginya. Jika sempurna ditulis sempurna. Jika kurang, maka Allah berfirman: Lihatlah apakah hambaku memiliki sholat tathowwu’ (sunnah). Jika ada sholat sunnah, sempurnakanlah sholat wajibnya dengan sholat sunnah itu (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, anNasaai, Ibnu Majah, dishahihkan al-Hakim disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby dan al-Albany). 

  • Sholat Sunnah Lebih Utama Dilakukan di Rumah, Namun Boleh Dikerjakan Di Masjid 

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ صَلَاةِ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ

Wahai manusia, sholatlah (sunnah) di rumah-rumah kalian karena sesungguhnya yang paling utama dilakukan sholat di rumah bagi laki-laki kecuali sholat wajib (di masjid)(H.R al-Bukhari)

صَلُّوا فِي بُيُوتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا

Sholatlah (sunnah) di rumah-rumah kalian, jangan jadikan (rumah itu) (bagaikan) kuburan (H.R Muslim dari Ibnu Umar)

إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ الصَّلَاةَ فِي مَسْجِدِهِ فَلْيَجْعَلْ لِبَيْتِهِ نَصِيبًا مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنَّ اللَّهَ جَاعِلٌ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ خَيْرًا

Jika salah seorang dari kalian menyelesaikan sholatnya di masjid, maka jadikanlah bagian sholat untuk rumahnya. Karena Allah menjadikan di rumahnya dengan sebab sholat itu kebaikan (H.R Muslim dari Jabir)

صَلاَةُ الرَّجُلِ تَطَوُّعًا حَيْثُ لاَ يَرَاهُ النَّاسُ تَعْدِلُ صَلاَتَهُ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ خَمْسًا وَ عِشْرِيْنَ

Sholat sunnah seseorang ketika tidak terlihat manusia setara dengan sholatnya yang dilihat manusia sebanyak 25 kali lipat (H.R Abu Ya’la, dishahihkan al-Albany dalam Shahihul Jami’) 

  • Sholat Sunnah yang Dikerjakan dengan Duduk Pahalanya Setengah dari Sholat Sunnah yang Dikerjakan Berdiri 

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ وَهُوَ قَاعِدٌ فَقَالَ مَنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ

Dari Imron bin Hushain radhiyallahu anhu beliau berkata: Aku bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wasallam tentang seseorang yang sholat dengan duduk. Beliau bersabda: Barangsiapa yang sholat dengan berdiri maka itu lebih utama. Barangsiapa yang sholat dengan duduk, maka pahalanya setengah dari pahala sholat berdiri. Barangsiapa yang sholat berbaring maka ia mendapatkan setengah dari pahala sholat duduk (H.R al-Bukhari) 

Para Ulama menjelaskan bahwa pada sholat wajib seorang harus melakukannya dengan berdiri jika mampu. Tidak boleh sholat dengan duduk atau berbaring. Namun jika ia tidak mampu, ia bisa sholat dengan duduk dan pahalanya sempurna, karena ia tidak bisa sholat berdiri disebabkan udzur. 

Sedangkan pada sholat sunnah, jika seseorang sholat duduk padahal sebenarnya mampu sholat berdiri, pahalanya setengah dari sholat berdiri.  

Apakah boleh sholat sunnah dengan berbaring padahal ia bisa sholat dengan berdiri atau duduk? Dalam hal ini ada perbedaan pendapat para Ulama. Mayoritas berpendapat tidak boleh. Namun sebagian kecil Ulama berpendapat boleh, di antaranya al-Hasan al-Bashri (seorang tabi’i). Menurut beliau seseorang yang sholat sunnah boleh melakukannya dengan berdiri, duduk, atau berbaring. Riwayat al-Bukhari dalam hadits Imron bin Hushain di atas menguatkan pendapat tersebut. Wallaahu A’lam 

  • Sholat Sunnah yang Dilakukan di Waktu Malam Lebih Utama Dibandingkan yang Dilakukan di Waktu Siang

وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Pada sebagian riwayat hadits dinyatakan : setelah tengah malam. 

