Antara Ustadz Adi Hidayat, Nabi sama sekali tidak pernah shalat tahiyyatul masjid seumur hidup, Sifat istiwa’ Allah di atas ‘Arsy, Musik,Takdir,Sifat Nuzul Allah,dll(Pro Nabi dan Sahabat)


Alhamdulillah 

Ustadz Aunur Rafiq Ghufran · Kaidah dalam Mentahdzir 

Perbedaan Tahdzir dan Debat

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed- Manhaj TAHDZIR 01 

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed Manhaj TAHDZIR 02

Ust Adi Hidayat Kembali di Tahdzir Oleh UstMuflih Safitra Karena 

Ust Muflih Safitra Antara Maulid, Mushaf Al-Qur’an dan Pesawat Terbang 

Nabi tidak pernah shalat Tahiyyatul  Masjid seumur hidup?

Menjelaskan Kekeliruan Ust Adi Hidayat Tentang Maulid Nabi I Ust Muflih Safitra 

Mengkoreksi Ustadz Adi Hidayat bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam tidak pernah shalat Tahiyatul Masjid

https://m.youtube.com/watch?v=O2k19xeg1Qo 

Tanggapan Atas (Tuntutan Menjawab) Undangan Medsos Ustadz Adi Hidayat 

semoga Allah menunjuki kami, beliau dan fans jalan kebenaran

بسم الله الرحمن الرحيم

01. MENGAPA DITAHDZIR? 

Telah berlalu lebih 1/2 tahun sejak tahdzir dan kritik terbuka Ustadz Abdullah Taslim, Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Zainal Abidin, Ustadz Abul Jauzaa dan asatidzah lainnya terhadap Ustadz Adi Hidayat tersebar melalui pelbagai media. Tahdzir tersebut berawal dari beberapa video yang memuat ceramah beliau yang dinilai tidak sejalan dengan manhaj ahlussunnah khususnya dalam masalah aqidah. Contohnya video dengan tema: 

Cara agar doa diterima 

•Takdir

•Sifat nuzul Allah

•Musik

•Riwayat, lafazh dan nomor hadits yang tidak sama dengan versi pengeceknya

•Manhaj Salafy MU NU

•dll.

Mengapa ditahdzir? 

1. Viewer beliau banyak kalangan awam, notabene baru mengaji dan belum benar-benar mengetahui aqidah dan manhaj salafush shalih. Retorika bagi mereka lebih utama ketimbang benar salah kontennya. Dikhawatirkan mereka tidak bisa menyaring mana pendapat yang salah dan yang benar sehingga ikut meyakini aqidah yang jelas menyimpang. 

2. Seorang da’i bisa mendapatkan dosa jariyah bila dia mengajarkan yang salah/menyimpang dan kesalahan itu diikuti orang. 

3. Gimmick bahasa pengulangan kata dan retorika beliau yang seolah jazm ( padahal tidak demikian), membuat asatidzah khawatir beliau dan para mad’u tidak menyadari akan kesalahan. 

4. Banyak ikhwan baru yang mengatakan beliau da’i bermanhaj salaf. Padahal kesalahan yang ada justru karena bertentangan dengan manhaj salafush shalih itu sendiri. Asatidzah yang mentahdzir mungkin tidak berhajat merilis tahdzir jika pemilik videonya adalah dari kalangan da’i artis, da’i pelawak atau da’i lintas profesi. Toh tipikal du’at seperti itu akan hilang dengan surutnya selera penonton dan datangnya da’i sejenis. 

. Namun ketika sang pengisi dikabarkan seorang da’i Salafy karena punya ceramah tentang Salafy (sudah kami tonton dan menunjukkan pengisinya tidak paham mengapa manhaj salaf itu ada), maka mereka pun bangkit menyingkap video-video syubuhat yang banyak ditonton umat. 

Alasan ke-4 ini zhahirnya ada pada asatidzah yang berseberangan dengan beliau. Buktinya kesalahan beliau sebenarnya juga ada pada du’at mantan musisi atau yang dikenal seorang shufiy. Tapi asatidzah nampak tidak bergegas membantah da’i seperti ini. 

02. KEINGINAN BERTEMU 

Pertengahan April 2017 melalui seorang ikhwan kami berusaha agar bisa bertemu beliau, karena kami ada jadwal mengisi kajian di Bekasi tanggal 20 April 2017. Ustadz Abdullah Taslim pun ketika itu menyanggupi, karena kebetulan pulang umroh. Qaddarallah pertemuan tidak bisa tercapai karena Ustadz Adi juga ada jadwal di New Zealand (kalau tidak salah info). Keinginan bertemu ini karena kami masih menyimpan asa adanya tanashuh dan saling meluruskan jika ada kekeliruan/salah paham. Mungkin saja kami yang tidak mengetahui maksud Ustadz Adi. 