  • Sholat Sunnah Sebaiknya Berpindah Tempat, dan Tidak Menyambung Sholat Wajib dengan Sholat Sunnah 

عَنْ عُمَرَ بْنِ عَطَاءِ بْنِ أَبِي الْخُوَارِ أَنَّ نَافِعَ بْنَ جُبَيْرٍ أَرْسَلَهُ إِلَى السَّائِبِ ابْنِ أُخْتِ نَمِرٍ يَسْأَلُهُ عَنْ شَيْءٍ رَآهُ مِنْهُ مُعَاوِيَةُ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ نَعَمْ صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِي الْمَقْصُورَةِ فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قُمْتُ فِي مَقَامِي فَصَلَّيْتُ فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ لَا تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

Dari Umar bin Atho’ bin Abil Khuwaar bahwa Nafi’ bin Jubair mengutusnya kepada as-Saaib bin Ukhti Namir bertanya tentang sesuatu yang ia lihat dari Muawiyah (bin Abi Sufyan) dalam sholatnya. Ya, aku pernah sholat Jumat bersamanya di al-Maqshuuroh (ruangan khusus di masjid). Ketika Imam mengucapkan salam, aku bangkit di tempatku kemudian (langsung) sholat. Ketika beliau masuk beliau mengutus seseorang kepadaku dan berkata: Janganlah diulang apa yang engkau lakukan. Jika engkau telah sholat Jumat, janganlah disambung dengan sholat (lain) hingga engkau berbicara atau keluar. Karena Rasulullah shollallahu alaihi wasallam memerintahkan kami demikian. Yaitu, janganlah sholat disambung dengan sholat hingga kami berbicara atau keluar (H.R Muslim) 

✅ Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan:

Sebagai contoh, jika engkau sholat Dzhuhur yang Dzhuhur itu memiliki sunnah rotibah (ba’diyah) setelahnya, dan engkau ingin sholat sunnah rotibah itu, janganlah sholat di tempatmu (tempat melakukan sholat Dzhuhur). Bangkitlah ke tempat lain atau keluarlah ke rumah (untuk dikerjakan di rumah, pent) maka itu lebih utama. Atau paling tidak, engkau berbicara (sebagai pemisah antara sholat wajib dengan sunnah, pent). Karena Nabi shollallahu alaihi wasallam melarang sholat disambung (langsung) dengan sholat hingga seorang keluar atau berbicara. Karena itu para Ulama berkata: Disunnahkan memisahkan antara sholat Fardlu dengan sholat sunnahnya dengan ucapan atau berpindah tempat. Hikmahnya dalam hal itu adalah agar sholat fardlu tidak disambung dengan sholat sunnah. Akan tetapi sholat fardlu sendiri dan sholat nafilah (sunnah) sendiri. Sehingga tidak bercampur menjadi satu (syarh Riyadhis Sholihin (1/1301)) 

✅ Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidzhahullah menyatakan:

Dan hadits ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa semestinya seseorang sholat nafilah (sunnah) di tempat lain, selain tempat yang digunakan untuk sholat fardlu. Faidahnya adalah tidak menyambung fardlu dengan nafilah dan agar tanah yang berbeda-beda yang menjadi tempat sholatnya akan menjadi saksi (nantinya). Karena bumi akan bersaksi pada hari kiamat terhadap perbuatan yang dilakukan di atasnya. Apakah itu perbuatan baik ataupun buruk. Itulah makna firman Allah Azza Wa Jalla: “Pada hari itu (bumi) menyampaikan kabar-kabarnya (Q.S az-Zalzalah ayat 4).

Yaitu, bumi mengkhabarkan kejadian yang terjadi di atasnya. Apakah perbuatan baik atau buruk. Jika seseorang sholat di tempat lain, maka tanah yang menjadi tempat sholatnya akan berada di tempat berbeda-beda. Sehingga tanah dan tempat-tempat yang berbeda-beda itu akan bersaksi untuknya (pada hari kiamat)(transkrip ceramah syarh Sunan Abi Dawud li Abdil Muhsin al-Abbad (6/416)).  

  • Beberapa Sholat Sunnah yang Tidak Ditinggalkan Nabi baik Saat Mukim Maupun Safar 

Saat safar, Nabi shollallahu alaihi wasallam tidak meninggalkan sholat – sholat sunnah berikut:

1. Witir (sholat malam).

2. Sholat sunnah sebelum Subuh.

3. Beliau pernah sholat Dhuha saat safar. 

✅ Dalil poin pertama:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً صَلاةَ اللَّيْلِ إِلا الْفَرَائِضَ وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ .

Dari Ibnu Umar –radhiyallahu anhuma- beliau berkata: Nabi shollallahu alaihi wasallam sholat di waktu safar di atas kendaraannya, ke manapun kendaraannya menghadap. Beliau melakukan sholat malam dengan memberi isyarat (di atas kendaraan), kecuali dalam sholat fardlu (beliau tidak melakukannya di atas kendaraan). Beliau berwitir di atas kendaraannya (H.R al-Bukhari) 

✅ Dalil poin kedua:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ عَرَّسْنَا مَعَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ نَسْتَيْقِظْ حَتَّى طَلَعَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَأْخُذْ كُلُّ رَجُلٍ بِرَأْسِ رَاحِلَتِهِ فَإِنَّ هَذَا مَنْزِلٌ حَضَرَنَا فِيهِ الشَّيْطَانُ قَالَ فَفَعَلْنَا ثُمَّ دَعَا بِالْمَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ … ثُمَّ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَصَلَّى الْغَدَاةَ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu beliau berkata: Kami singgah di suatu tempat di akhir malam (saat safar) bersama Nabi shollallahu alaihi wasallam. Kemudian (kami tertidur dan) kami tidak ada yang bangun hingga terbit matahari. Kemudian Nabi shollallahu alaihi wasallam bersabda: Setiap orang hendaknya memegang kendaraannya masing-masing (untuk berpindah tempat) karena tempat ini telah dihadiri syaithan. Kami kemudian melakukan hal itu. Beliau meminta air kemudian berwudhu’ kemudian sujud dua kali sujud (sholat dua rokaat sebelum Subuh)…kemudian dikumandangkan iqomat kemudian sholat Subuh (H.R Muslim) 

✅ Dalil poin ketiga:

عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ مَا أَخْبَرَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ اغْتَسَلَ فِي بَيْتِهَا فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فَمَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلَاةً أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Dari Ibnu Abi Laila beliau berkata: Tidaklah ada seseorang yang mengkhabarkan kepada kami bahwa ia melihat Nabi shollallahu alaihi wasallam sholat Dhuha selain Ummu Hani’. Beliau menceritakan bahwa Nabi shollallahu alaihi wasallam pada hari Fathu Makkah mandi di rumahnya kemudian sholat 8 rokaat. Aku tidak melihat beliau sholat lebih ringan dibandingkan sholat itu. Hanya saja beliau menyempurnakan ruku’ dan sujudnya (H.R al-Bukhari) 

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa saat safar, sholat sunnah rowatib yang muakkad (ditekankan) yang sebaiknya tidak dilakukan adalah rowatib Dhuhur, Maghrib, dan Isya’. Selebihnya sholat sunnah yang lain bisa dilakukan seperti tahiyyatul masjid, Dhuha, sunnah setelah wudhu’, dan semisalnya (Fataawa Nuurun alad Darb) 

Sahabat Nabi Ibnu Umar mengingkari orang-orang yang safar melakukan sholat sunnah rowatib siang (ba’da Dhuhur):

عَنْ عِيسَى بْنُ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ َبِيهِ قَالَ صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ قَالَ فَصَلَّى لَنَا الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ وَأَقْبَلْنَا مَعَهُ حَتَّى جَاءَ رَحْلَهُ وَجَلَسَ وَجَلَسْنَا مَعَهُ فَحَانَتْ مِنْهُ الْتِفَاتَةٌ نَحْوَ حَيْثُ صَلَّى فَرَأَى نَاسًا قِيَامًا فَقَالَ مَا يَصْنَعُ هَؤُلَاءِ قُلْتُ يُسَبِّحُونَ قَالَ لَوْ كُنْتُ مُسَبِّحًا لَأَتْمَمْتُ صَلَاتِي يَا ابْنَ أَخِي إِنِّي صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ وَصَحِبْتُ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ وَصَحِبْتُ عُمَرَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ ثُمَّ صَحِبْتُ عُثْمَانَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ وَقَدْ قَالَ اللَّهُ { لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ }

Dari Isa bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin al-Khoththob dari ayahnya beliau berkata: saya menemani Ibnu Umar pada sebuah jalan di Makkah kemudian beliau sholat Dzhuhur dua rokaat (qoshor). Kemudian beliau menghadap kendaraannya dan kamipun menghadap ke arah yang sama hingga beliau mendatangi tempat beliau dan kami duduk bersama beliau. Kemudian beliau menoleh ke arah tempa sholat. Beliau melihat orang-orang berdiri. Beliau bertanya: Apa yang dilakukan mereka? Aku berkata: Mereka sholat sunnah. Beliau berkata: Kalau aku mau sholat sunnah, niscaya aku sempurnakan sholatku (tidak qoshor). Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku menemani Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dalam safar beliau tidak menambah dari dua rokaat hingga Allah mewafatkan beliau. Aku menemani Abu Bakr, beliau tidak menambah dari dua rokaat hingga Allah mewafatkan beliau. Aku menemani Umar, beliau tidak menambah dari dua rokaat hingga Allah mewafatkan beliau. Aku menemani Utsman, beliau tidak menambah dari dua rokaat hingga Allah mewafatkan beliau. Allah telah berfirman (Q.S al-Ahzab:21): Sungguh telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah (H.R Muslim).

Hal itu menunjukkan bahwa termasuk Sunnah Nabi adalah meninggalkan sholat sunnah rowatib kecuali sebelum Subuh pada saat safar.

==√√√√ Lanjut Ke Halaman 2 √√√√

Iklan