03. PERTEMUAN HINGGA BUKU

Kami mendengar dari seorang ikhwan Jakarta bahwa Ustadz Firanda dan Ustadz Adi telah bertemu. Kami berprasangka baik bahwa kedua ustadz telah tafahum dan tabayyun, apapun hasilnya. 

Namun seiring waktu, ternyata Ustadz Adi menjawab kritik yang tersebar dengan merilis buku MTKE. 

Seorang ikhwan memberikannya kepada kami. 

Halaman demi halaman kami baca. Kami dapati di dalamnya banyak sanggahan dari Ustadz Adi yang kami nilai memang hasil missed-communication antar penulis dan pihak yang disanggahnya. Artinya sebagian masalah memang bisa selesai dengan komunikasi verbal, bukan tulisan. 

Contohnya: 

Screen shot SMS. Ini kami nilai sebagai bentuk miskomunikasi saja. Apalagi diikutcampuri oleh sebagian orang yang memang dikenal di media sosial sebagai plagiat dan tidak punya amanah ilmiah. Maksud Ustadz Adi dan pihak yang berseberangan sangat mungkin jadi bias. Mungkin jika mereka bertemu in syaa Allah selesai. 

Selembar demi selembar kami baca hingga bab terakhir yang melegakan. Kami dapati memang disana nampak sekali _gap_ (baca: jurang terjal) antara manhaj Ustadz Adi dengan asatidzah yang berseberangan dengan beliau. Artinya komunikasi verbal sekalipun nampaknya tidak menyelesaikan masalah. Paling tidak, butuh waktu lama dan pertemuan berulang-ulang dilengkapi notulasi pertemuan. 

Namun kami lega, karena MTKE menjadi bukti bahwa ini memang masalah manhajiy. Beliau jelas tidak seperti yang diklaim ikhwan baru ngaji. 

Selain membuka tabir manhaj penulisnya, MTKE sedikit banyak tercampur bahasan yang tidak nyambung. Nukilan tafsir yang dibawakannya mungkin benar. Tapi nukilan yang dibawakan tidak sinkron dengan maksud ustadz yang sedang dibantahnya. Contoh paling banyak ada pada pembahasan syubuhat “Cara baru dalam berdoa” (MTKE hal. 69). 

Ada pula konten yang jauh dari ilmiah dan seolah timbul akibat suuzhan belaka. 

Contohnya: 

Masalah posisi Ustadz Firanda saat memposting artikelnya, di Jakarta atau Madinah (MTKE hal. 80) yang diulangi lagi di hal. 103. Sebuah pengulangan yang mengindikasikan prasangka yang intentional. 

Ini jauh dari ilmiah karena beliau harusnya bisa berbaik sangka untuk urusan teknis. Bisa saja artikel ditulis di Jakarta dan diposting di Madinah atau sebaliknya, lalu penulis lupa mengganti kotanya. Pun setahu kami Ustadz Firanda domisili di Jakarta dan punya seorang admin website yang tinggal di Madinah. Maka sangat mungkin penulisan dan postingan webnya berbeda kota. Itu khilaf yang bisa terjadi apapun isi tulisannya dan siapapun penulisnya.

Kami pun membuat pengantar buku Syarah Ushul Tsalatsah kami di Makkah, namun diedit lagi di Balikpapan. Sementara nama kota sudah terlanjur ditulis. Untungnya ketika editing kami melihatnya. Bila tidak, pembaca yang tidak berbaik sangka bisa menuduh kami berdusta

Tidak ketinggalan pula standar ganda. Beliau jelas sangat keberatan ketika dituduh peminat popularitas (MTKE hal. 133). Tapi beliau tampaknya tidak ragu melempar batu dengan tangan orang, ketika pendukung wanitanya melontarkan tuduhan serupa kepada lawannya, bahkan dimuat dalam MTKE hal. 184 dengan bahasa kasar menjijikkan: Bini’ 3 penghasilan seret kalah pamor. 

Sisanya, MTKE jadi lebih terasa seperti buku tidak ilmiah ketika typo (salah ketik) VEDIO oleh Ustadz Zainal Abidin dibahas penulis berulang-ulang di beberapa tempat, seolah tak satu typo-pun ada dalam MTKE. Typo itu biasa. Ustadz Adi pun pasti pernah melakukannya. Rasanya sangat tidak perlu kami mengulas panjang lebar tentang EYD, struktur kalimat bahkan titik koma hanya demi meruntuhkan manhaj seorang Ustadz Adi Hidayat. 

(lanjut di halaman 2)